Editor
KOMPAS.com - Melempar jumrah menjadi salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji yang dilaksanakan di Mina.
Ritual ini dilakukan dengan melempar batu kerikil ke tiga titik jumroh, yakni jumrah ula, wustho, dan aqabah. Setiap jumroh dilempar sambil membaca takbir dan doa.
Melempar jumroh bukan sekadar gerakan fisik melempar batu, tetapi juga menjadi simbol keteguhan iman dalam melawan bisikan setan dan hawa nafsu.
Baca juga: Komisi VIII DPR Ingatkan Kemenag Antisipasi Pergerakan Jemaah Haji Saat Lempar Jumroh
Dalam bahasa Arab, jumrah ialah batu kerikil kecil dan bentuk jamaknya jamarat.
Secara istilah berarti melempar atau melontar dengan batu kerikil yang diambil ketika mabit ke sasaran tempat jumrah atau marma.
Hukum melempar Jumrah Aqabah dan melempar jumrah pada hari-hari tasyriq adalah wajib yang apabila tidak dikerjakan maka wajib membayar dam.
Dalam pelaksanaan ibadah haji, terdapat tiga jenis jumroh yang dilempar jamaah, yaitu jumroh ula, jumroh wustho, dan jumroh aqabah.
Masing-masing jumroh dilakukan dengan melempar tujuh batu kerikil pada waktu yang telah ditentukan dalam rangkaian haji di Mina.
Kerikil yang dilempar harus mengenai marma (dinding jumrah) dan masuk ke lubang yang tersedia. Bila batu meleset atau terpental keluar, jemaah wajib mengulangi lemparan.
Sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, memberikan teladan membaca takbir setiap kali melempar satu batu kerikil.
Dalam riwayat yang dinukil dari kitab Ad-Du’a karya Imam ath-Thabrani disebutkan bahwa Ibnu Umar membaca:
اَلله أَكْبَرُ
Artinya: “Allah Mahabesar.”
Takbir tersebut dibaca pada setiap lemparan jumroh sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.
Setelah membaca takbir, Abdullah bin Umar melanjutkan dengan membaca doa berikut:
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur dan dosa yang diampuni.” (HR Thabrani)
Riwayat yang sama juga terdapat dalam kitab Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi dan Al-Musannaf karya Ibnu Abi Syaibah.
Dalam riwayat lain disebutkan hadis tersebut juga diriwayatkan dari Ibrahim an-Nakha‘i.
Dikisahkan Mughirah pernah bertanya kepada Ibrahim an-Nakha‘i mengenai doa yang dibaca ketika melempar jumroh.
Ibrahim kemudian menjawab agar membaca doa yang sama seperti yang diajarkan Abdullah bin Umar.
Doa saat melempar jumroh memang singkat, tetapi memiliki makna yang mendalam bagi jamaah haji.
Setiap lemparan batu menjadi simbol perjuangan melawan godaan setan, dosa, dan kelalaian yang selama ini membelenggu hati seorang mukmin.
Karena itu, ritual jumroh tidak hanya dimaknai sebagai rangkaian ibadah fisik, tetapi juga menjadi momentum spiritual untuk memohon ampunan dan berharap memperoleh haji yang mabrur di sisi Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang