Editor
KOMPAS.com - Dzikir setelah shalat merupakan amalan sunnah yang dianjurkan sebagai penyempurna ibadah setelah menunaikan shalat wajib.
Selain menjadi bentuk syukur kepada Allah SWT, dzikir juga menjadi sarana untuk memperbanyak mengingat-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya, serta menghadirkan ketenangan hati.
Berikut adalah tuntunan dzikir setelah shalat dan berbagai keutamaannya, yang dirangkum Kompas.com dari berbagai sumber.
Baca juga: Dzikir, Doa, dan Amalan Setelah Shalat Dhuha untuk Memohon Rezeki dan Keberkahan
Ada urutan dzikir yang umum diajarkan dan diamalkan, mulai dari istighfar, tasbih, tahmid, hingga takbir.
Berikut ini urutan bacaan dzikir setelah shalat fardhu, yang dianjurkan berdasarkan informasi yang telah dihimpun dari berbagai sumber.
Baca juga: Doa dan Dzikir 1 Muharram 2026, Amalan Awal Tahun Memohon Ampunan
Dzikir setelah shalat diawali dengan membaca istighfar sebanyak tiga kali.
Bacaan ini bertujuan memohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa sekaligus memohon agar Allah menutupi kekurangan dan kekhilafan yang telah dilakukan selama beribadah.
Membaca istighfar juga menjadi bentuk kerendahan hati seorang hamba yang menyadari bahwa ibadahnya belum tentu sempurna dan masih membutuhkan ampunan Allah.
Bacaan ini berisi pujian kepada Allah SWT sebagai sumber keselamatan dan kedamaian. Tujuannya adalah memohon agar Allah melimpahkan keselamatan, keberkahan, serta ketenangan hidup di dunia dan akhirat setelah menunaikan shalat.
Dzikir dilanjutkan dengan membaca tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), dan takbir (Allahu Akbar), masing-masing sebanyak 33 kali, kemudian disempurnakan menjadi 100 dengan bacaan tahlil.
Rangkaian dzikir ini bertujuan mengagungkan Allah, mensucikan-Nya dari segala kekurangan, serta mensyukuri seluruh nikmat yang telah diberikan.
Dalam hadis Rasulullah SAW, amalan ini menjadi sebab diampuninya dosa-dosa meskipun sebanyak buih di lautan apabila dibaca dengan ikhlas setelah shalat fardu.
Setelah tasbih, tahmid, dan takbir, dianjurkan membaca tahlil. Tahlil bertujuan meneguhkan tauhid dan mengakui bahwa hanya Allah SWT yang berhak disembah.
Bacaan ini juga menjadi pengingat bahwa seluruh kerajaan, pujian, dan kekuasaan hanya milik Allah semata sehingga memperkuat keimanan seorang Muslim.
Membaca Ayat Kursi setelah shalat merupakan amalan yang sangat dianjurkan. Tujuannya adalah mengagungkan kebesaran Allah SWT sekaligus memohon perlindungan-Nya.
Dalam hadis disebutkan bahwa siapa yang membaca Ayat Kursi setiap selesai shalat fardu, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian. Karena itu, bacaan ini menjadi salah satu dzikir yang memiliki keutamaan besar.
Dzikir ditutup dengan membaca Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Ketiga surat yang dikenal sebagai Al-Mu'awwidzat ini bertujuan memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai keburukan, gangguan setan, penyakit, serta segala bentuk kejahatan yang tampak maupun yang tersembunyi.
Rasulullah SAW menganjurkan membaca ketiga surat tersebut setelah shalat sebagai bentuk ikhtiar menjaga diri dengan perlindungan Allah serta memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada-Nya.
Berikut ini urutan bacaan dzikir setelah shalat fardhu, yang dianjurkan berdasarkan informasi yang telah dihimpun dari berbagai sumber.
Dzikir setelah shalat dapat dimulai dengan membaca istighfar sebanyak tiga kali.
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِـيْمِ الَّذِيْ لَااِلَهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Latin: Astaghfirullahal’adzim, Alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyumu wa atubu ilaihi
Artinya: “Aku minta ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya.”
Setelah itu, dzikir dapat dilanjutkan dengan bacaan berikut:
للَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامُ فَحَيِّنَارَبَّنَا بِالسَّلَامِ وَاَدْخِلْنَا الْـجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَا ذَاالْـجَلَالِ وَاْلإِكْرَام.
Latin: Allahumma angtassalamu wa mingkassalamu wa ilaika ya’uwdussalamu, fakhayyina rabbana bissalamu wa adkhilnaljannata darassalami tabarakta rabbana wa ta’alaita yadzaljalali wal ikraam.
Artinya: “Wahai Allah! Engkaulah pemilik kedamaian, dari Engkaulah kedamaian, dan kepada Engkaulah kembalinya kedamaian. Oleh karena itu, hidupkanlah kami wahai Tuhan kami dengan penuh kedamaian. Masukanlah kami ke dalam surga, tempat kedamaian. Engkau, ya Tuhan kami, Maha Suci dan Maha Tinggi, Wahai zat yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.”
Dzikir dapat dilanjutkan dengan membaca tasbih, tahmid, dan takbir.
Bacaan tasbih:
سُبْحَانَ الله
Latin: Subhanallah
Artinya: "Maha Suci Allah."
Bacaan tahmid:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
Latin: Alhamdulillah
Artinya: "Segala Puji Bagi Allah."
Bacaan takbir:
اللَّهُ أَكْبَرُ
Latin: Allahu Akbar
Artinya: "Allah Maha Besar."
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Latin: Laa ilaaha illallah
Artinya: "Tidak ada Tuhan selain Allah."
اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ەۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
Latin: allâhu lâ ilâha illâ huw, al-ḫayyul-qayyûm, lâ ta'khudzuhû sinatuw wa lâ na'ûm, lahû mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, man dzalladzî yasyfa‘u ‘indahû illâ bi'idznih, ya‘lamu mâ baina aidîhim wa mâ khalfahum, wa lâ yuḫîthûna bisyai'im min ‘ilmihî illâ bimâ syâ', wasi‘a kursiyyuhus-samâwâti wal-ardl, wa lâ ya'ûduhû ḫifdhuhumâ, wa huwal-‘aliyyul-‘adhîm
Artinya: Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Surat Al-Ikhlas
قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ (١) ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ (٢) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣) وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌ (٤)
Latin: Qul huwallāhu aḥad (1) Allāhuṣ-ṣamad (2) Lam yalid wa lam yūlad (3) Wa lam yakul lahū kufuwan aḥad (4).
Artinya: Katakanlah (Muhammad), "Dialah Allah Yang Maha Esa." (1) Allah tempat meminta segala sesuatu (2) Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan (3) Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya (4).
Surat Al-Falaq
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ (١) مِن شَرِّ مَا خَلَقَ (٢) وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (٣) وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ (٤) وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (٥)
Latin: Qul a‘ūdzu birabbil-falaq (1) Min syarri mā khalaq (2) Wa min syarri ghāsiqin idzā waqab (3) Wa min syarrin-naffāṡāti fil-'uqad (4) Wa min syarri ḥāsidin idzā ḥasad (5).
Artinya: Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh." (1) Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan (2) Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita (3) Dan dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya) (4) Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki (5).
Surat An-Nas
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ (١) مَلِكِ ٱلنَّاسِ (٢) إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ (٣) مِن شَرِّ ٱلْوَسْوَاسِ ٱلْخَنَّاسِ (٤) ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ (٥) مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ (٦)
Latin: (1) Qul a‘ūdzu birabbin-nās. (2) Malikin-nās. (3) Ilāhin-nās. (4) Min syarril-waswāsil-khannās. (5) Alladzī yuwaswisu fī ṣudūrin-nās. (6) Minal-jinnati wan-nās.
Artinya: (1) Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan manusia." (2) Raja manusia. (3) Sembahan manusia. (4) Dari kejahatan (setan) yang bersembunyi. (5) Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. (6) Dari (golongan) jin dan manusia.
Berikut bacaan doa setelah shalat wajib sesuai urutan yang bisa diamalkan.
اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْئَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Latin: Allāhumma innī as’alukal ‘afwa wal ‘āfiyah fid dīni wad duniyā wal ākhirah. Walhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.
Artinya: “Ya Allah, sungguh, aku memohon kepada-Mu maaf dan kekuatan pada agama, dunia, dan akhirat. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam,”
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Latin: Rabbanā, ātinā fid dunyā hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār
Artinya: “Tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka.”
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
Latin:
Allāhumma innī a‘ūdzu bika min ‘adzābi Jahannam, wa min ‘adzābil-qabri, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāt, wa min syarri fitnatil-Masīḥid-Dajjāl.
Artinya:
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal."
Anjuran dzikir setelah shalat tercantum dalam Al-Quran dan hadits. Berikut di antaranya:
Setelah sholat dipercayai sebagai waktu yang mustajab untuk berdoa agar terkabul. Keutamaan berdoa dan berdzikir setelah shalat juga termuat dalam surah Al-Ghafir ayat 60, Allah SWT bersabda.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِر
Artinya: "Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan). Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk (neraka) Jahanam dalam keadaan hina dina.”
Anjuran untuk memperbanyak dzikir ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur'an, salah satunya pada Surah Al-Ahzab ayat 41:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya."
Selain itu, anjuran berdzikir setelah melaksanakan shalat secara khusus disebutkan dalam firman Allah SWT, di antaranya Surah An-Nisa ayat 103 dan Surah Al-Jumu'ah ayat 10.
Surah An-Nisa ayat 103:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا ٱطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًا مَّوْقُوتًا
Artinya: "Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."
Hal tersebut juga termuat dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Jarir, ia berkata, ‘Amr telah berkata padaku bahwa Abu Ma’bad –bekas budak Ibnu ‘Abbas- mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ
Artinya: “Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.” (HR. Bukhari no. 805 dan Muslim no. 583)
Ada beeberapa keutamaan yang didapat apabila mengerjakan dzikir setiap selesai shalat.
Allah Ta’ala akan ampunkan dosa walaupun sebanyak buih dalam lautan. Maasyaa Allah begitu besar kemurahan Allah Ta’ala. Sebagaimana hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Malik:
مَنْ سَبَّحَ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَخَتَمَ الْمِائَةَ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ ذُنُوبُهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Artinya: ‘Siapa yang bertasbih, bertahmid, dan bertakbir setelah shalat sebanyak 33 kali dan menutupnya dengan membaca lâ ilâha illallâh lâ syarîka lahu lahul mulku wa lahulhamdu wa huwa ‘alâ kulli syai’in qadîr, maka dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan,” (HR Imam Malik).
Dengan berdzikir hati akan menjadi tenang, sebagaimana dalam Quran surat Arra’du ayat 28:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenang.
Membaca doa perlindungan ini merupakan salah satu sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW, terutama pada akhir tasyahud sebelum salam.
Mengamalkannya secara rutin menjadi bentuk ketaatan kepada sunnah Nabi sekaligus membuka peluang memperoleh pahala dari Allah SWT.
Semakin istiqamah seseorang mengamalkannya, semakin besar pula harapan mendapatkan ganjaran atas ibadah yang dilakukan.
Doa ini mengajarkan seorang muslim untuk senantiasa bergantung kepada Allah SWT dalam memohon perlindungan dari berbagai fitnah dan azab.
Dengan terus memanjatkan doa tersebut, hati akan semakin sadar akan kelemahan diri dan semakin bertawakal kepada Allah.
Kebiasaan berdoa dan memohon perlindungan kepada-Nya juga menjadi salah satu cara mempererat hubungan spiritual serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan.
Dzikir dan doa setelah shalat dianjurkan dibaca segera setelah salam dengan menjaga adab yang sesuai agar ibadah semakin khusyuk dan memberikan manfaat spiritual yang lebih optimal.
Dzikir dan doa dianjurkan dibaca segera setelah mengucapkan salam sebagai penutup shalat. Waktu ini menjadi momen yang dianjurkan untuk memperbanyak pujian, istighfar, dan doa kepada Allah SWT sebagai penyempurna ibadah yang baru saja ditunaikan.
Dzikir hendaknya dibaca dengan hati yang hadir, penuh penghayatan, serta memahami makna bacaan yang diucapkan. Kekhusyukan saat berdzikir dapat membantu seorang muslim merasakan ketenangan hati sekaligus memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Membiasakan dzikir setelah setiap shalat fardu merupakan amalan yang dianjurkan Rasulullah SAW. Konsistensi dalam berdzikir akan melatih lisan untuk senantiasa mengingat Allah serta menjadikan ibadah sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari.
Membaca dzikir dan doa setelah shalat merupakan amalan sunnah yang menyempurnakan ibadah sekaligus memperbanyak ingatan kepada Allah SWT.
Amalan ini membawa banyak keutamaan, seperti mendatangkan ketenangan hati, memohon ampunan, serta menjadi sarana meraih pahala dan perlindungan dari Allah.
Dengan mengamalkannya secara rutin, seorang muslim diharapkan semakin dekat kepada Allah dan mampu menjaga kualitas keimanan dalam kehidupan sehari-hari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang