Editor
KOMPAS.com - Shalat Istisqa merupakan salat sunnah yang dikerjakan untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT ketika terjadi kemarau panjang.
Pelaksanaan Shalat Istisqa dilakukan dengan rangkaian ibadah yang meliputi persiapan sebelum salat, shalat berjamaah, khutbah, istighfar, dan doa memohon hujan.
Shalat Istisqa dapat menjadi ikhtiar umat Islam untuk meminta hujan ketika kekeringan menimbulkan berbagai dampak, seperti kekurangan air, gagal panen, kebakaran hutan dan lahan, hingga memburuknya kualitas udara.
Baca juga: Shalat Istisqa di Kaltim Hari Ini Digalar di 3 Lokasi: Samarinda, Balikpapan dan Kukar
Shalat Istisqa dikerjakan sebanyak dua rakaat secara berjamaah di tempat terbuka. Tata cara Shalat Istisqa menyerupai Shalat Idul Fitri atau Shalat Idul Adha, termasuk jumlah takbir tambahan pada setiap rakaat.
Pada rakaat pertama, imam melakukan takbir sebanyak tujuh kali setelah takbiratul ihram. Sementara pada rakaat kedua, imam melakukan takbir sebanyak lima kali.
Setelah itu, Shalat Istisqa dilanjutkan dengan membaca surah, rukuk, sujud, duduk tahiyat, hingga salam seperti pelaksanaan shalat pada umumnya.
Baca juga: Shalat Istisqa Pontianak, KH Ahmad Zamroni Ajak Warga Introspeksi dan Hentikan Pembakaran Lahan
Sebelum melaksanakan Shalat Istisqa, jamaah membaca niat sebagai berikut:
Arab
أُصَلِّي سُنَّةَ الإِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا/مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Ushallī sunnatal-istisqā’i rak‘ataini mustaqbilal-qiblati imāman/makmūman lillāhi ta‘ālā.
Arti: “Aku niat shalat sunnah Istisqa dua rakaat menghadap kiblat sebagai imam/makmum karena Allah Ta’ala.”
Tata cara Shalat Istisqa dilaksanakan secara berjamaah di tempat terbuka. Sebelum shalat, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal kebajikan, bertaubat, beristighfar, bersedekah, serta meninggalkan perbuatan maksiat.
Berikut tata cara Shalat Istisqa:
Khutbah Shalat Istisqa disampaikan setelah pelaksanaan dua rakaat. Khutbah terdiri dari dua bagian yang disampaikan dengan berdiri dan diselingi satu kali duduk di antara kedua khutbah.
Tata cara dan rukun khutbah Shalat Istisqa pada dasarnya sama seperti khutbah Shalat Id. Pada khutbah pertama, khatib membaca takbir sebanyak sembilan kali, sedangkan pada khutbah kedua membaca takbir sebanyak tujuh kali.
Dalam khutbah Shalat Istisqa, khatib dianjurkan mengajak jamaah untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT. Jamaah juga dianjurkan memperbanyak istighfar sebagai bentuk permohonan agar Allah SWT memberikan pertolongan dan menurunkan hujan.
Selain menyampaikan nasihat dan ajakan memperbanyak istighfar, khatib juga disunnahkan membaca doa pada akhir setiap khutbah. Doa tersebut menjadi bagian dari rangkaian Shalat Istisqa karena berisi permohonan agar hujan segera turun dan memberikan manfaat.
Pada akhir khutbah, khatib disunnahkan menghadap kiblat ketika memanjatkan doa. Khatib juga mengangkat kedua tangan saat berdoa dan menukar posisi selendang atau sorban yang dikenakan di pundaknya.
Rangkaian tersebut merupakan bagian dari tata cara doa dalam Shalat Istisqa. Jamaah kemudian mengikuti doa yang dipanjatkan khatib dengan penuh pengharapan agar hujan segera diturunkan.
Berikut bacaan doa Shalat Istisqa:
Arab
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِاللهم اسقنا، اللهم اسقنا، اللهم اسقنا، وفي لفظ: اللهم أغثنا، اللهم أغثنا، اللهم أغثنا.
اللهم اسقنا غيثًا مغيثًا، مريعًا، نافعًا غير ضار، عاجلاً غير آجل.
الحمد لله رب العالمين، الرحمن الرحيم، ملك يوم الدين، لا إله إلا الله يفعل ما يريد، اللهم أنت الله لا إله إلا أنت الغني ونحن الفقراء، أنزل علينا الغيث واجعل ما أنزلت لنا قوة وبلاغًا إلى حين.
اللهم اسق عبادك، وبهائمك، وانشر رحمتك، وأحيي بلدك الميت.
اللهم اسقنا غيثًا مريئًا مريعًا طبقًا عاجلاً غير رائث، نافعًا غير ضار.
Latin: Allahumma asqina, Allahumma asqina, Allahumma asqina. Wa fi lafzhin: Allahumma aghitsna, Allahumma aghitsna, Allahumma aghitsna.
Allahumma asqina ghaītsan mugītsan, marī’an, nāfi’an ghaira dhārrin, ‘ājilan ghaira ājil.
Alhamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn, ar-Rahmānir-Rahīm, maliki yaumid-dīn, lā ilāha illallāhu yaf‘alu mā yurīd. Allāhumma antal-lāhu lā ilāha illā anta, antal-ghaniyyu wa naḥnul-fuqarā’, anzil ‘alainal-ghaitsa waj‘al mā anzalta lanā quwwatan wa balāghan ilā ḥīn.
Allāhumma asqi ‘ibādaka, wa bahā’imaka, wansyur raḥmataka, wa aḥyi baladakal-mayyit.
Allāhumma asqinā ghaītsan marī’an marī’an ṭabaqan ‘ājilan ghaira rā’its, nāfi’an ghaira dhār.
Doa: “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.” Dalam lafaz lain: “Ya Allah, berilah kami pertolongan. Ya Allah, berilah kami pertolongan. Ya Allah, berilah kami pertolongan.
Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang memberikan pertolongan, menyuburkan, bermanfaat dan tidak membahayakan, serta segera dan tidak ditunda.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Tidak ada Tuhan selain Allah, Dia melakukan apa yang Dia kehendaki. Ya Allah, Engkaulah Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau Mahakaya, sedangkan kami adalah orang-orang yang membutuhkan. Turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan bagi kami sebagai kekuatan dan bekal sampai suatu waktu.
Ya Allah, berilah minum hamba-hamba-Mu dan hewan-hewan-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang telah mati.
Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menyegarkan, menyuburkan, merata, segera dan tidak terlambat, serta bermanfaat dan tidak membahayakan.”
Shalat Istisqa dilaksanakan ketika masyarakat mengalami kemarau panjang dan membutuhkan turunnya hujan.
Adapun waktu pelaksanaan shalat istisqa adalah di siang hari, sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari istri beliau, Aisyah Ra.:
خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم حين بدا حاجب الشمس
Dalam hadits ini Rasulullah Saw mengerjakan shalat istisqa setelah matahari muncul di atas permukaan bumi, seperti waktu dimulainya salat Idul Fitri atau idul Adha.
Para ulama berpendapat shalat istisqa dapat dikerjakan hingga sore hari, asalkan tidak pada waktu diharamkan mengerjakan shalat, yaitu pas matahari di atas kepala dan pas terbenam matahari.
Shalat Istisqa dilaksanakan di tempat terbuka dan secara berjamaah. Sebelum pelaksanaan, umat Islam dianjurkan melakukan taubat, memperbanyak istighfar, bersedekah, dan meninggalkan berbagai perbuatan maksiat.
Shalat Istisqa memiliki dasar dari tuntunan Nabi Muhammad SAW ketika umat mengalami kekeringan dan membutuhkan hujan.
Salat istisqa' telah dipraktikkan di zaman Rasulullah Saw. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. disebutkan:
خرج النبي صلى الله عليه وسلم يوماً يستسقي فصلى بنا ركعتين بلا أذان ولا إقامة ثم خطبنا ودعا الله عز وجل وحول وجهه نحو القبلة رافعاً يديه ثم قلب ردائه فجعل الأيمن الأيسر والأيسر الأيمن
Artinya: Nabi Muhammad Saw keluar rumah pada suatu hari untuk memohon diturunkan hujan, lalu beliau salat dua rekaat bersama kita tanpa azdan dan iqamat, kemudian beliau berdiri untuk khutbah dan memanjatkan doa kepada Allah Swt dan seketika itu beliau mengalihkan wajahnya (dari semula menghadap ke arah hadirin) menghadap ke kiblat serta mengangkat kedua tangannya, serta membalikkan selendang sorbannya, dari pundak kanan ke pundak kiri, begitupun ujung sorbannya (HR. Imam Ahmad).
Pelaksanaan ibadah tersebut menjadi bentuk permohonan kepada Allah SWT agar memberikan hujan sebagai rahmat dan memenuhi kebutuhan manusia serta makhluk hidup lainnya. Hal ini seperti tercantum dalam surah Nuh ayat 10-12:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ ١٠ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ ١١ وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ ١٢
Artinya: "Maka aku berkata (kepada mereka), "Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu."
Dalam pelaksanaannya, umat Islam tidak hanya memohon hujan melalui doa, tetapi juga dianjurkan melakukan introspeksi, bertaubat, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Shalat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar umat Islam ketika menghadapi kemarau panjang. Rangkaian ibadahnya mencakup persiapan sebelum shalat, shalat berjamaah dua rakaat, khutbah, istighfar, dan doa untuk memohon hujan yang bermanfaat.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT