Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Arti Labbaik Allahumma Labbaik, Waktu Membaca, dan Rahasia di Baliknya

Kompas.com, 23 April 2026, 10:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di antara rangkaian ibadah haji dan umrah, ada satu kalimat yang terus menggema dari jutaan lisan kaum muslimin di Tanah Suci, yaitu talbiyah.

Lafal “Labbaik Allahumma Labbaik” bukan sekadar bacaan ritual, melainkan pernyataan spiritual yang sarat makna, sebuah jawaban langsung atas panggilan Allah SWT kepada hamba-Nya.

Namun, sejauh mana kita benar-benar memahami arti, waktu, dan keutamaan talbiyah? Di balik lafaz yang berulang itu, tersimpan pesan tauhid, kepatuhan, dan penghambaan yang mendalam.

Baca juga: Talbiyah Tak Boleh Sembarangan! Ini Perbedaan Cara Bacanya untuk Laki-laki dan Perempuan

Bacaan Talbiyah dan Artinya

Talbiyah dibaca sejak seseorang berniat ihram, baik untuk haji maupun umrah. Berikut lafaz lengkapnya:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Labbaik allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, laa syariika lak.

Artinya: “Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”

Secara bahasa, kata “labbaik” mengandung makna kesiapan, ketaatan, dan kesungguhan dalam memenuhi panggilan. Ini bukan hanya ucapan, tetapi komitmen total seorang hamba kepada Tuhannya.

Makna Filosofis Talbiyah: Jawaban atas Panggilan Ilahi

Talbiyah berakar dari perintah Allah dalam Al-Qur’an agar manusia menunaikan ibadah haji. Dalam Surah Al-Hajj ayat 27, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyeru manusia agar datang berhaji.

Seruan itulah yang diyakini terus bergema hingga hari ini, dan talbiyah menjadi jawaban setiap muslim atas panggilan tersebut.

Dalam buku Fiqh As-Sunnah karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa talbiyah merupakan simbol tauhid murni, karena di dalamnya terdapat penegasan “laa syariika lak” (tidak ada sekutu bagi-Mu) yang diulang dua kali.

Ini menunjukkan bahwa inti ibadah haji adalah memurnikan penghambaan hanya kepada Allah SWT.

Sementara itu, dalam Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah karya Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi, disebutkan bahwa talbiyah juga menjadi bentuk deklarasi bahwa seluruh nikmat, pujian, dan kekuasaan hanya milik Allah, bukan selain-Nya.

Baca juga: Bacaan Talbiyah Haji & Salawat: Arab, Latin, dan Artinya

Waktu Membaca Talbiyah: Kapan Dimulai dan Diakhiri?

Talbiyah dimulai sejak seseorang berniat ihram di miqat. Bacaan ini terus dilantunkan sepanjang perjalanan ibadah hingga mencapai puncaknya.

Menurut penjelasan ulama dalam berbagai kitab fikih:

  • Dimulai: Saat niat ihram
  • Berlangsung: Sepanjang perjalanan menuju Makkah dan selama rangkaian ibadah
  • Berakhir: Saat melempar jumrah Aqabah pada 10 Zulhijah (lemparan pertama)

Hal ini sejalan dengan riwayat hadis yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW terus membaca talbiyah hingga beliau melakukan lempar jumrah.

Dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menegaskan bahwa memperbanyak talbiyah adalah sunnah yang sangat dianjurkan selama ihram, baik dalam kondisi berjalan, duduk, naik kendaraan, maupun setelah salat.

Dianjurkan Dibaca Lantang: Menghidupkan Syiar

Salah satu hal yang sering menjadi perhatian ulama adalah cara melafalkan talbiyah. Mayoritas ulama menganjurkan agar talbiyah dibaca dengan suara lantang, khususnya bagi laki-laki.

Dalam hadis riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban, Rasulullah SAW bersabda:

"Wahai keluarga Muhammad, barang siapa yang berhaji, maka hendaklah ia mengeraskan suaranya dalam bertalbiyah."

Riwayat lain dari Imam Tirmidzi menyebutkan bahwa Malaikat Jibril AS memerintahkan Nabi untuk menyuruh para sahabat mengeraskan suara talbiyah.

Dalam buku Ensiklopedi Fikih Haji dan Umrah karya Abdul Aziz Muhammad Azzam, dijelaskan bahwa suara lantang dalam talbiyah bukan sekadar teknis, tetapi bagian dari syiar Islam yang menunjukkan semangat ibadah dan kebersamaan umat.

Baca juga: Bacaan Talbiyah Haji dan Umrah Labbaik Allahumma Labbaik, Lengkap dengan Waktu Melafalkan dan Keutamaannya

Keutamaan Talbiyah yang Jarang Diketahui

Talbiyah tidak hanya bernilai sebagai bacaan ritual, tetapi juga memiliki keutamaan besar yang sering luput dari perhatian.

Pertama, talbiyah menjadi tanda keikhlasan dan tauhid. Setiap pengulangan lafaznya memperkuat kesadaran bahwa hanya Allah yang layak disembah.

Kedua, talbiyah menghadirkan kesaksian seluruh makhluk. Dalam hadis riwayat Ibnu Majah disebutkan bahwa tidaklah seorang muslim bertalbiyah, kecuali apa yang ada di sekitarnya, baik batu, pohon, hingga tanah ikut bersaksi atas talbiyahnya.

Ketiga, talbiyah menghapus dosa. Dalam beberapa penjelasan ulama, ibadah haji yang disertai talbiyah dengan penuh keikhlasan menjadi salah satu sebab diampuninya dosa-dosa.

Keempat, talbiyah memperkuat kesadaran spiritual. Pengulangan kalimat ini membawa hati pada kondisi tunduk, rendah, dan sepenuhnya bergantung kepada Allah.

Talbiyah Bukan Sekadar Bacaan, Tapi Perjalanan Batin

Di tengah jutaan jamaah yang melantunkan talbiyah di Tanah Suci, sesungguhnya setiap individu sedang menempuh perjalanan batin masing-masing. Kalimat yang sama, tetapi bisa menghadirkan pengalaman spiritual yang berbeda.

Talbiyah adalah pengakuan, bahwa hidup ini adalah panggilan dan setiap manusia adalah penjawabnya.

Ia bukan hanya dilafalkan saat haji atau umrah, tetapi juga bisa dimaknai sebagai sikap hidup, siap taat kapan pun Allah memanggil.

Di situlah letak kekuatan talbiyah, sederhana dalam lafaz, namun luas dalam makna.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar