KOMPAS.com – Di antara rangkaian ibadah haji dan umrah, ada satu kalimat yang terus menggema dari jutaan lisan kaum muslimin di Tanah Suci, yaitu talbiyah.
Lafal “Labbaik Allahumma Labbaik” bukan sekadar bacaan ritual, melainkan pernyataan spiritual yang sarat makna, sebuah jawaban langsung atas panggilan Allah SWT kepada hamba-Nya.
Namun, sejauh mana kita benar-benar memahami arti, waktu, dan keutamaan talbiyah? Di balik lafaz yang berulang itu, tersimpan pesan tauhid, kepatuhan, dan penghambaan yang mendalam.
Baca juga: Talbiyah Tak Boleh Sembarangan! Ini Perbedaan Cara Bacanya untuk Laki-laki dan Perempuan
Talbiyah dibaca sejak seseorang berniat ihram, baik untuk haji maupun umrah. Berikut lafaz lengkapnya:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ
Labbaik allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, laa syariika lak.
Artinya: “Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”
Secara bahasa, kata “labbaik” mengandung makna kesiapan, ketaatan, dan kesungguhan dalam memenuhi panggilan. Ini bukan hanya ucapan, tetapi komitmen total seorang hamba kepada Tuhannya.
Talbiyah berakar dari perintah Allah dalam Al-Qur’an agar manusia menunaikan ibadah haji. Dalam Surah Al-Hajj ayat 27, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyeru manusia agar datang berhaji.
Seruan itulah yang diyakini terus bergema hingga hari ini, dan talbiyah menjadi jawaban setiap muslim atas panggilan tersebut.
Dalam buku Fiqh As-Sunnah karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa talbiyah merupakan simbol tauhid murni, karena di dalamnya terdapat penegasan “laa syariika lak” (tidak ada sekutu bagi-Mu) yang diulang dua kali.
Ini menunjukkan bahwa inti ibadah haji adalah memurnikan penghambaan hanya kepada Allah SWT.
Sementara itu, dalam Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah karya Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi, disebutkan bahwa talbiyah juga menjadi bentuk deklarasi bahwa seluruh nikmat, pujian, dan kekuasaan hanya milik Allah, bukan selain-Nya.
Baca juga: Bacaan Talbiyah Haji & Salawat: Arab, Latin, dan Artinya
Talbiyah dimulai sejak seseorang berniat ihram di miqat. Bacaan ini terus dilantunkan sepanjang perjalanan ibadah hingga mencapai puncaknya.
Menurut penjelasan ulama dalam berbagai kitab fikih:
Hal ini sejalan dengan riwayat hadis yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW terus membaca talbiyah hingga beliau melakukan lempar jumrah.
Dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, Imam Nawawi menegaskan bahwa memperbanyak talbiyah adalah sunnah yang sangat dianjurkan selama ihram, baik dalam kondisi berjalan, duduk, naik kendaraan, maupun setelah salat.
Salah satu hal yang sering menjadi perhatian ulama adalah cara melafalkan talbiyah. Mayoritas ulama menganjurkan agar talbiyah dibaca dengan suara lantang, khususnya bagi laki-laki.
Dalam hadis riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban, Rasulullah SAW bersabda:
"Wahai keluarga Muhammad, barang siapa yang berhaji, maka hendaklah ia mengeraskan suaranya dalam bertalbiyah."
Riwayat lain dari Imam Tirmidzi menyebutkan bahwa Malaikat Jibril AS memerintahkan Nabi untuk menyuruh para sahabat mengeraskan suara talbiyah.
Dalam buku Ensiklopedi Fikih Haji dan Umrah karya Abdul Aziz Muhammad Azzam, dijelaskan bahwa suara lantang dalam talbiyah bukan sekadar teknis, tetapi bagian dari syiar Islam yang menunjukkan semangat ibadah dan kebersamaan umat.
Talbiyah tidak hanya bernilai sebagai bacaan ritual, tetapi juga memiliki keutamaan besar yang sering luput dari perhatian.
Pertama, talbiyah menjadi tanda keikhlasan dan tauhid. Setiap pengulangan lafaznya memperkuat kesadaran bahwa hanya Allah yang layak disembah.
Kedua, talbiyah menghadirkan kesaksian seluruh makhluk. Dalam hadis riwayat Ibnu Majah disebutkan bahwa tidaklah seorang muslim bertalbiyah, kecuali apa yang ada di sekitarnya, baik batu, pohon, hingga tanah ikut bersaksi atas talbiyahnya.
Ketiga, talbiyah menghapus dosa. Dalam beberapa penjelasan ulama, ibadah haji yang disertai talbiyah dengan penuh keikhlasan menjadi salah satu sebab diampuninya dosa-dosa.
Keempat, talbiyah memperkuat kesadaran spiritual. Pengulangan kalimat ini membawa hati pada kondisi tunduk, rendah, dan sepenuhnya bergantung kepada Allah.
Di tengah jutaan jamaah yang melantunkan talbiyah di Tanah Suci, sesungguhnya setiap individu sedang menempuh perjalanan batin masing-masing. Kalimat yang sama, tetapi bisa menghadirkan pengalaman spiritual yang berbeda.
Talbiyah adalah pengakuan, bahwa hidup ini adalah panggilan dan setiap manusia adalah penjawabnya.
Ia bukan hanya dilafalkan saat haji atau umrah, tetapi juga bisa dimaknai sebagai sikap hidup, siap taat kapan pun Allah memanggil.
Di situlah letak kekuatan talbiyah, sederhana dalam lafaz, namun luas dalam makna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang