KOMPAS.com - Surah Al-Qasas ayat 24 memuat doa Nabi Musa AS ketika berada dalam kondisi sulit setelah meninggalkan Mesir. Doa yang berbunyi Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir ini berisi pengakuan bahwa manusia membutuhkan kebaikan dan pertolongan Allah SWT.
Doa tersebut tidak hanya berkaitan dengan rezeki materi, tetapi juga mengajarkan kerendahan hati ketika menghadapi ketidakpastian. Kisah Nabi Musa dalam ayat ini memperlihatkan bahwa doa berjalan beriringan dengan ikhtiar dan kepedulian terhadap sesama.
Allah berfirman dalam Surah Al-Qasas ayat 24:
فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰىٓ اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ
Fa saqā lahumā ṡumma tawallā ilaẓ-ẓilli fa qāla rabbi innī limā anzalta ilayya min khairin faqīr.
Baca juga:
Artinya: “Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan apa pun yang Engkau turunkan kepadaku.’” (QS Al-Qasas: 24).
Doa tersebut diucapkan Nabi Musa setelah membantu dua perempuan memberi minum ternak mereka. Ia kemudian berteduh dan menyampaikan kebutuhannya kepada Allah. Ayat ini menunjukkan bahwa permohonan kepada Allah dapat disampaikan dengan mengakui keterbatasan diri dan mengharapkan kebaikan dari-Nya.
Kisah ini bermula ketika Nabi Musa meninggalkan Mesir setelah mengetahui adanya rencana orang-orang berpengaruh untuk membunuhnya. Ia kemudian berjalan menuju Madyan dalam keadaan takut dan membutuhkan petunjuk Allah, sebagaimana diceritakan dalam Surah Al-Qasas ayat 20–22.
Baca juga: Sumpah Pemuda, Belajar Keteguhan Prinsip dari Kisah Ashabul Kahfi
Allah SWT berfirman:
وَجَآءَ رَجُلٌ مِّنْ أَقْصَا الْمَدِينَةِ يَسْعٰى قَالَ يٰمُوْسٰٓى اِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُوْنَ بِكَ لِيَقْتُلُوْكَ فَاخْرُجْ اِنِّيْ لَكَ مِنَ النّٰصِحِيْنَ ٢٠ فَخَرَجَ مِنْهَا خَآئِفًا يَّتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ٢١ وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاۤءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسٰى رَبِّيْٓ اَنْ يَّهْدِيَنِيْ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ ٢٢
Wa jā'a rajulum min aqṣal-madīnati yas'ā, qāla yā Mūsā innal-mala'a ya'tamirūna bika liyaqtulūka fakhruj innī laka minan-nāṣiḥīn. Fa kharaja minhā khā'ifay yataraqqabu, qāla rabbi najjinī minal-qaumiẓ-ẓālimīn. Wa lammā tawajjaha tilqā'a Madyana, qāla 'asā rabbī an yahdiyanī sawā'as-sabīl.
Artinya: “Dan seorang laki-laki datang bergegas dari ujung kota seraya berkata, ‘Wahai Musa! Sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding tentang engkau untuk membunuhmu, maka keluarlah (dari kota ini), sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat kepadamu.’ Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.’ Dan ketika dia menuju ke arah negeri Madyan, dia berdoa lagi, ‘Mudah-mudahan Tuhanku menunjuki aku ke jalan yang benar.’” (QS Al-Qasas: 20–22).
Baca juga: Hilman Latief Ungkap Kunci Ketahanan Keuangan Muhammadiyah
Ketika tiba di sumber air Madyan, Nabi Musa mendapati banyak orang memberi minum ternak. Di tempat itu, ia juga melihat dua perempuan yang menahan ternak mereka karena belum dapat memberi minum sebelum para penggembala selesai. Keduanya menjelaskan bahwa ayah mereka sudah lanjut usia.
Nabi Musa kemudian membantu memberi minum ternak kedua perempuan tersebut. Setelah menyelesaikan pertolongan itu, ia menjauh ke tempat teduh dan memanjatkan doa dalam ayat 24.
Urutan peristiwa ini memperlihatkan bahwa Nabi Musa tetap berbuat baik ketika dirinya sendiri sedang menghadapi kesulitan.
Surah Al-Qasas ayat 24 menerangkan bahwa Nabi Musa berada dalam keadaan membutuhkan makanan dan rezeki. Doanya mencerminkan pengharapan atas kebaikan Allah, tanpa membatasi bentuk pertolongan yang mungkin datang.
Baca juga: PK-Tren Apresiasi Festival Sarung dan Peci Santri, Dinilai Bisa Gerakkan Ekonomi Kreatif
Karena itu, ayat ini dapat menjadi pengingat agar seseorang tetap berikhtiar dan membantu orang lain sesuai kemampuannya.
Secara umum, kalimat Rabbi inni lima anzalta ilayya min khairin faqir berarti pengakuan bahwa seseorang sangat membutuhkan kebaikan yang Allah berikan. Kata faqir dalam konteks doa ini menunjukkan kebutuhan dan ketergantungan manusia kepada pertolongan Allah.
Permohonan tersebut tidak menyebutkan satu bentuk pemberian tertentu. Kebaikan yang diharapkan dapat berupa rezeki, jalan keluar, perlindungan, atau pertolongan yang dibutuhkan sesuai keadaan. Namun, ayat ini tidak menjanjikan bahwa setiap orang yang membaca doa tersebut pasti memperoleh hasil tertentu dalam waktu tertentu.
Baca juga: Dugaan Penipuan Berkedok Agama di Bangkalan, MUI Minta Warga Tak Mudah Percaya
Kisah berikutnya terdapat dalam Surah Al-Qasas ayat 25:
فَجَاۤءَتْهُ اِحْدٰىهُمَا تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ ۖقَالَتْ اِنَّ اَبِيْ يَدْعُوْكَ لِيَجْزِيَكَ اَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَاۗ فَلَمَّا جَاۤءَهٗ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَۙ قَالَ لَا تَخَفْۗ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ
Fajā'athu iḥdāhumā tamsyī ‘alastiḥyā'(in), qālat inna abī yad‘ūka liyajziyaka ajra mā saqaita lanā, falammā jā'ahū wa qaṣṣa ‘alaihil-qaṣaṣ(a), qāla lā takhaf, najauta minal-qaumiẓ-ẓālimīn(a).
Artinya: Lalu, datanglah kepada Musa salah seorang dari keduanya itu sambil berjalan dengan malu-malu. Dia berkata, “Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan)-mu memberi minum (ternak) kami.” Ketika (Musa) mendatanginya dan menceritakan kepadanya kisah (dirinya), dia berkata, “Janganlah engkau takut! Engkau telah selamat dari orang-orang yang zalim itu.”
Baca juga: Nu’aim bin Mas’ud, Sahabat Nabi yang Meretakkan Koalisi dalam Perang Khandaq
Salah seorang perempuan itu datang menemui Nabi Musa dan menyampaikan undangan dari ayahnya sebagai balasan atas pertolongan yang telah diberikan. Nabi Musa kemudian menemui ayah kedua perempuan tersebut dan menceritakan pengalamannya.
Rangkaian ayat ini memperlihatkan datangnya pertolongan melalui pertemuan dengan orang lain. Nabi Musa tidak hanya berdoa, tetapi juga melakukan tindakan nyata dan menerima kesempatan yang datang kepadanya. Meski demikian, kisah tersebut tidak berarti setiap permohonan akan dijawab melalui peristiwa yang persis sama.
Doa Nabi Musa dapat dibaca ketika seseorang membutuhkan pertolongan, rezeki, atau kemudahan dalam menghadapi persoalan. Hal terpenting ialah memahami maknanya, memohon dengan rendah hati, serta tetap menjalankan usaha yang sesuai dengan keadaan dan kemampuan.
Baca juga: Beasiswa Santri ke Malaysia Dibuka 27–29 Oktober 2026, Ini Syaratnya
Kisah ini juga mengingatkan bahwa membantu sesama tidak harus menunggu kehidupan sendiri sempurna. Nabi Musa menolong orang lain ketika ia pun sedang membutuhkan pertolongan. Dengan demikian, doa dalam Surah Al-Qasas ayat 24 mengajarkan keseimbangan antara berserah diri kepada Allah, berikhtiar, dan tetap berbuat baik kepada orang lain.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.