Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dingin Ekstrem Kembali Hantam Arab Saudi, Riyadh Terancam Beku

Kompas.com, 30 Desember 2025, 09:59 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com — Gelombang dingin musim dingin kembali menghantam Arab Saudi. Gelombang dingin ketiga pada musim dingin 2025 diperkirakan mulai menggigit sejumlah wilayah Kerajaan pada Rabu dan Kamis, dengan suhu turun drastis hingga di bawah nol derajat Celsius.

National Centre of Meteorology (NCM) Arab Saudi menyebutkan, gelombang dingin kali ini akan memengaruhi sejumlah wilayah utama, termasuk Al Jouf, Northern Borders, Hail, Qassim, hingga Riyadh. Suhu minimum diperkirakan berada di kisaran 3 derajat Celsius hingga minus 1 derajat di beberapa lokasi.

Fenomena ini menjadi gelombang dingin ketiga yang melanda Arab Saudi sepanjang musim dingin 2025.

Baca juga: Gelombang Udara Dingin Landa Arab Saudi, Suhu Turun hingga Minus 1 Derajat

Sebelumnya, gelombang dingin pada pertengahan Desember bahkan memicu salju di wilayah Hail dan Tabuk, sebuah peristiwa langka di kawasan Timur Tengah.

NCM mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama pada waktu malam dan dini hari, saat suhu diprediksi mencapai titik terendah.

Otoritas setempat juga meminta masyarakat mengikuti pembaruan cuaca resmi dan mematuhi panduan keselamatan.

Pernah Minus 10 Derajat!

Dalam catatan sejarah cuaca, Arab Saudi pernah mengalami suhu ekstrem yang mengejutkan. Wilayah Hail mencatat suhu terdingin sepanjang sejarah Kerajaan, yakni minus 10 derajat Celsius pada 16 Januari 2008, sebagaimana dilaporkan NCM dan dikutip Saudi Gazette.

Data statistik musim dingin periode 1985–2025 menunjukkan sejumlah kota di Arab Saudi kerap mengalami suhu di bawah nol.

Qurayyat di Al Jouf mencatat suhu minus 9 derajat, disusul Turaif di Northern Borders yang beberapa kali mengalami minus 8 derajat. Bahkan, Riyadh pernah mencatat suhu minus 5,4 derajat Celsius.

Kota dengan Hari Embun Beku Terbanyak

NCM juga merilis daftar kota dengan jumlah hari embun beku terbanyak selama 40 tahun terakhir.

Turaif menempati posisi teratas dengan  720 hari embun beku, disusul Qurayyat (588 hari) dan Hail (339 hari). Riyadh berada di urutan ke-10 dengan 46 hari embun beku.

Menurut NCM, data ini penting untuk memahami tren iklim jangka panjang sekaligus meningkatkan kesadaran publik terhadap keragaman iklim Arab Saudi.

Tak Hanya Dingin, Badai dan Hujan Es Mengintai

Selain suhu ekstrem, NCM juga memperingatkan potensi badai petir, hujan es, dan angin kencang di wilayah Jazan, Aseer, Al-Baha, Makkah, Riyadh, Qassim, Eastern Region, Northern Borders, dan Al Jouf. Kabut tebal diperkirakan muncul di Madinah dan Hail.

Di wilayah laut, kondisi gelombang di Laut Merah dan Teluk Arab berpotensi memburuk, terutama saat awan hujan aktif muncul.

Dingin Datangkan Berkah Wisata

Meski ekstrem, musim dingin justru membawa berkah bagi wilayah Northern Borders. Curah hujan dan suhu dingin menyuburkan lembah dan padang rumput, menarik wisatawan pencinta alam untuk berkemah, mendaki, dan menikmati lanskap musim dingin yang jarang terlihat di Arab Saudi.

Baca juga: Salju Turun di Arab Saudi, Jabal Al Lawz Berubah Jadi Negeri Musim Dingin

Namun, otoritas setempat tetap menekankan pentingnya keselamatan dan pelestarian alam di tengah meningkatnya aktivitas wisata.

Gelombang dingin kali ini diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Warga diminta tetap waspada—karena musim dingin Arab Saudi kali ini bukan main-main.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar