Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tren Lebaran 2026: Baju Kurung Melayu Diburu, Geser Popularitas Gamis

Kompas.com, 4 Maret 2026, 11:11 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Tren busana Lebaran 2026 tak lagi didominasi gamis. Di sejumlah pusat perbelanjaan hingga etalase toko daring, model baju kurung Melayu justru mencuri perhatian dan menjadi buruan baru jelang Idulfitri.

Jika beberapa tahun terakhir gamis dengan potongan lurus dan detail minimalis menjadi primadona, kini banyak perempuan beralih pada siluet yang lebih longgar, santun, tetapi tetap memberi ruang gerak luas. Baju kurung Melayu hadir menjawab kebutuhan itu. Mengapa model ini kembali naik daun?

Kembali ke Akar Tradisi, Hadir dengan Sentuhan Modern

Baju kurung Melayu sejatinya bukan model baru. Busana ini telah lama dikenal sebagai pakaian tradisional masyarakat Melayu di wilayah Sumatera, Semenanjung Malaya, hingga sebagian Kalimantan.

Dalam buku Sejarah Busana Tradisional Nusantara karya Liza Marzali dijelaskan bahwa baju kurung merepresentasikan nilai kesantunan, kesederhanaan, dan identitas budaya Melayu yang lekat dengan ajaran Islam.

Potongannya khas: atasan panjang longgar dipadukan dengan rok atau kain panjang. Berbeda dengan gamis yang menyatu dari atas hingga bawah, baju kurung memberi struktur dua bagian yang membuat pemakainya lebih leluasa bergerak.

Inilah salah satu alasan model ini dinilai cocok untuk mobilitas tinggi saat Hari Raya, mulai dari silaturahmi ke rumah kerabat hingga menerima tamu.

Di Tanah Abang, Jakarta, tren ini semakin terlihat. Sejumlah pedagang menyebut model kurung modern dengan detail minimalis sebagai salah satu produk terlaris menjelang Ramadan dan Lebaran 2026.

Baca juga: Tren Baju Lebaran 2026: Gamis Layering Stylish hingga Lace Modern

Material Lebih Variatif, Tampilan Lebih Eksklusif

Baju kurung melayu dengan silk bordir premiumAI Baju kurung melayu dengan silk bordir premium
Daya tarik utama baju kurung Melayu masa kini terletak pada eksplorasi materialnya. Jika dulu identik dengan katun polos atau songket, kini pilihannya jauh lebih beragam.

Beberapa koleksi menggunakan kain shimmer yang memberi efek berkilau lembut, satin silk yang jatuh anggun mengikuti bentuk tubuh, hingga paper silk yang ringan tetapi tetap elegan. Ada pula yang memakai bahan Toyobo, dikenal nyaman dan tidak mudah kusut.

Menurut pengamat mode dalam buku Fashion sebagai Identitas Sosial karya Malcolm Barnard, pemilihan material berperan penting dalam membentuk persepsi status dan keanggunan pemakai.

Dalam konteks busana Lebaran, bahan yang tampak mewah tetapi tetap nyaman menjadi kunci.

Baju kurung Melayu modern juga dilengkapi furing sehingga tidak menerawang, menjadikannya aman dan tetap sopan saat dikenakan.

Detail Bordir dan Siluet yang Memanjangkan Tubuh

Salah satu ciri khas koleksi terbaru adalah detail bordir vertikal halus di bagian tengah depan serta pada hemline atau ujung bawah baju. Aksen ini menciptakan ilusi tubuh lebih jenjang tanpa harus bermain dengan potongan ketat.

Beberapa model menambahkan tepi potongan bergelombang atau scalloped edge yang dipermanis sulaman ringan di bagian lengan. Sentuhan ini memberi kesan feminin, namun tidak berlebihan.

Warna yang ditawarkan pun semakin beragam. Tak hanya hitam atau pastel, pilihan seperti olive, terracotta, lilac, navy, hingga ice blue menjadi favorit. Warna-warna ini dinilai mudah dipadukan dengan hijab polos maupun motif lembut.

Baca juga: Gamis Terbaru Model Baju Lebaran 2026 Wanita: Simpel Tapi Mewah, Ini Tren yang Bakal Viral

Busui Friendly dan Fleksibel untuk Berbagai Acara

Baju kurung melayu busui friendlyAI Baju kurung melayu busui friendly
Selain estetika, faktor fungsional turut menjadi pertimbangan. Banyak koleksi baju kurung Melayu kini dilengkapi bukaan kancing depan, sehingga ramah bagi ibu menyusui.

Tersedia pula pilihan tunik one set dengan celana atau rok panjang senada, bahkan versi gamis bagi yang menyukai tampilan lebih praktis.

Fleksibilitas ini membuatnya tak hanya cocok untuk Lebaran, tetapi juga acara wisuda, pengajian, hingga pesta keluarga.

Beberapa pelaku usaha menyebut model ini bahkan diminati pasar luar daerah seperti Padang dan Aceh, serta negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, yang memang memiliki kedekatan budaya dengan busana Melayu.

Baca juga: Jadi Trend Baju Lebaran 2026, Berapa Harga Gamis Bini Orang di Pasar Tanah Abang?

Mengapa Baju Kurung Melayu Kembali Populer?

Secara sosiologis, tren ini bisa dibaca sebagai kecenderungan kembali pada busana yang menekankan nilai kesantunan.

Dalam buku The Fashion System karya Roland Barthes disebutkan bahwa busana tidak sekadar penutup tubuh, melainkan sistem tanda yang mencerminkan nilai dan aspirasi sosial.

Di tengah dinamika tren yang cepat berubah, baju kurung Melayu menawarkan keseimbangan antara tradisi dan modernitas.

Ia sederhana, tetapi tetap elegan. Longgar, namun tetap membentuk siluet yang anggun. Minimalis, tetapi kaya detail.

Menjelang Idul fitri 2026, pilihan busana bukan hanya soal gaya, melainkan juga representasi diri.

Selain gamis yang tetap memiliki pasar kuat, baju kurung Melayu kini menjelma menjadi simbol baru kesantunan yang praktis dan berkelas.

Bagi banyak perempuan, busana ini bukan sekadar tren musiman. Ia adalah cara merayakan hari kemenangan dengan tetap setia pada akar budaya tanpa kehilangan sentuhan modern yang relevan dengan zaman.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar