Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gus Ipul Ungkap Syarat Ketum PBNU: Harus Punya Track Record Baik, Semua Kader Berpeluang

Kompas.com, 30 Maret 2026, 08:45 WIB
Farid Assifa

Penulis

KOMPAS.com – Persiapan Nahdlatul Ulama menuju Muktamar 2026 terus dimatangkan. Panitia resmi telah dibentuk melalui rapat gabungan unsur Syuriyah dan Tanfidziyah beberapa hari lalu.

Sekretaris Jenderal PBNU yang juga Ketua Panitia Muktamar NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, mengungkapkan bahwa seluruh kader memiliki peluang untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU, selama memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.

Syarat Ketum PBNU: Rekam Jejak Jadi Penentu

Gus Ipul menegaskan bahwa salah satu syarat utama untuk menjadi Ketua Umum PBNU adalah memiliki track record yang baik.

Baca juga: Muktamar NU 2026 Makin Dekat, Gus Ipul: Panitia Sudah Dibentuk, Calon Ketum Belum Ada

“Pada dasarnya setiap kader punya ruang untuk mencalonkan diri sebagai ketua umum,” ujarnya kepada Kompas.com via sambungan telepon, Senin (30/3/2026).

Namun demikian, ia menambahkan bahwa NU memiliki kriteria tersendiri, baik yang bersifat tertulis maupun tidak tertulis.

“Untuk syaratnya, tentu harus punya track record yang baik. NU punya kriteria, ada yang tertulis dan tidak tertulis,” jelasnya Gus Ipul yang juga menjabat Menteri Sosial RI ini.

Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa proses pemilihan di NU tetap terbuka, namun tetap mengedepankan kualitas dan integritas calon.

Panitia Muktamar NU 2026 Sudah Dibentuk

Dalam rapat tersebut, telah disepakati susunan panitia Muktamar NU 2026, yaitu:

  • Ketua SC: KH Said Asrori
  • Sekretaris SC: Muhammad Nuh
  • Ketua pelaksana (OC): Saifullah Yusuf (Gus Ipul)
  • Sekretaris: Amin Said Rusdi

Pembentukan panitia ini menjadi langkah awal menuju pelaksanaan Muktamar yang direncanakan digelar pada Juli atau Agustus 2026.

Tahapan Menuju Muktamar

Sebelum Muktamar digelar, NU juga akan melaksanakan sejumlah forum penting, di antaranya Konvensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Alim Ulama.

Forum tersebut menjadi ruang strategis untuk membahas berbagai isu keumatan sekaligus merumuskan arah organisasi ke depan.

Meski tahapan persiapan telah berjalan, hingga saat ini belum ada kandidat yang mendaftarkan diri sebagai calon Ketua Umum PBNU.

“Terkait calon yang mendaftar, saat ini belum ada,” kata Gus Ipul.

Hal ini menunjukkan bahwa proses penjaringan masih terbuka luas bagi seluruh kader NU di berbagai daerah.

Kepemimpinan PBNU Saat Ini

Saat ini, kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2022–2027 dipimpin oleh Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Tanfidziyah dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai Sekretaris Jenderal.

Adapun Ketua Dewan Syuriyah dijabat Rais 'Aam KH Miftachul Akhyar dan Wakil Rais Aam KH Anwar Iskandar dan KH Afifuddin Muhajir.

Di bawah kepemimpinan mereka, PBNU aktif mendorong agenda moderasi beragama, diplomasi global, serta penguatan ekonomi umat.

Muktamar NU Jadi Momentum Penting

Muktamar NU merupakan forum tertinggi organisasi yang tidak hanya memilih pemimpin baru, tetapi juga menentukan arah gerakan NU ke depan.

Baca juga: Ketum PBNU Gus Yahya Temui Dubes Iran, Sampaikan Dukungan Moral

Dengan panitia yang sudah terbentuk dan kriteria calon yang mulai ditegaskan, dinamika menuju Muktamar NU 2026 diperkirakan akan semakin menarik untuk diikuti.

Bagi para kader, peluang terbuka lebar—namun satu hal yang pasti, rekam jejak tetap menjadi kunci utama dalam menentukan kepemimpinan NU di masa mendatang.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar