Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Muktamar NU 2026 Makin Dekat, Gus Ipul: Panitia Sudah Dibentuk, Calon Ketum Belum Ada

Kompas.com, 30 Maret 2026, 08:00 WIB
Farid Assifa

Penulis

KOMPAS.com – Persiapan Nahdlatul Ulama menuju Muktamar 2026 mulai mengerucut. Panitia pelaksana telah resmi dibentuk melalui rapat gabungan unsur Syuriyah dan Tanfidziyah beberapa hari lalu.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, mengungkapkan bahwa struktur panitia kini sudah lengkap sebagai langkah awal menuju hajatan besar organisasi tersebut.

Susunan Panitia Muktamar NU 2026

Dalam hasil rapat tersebut, disepakati susunan panitia sebagai berikut:

  • Ketua Steering Committee (SC) atau Panitia Pengarah: KH Said Asrori
  • Sekretaris SC: Muhammad Nuh
  • Ketua Organizing Committee (OC) atau Panitia Pelaksana: Saifullah Yusuf (Gus Ipul)
  • Sekretaris OC: Amin Said Rusdi

Pembentukan panitia ini menjadi sinyal bahwa Muktamar NU 2026 mulai dipersiapkan secara serius.

Baca juga: Ma’ruf Amin Apresiasi Kesepakatan Muktamar NU Digelar Bersama

Digelar Juli atau Agustus 2026

Gus Ipul menyebutkan bahwa Muktamar NU direncanakan berlangsung pada Juli atau Agustus 2026.

"Muktamarnya insya Allah dilaksanakan antara Juli atau Agustus," kata Gus Ipul kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Senin (30/3/2026).

Sebelum puncak acara, Gus Ipul mengatakan bahwa NU juga akan menggelar sejumlah forum penting, di antaranya Konvensi Besar (Konbes) dan Musyawarah Alim Ulama.

Forum-forum ini menjadi bagian penting dalam merumuskan arah kebijakan organisasi serta membahas berbagai isu keumatan dan kebangsaan.

Belum Ada Calon Ketua Umum

Menariknya, hingga saat ini belum ada kandidat yang mendaftar sebagai calon Ketua Umum PBNU.

Gus Ipul menegaskan bahwa proses tersebut masih berjalan dan belum memasuki tahap pencalonan.

“Terkait calon yang mendaftar, saat ini belum ada,” ujar Menteri Sosial ini.

Kepengurusan PBNU Saat Ini

Saat ini, kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2022–2027 dipimpin oleh Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum (Tanfidziyah) dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebagai Sekretaris Jenderal.

Struktur PBNU terdiri dari dua unsur utama, yakni Syuriyah sebagai otoritas keagamaan dan Tanfidziyah sebagai pelaksana program organisasi. Ketua Dewan Syuriyah atau dikenal dengan Rais 'Aam saat ini adalah KH. Miftachul Akhyar dan Wakilnya KH Anwar Iskandar serta KH Afifuddin Muhajir.

Di bawah kepemimpinan Gus Yahya, PBNU aktif mendorong berbagai agenda strategis, mulai dari penguatan moderasi beragama, diplomasi internasional, hingga pemberdayaan ekonomi umat.

PBNU juga semakin dikenal di tingkat global melalui berbagai inisiatif kemanusiaan dan dialog lintas agama.

Muktamar NU, Momentum Strategis

Muktamar NU merupakan forum tertinggi organisasi yang tidak hanya memilih kepemimpinan baru, tetapi juga menentukan arah gerakan NU ke depan.

Dengan jumlah anggota yang besar dan peran strategis di Indonesia, Muktamar NU selalu menjadi perhatian publik, baik dari kalangan internal maupun eksternal.

Baca juga: Singkatan dari PBNU dan Siapa Ketuanya Sekarang

Persiapan yang mulai dimatangkan sejak sekarang diharapkan mampu menghasilkan keputusan terbaik bagi umat dan bangsa.

Dengan panitia yang telah terbentuk dan agenda yang mulai disusun, Muktamar NU 2026 diprediksi akan menjadi momentum penting dalam perjalanan organisasi Islam terbesar di Tanah Air ini.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Baca tentang


Terkini Lainnya
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar