Editor
KOMPAS.com — Di tengah dunia yang terus mendorong orang untuk meraih lebih banyak harta, kisah seorang perempuan asal Prancis yang menetap di Pangandaran justru mengajarkan arti hidup yang sederhana namun penuh makna: merasa cukup.
Adalah Catherine Hirigoyen-Efendi, perempuan yang datang ke Indonesia pada 1980-an dan kini telah menjadi warga negara Indonesia.
Ia memilih tinggal di Pangandaran dan membangun usaha penginapan sederhana yang dikelolanya dengan hati, nama penginapannya adalah Mini Tiga Homestay.
Kisah ini viral setelah dibagikan oleh putrinya, Laura Hermawati, melalui media sosial Instagram @laurahermawati.
Dalam ceritanya, Laura mengungkapkan bahwa harga homestay milik sang ibu hampir tidak berubah sejak pertama kali dibuka—mulai Rp180.000 per malam, bahkan sudah termasuk sarapan.
Bagi sebagian orang, keputusan itu mungkin terdengar tidak masuk akal di tengah biaya hidup yang terus meningkat. Namun bagi Catherine, bisnis bukan semata soal keuntungan.
Ia mengaku sengaja mempertahankan harga murah karena menganggap para tamu seperti keluarga sendiri. Rasa empati kepada pengunjung juga menjadi alasan kuat di balik pilihannya.
“Bisnis itu bukan untuk mengejar uang terus-menerus. Yang penting cukup untuk hidup,” begitu prinsip yang dipegangnya.
Laura pun merangkum filosofi hidup sang ibu dalam satu kata sederhana namun dalam: cukup.
“Di dunia yang selalu mendorong lebih, mamaku memilih cukup,” ujar Laura.
Kisah Catherine seolah menjadi gambaran nyata dari konsep qanaah dalam Islam—yakni sikap merasa cukup atas rezeki yang diberikan.
Dalam pandangan ini, kekayaan tidak diukur dari banyaknya harta, melainkan dari ketenangan hati. Bahkan, para ulama menyebut qanaah sebagai “harta yang tak pernah habis”.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa orang yang beruntung adalah mereka yang diberi rezeki secukupnya (kafaf) dan hati yang qanaah.
Dengan sikap ini, seseorang bisa merasakan kebahagiaan tanpa harus terus-menerus mengejar dunia.
Teladan serupa juga ditunjukkan oleh Hakim bin Hizam, sahabat Nabi yang memilih hidup tanpa bergantung pada pemberian orang lain setelah memahami bahwa harta bisa membuat manusia tak pernah merasa puas.
Di era modern, ketika gaya hidup sering kali identik dengan kemewahan, kisah Catherine justru menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari angka di rekening.
Hidup sederhana, cukup, dan penuh syukur justru menghadirkan ketenangan yang sulit dibeli.
Apa yang dilakukan Catherine mungkin tampak kecil—sekadar mempertahankan harga penginapan murah.
Baca juga: Alam Barzakh: Kehidupan Setelah Kematian yang Pasti Dilalui Setiap Manusia
Namun di balik itu, ada nilai besar: tentang empati, kesederhanaan, dan keberanian untuk tidak mengikuti arus.
Pada akhirnya, seperti pesan yang disampaikan Laura, menjadi kaya bukanlah tentang memiliki segalanya.
Melainkan tentang tidak lagi merasa kekurangan—karena hati sudah memilih untuk cukup.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang