Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Shalat Sunnah Isyraq: Niat, Tata Cara, Doa, dan Perbedaan dengan Dhuha

Kompas.com, 4 April 2026, 21:27 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Shalat sunnah Isyraq merupakan ibadah yang dilakukan umat Islam pada pagi hari setelah matahari terbit.

Ibadah ini dikenal memiliki keutamaan besar, terutama bagi yang melaksanakan setelah shalat Subuh berjamaah dan berdzikir.

Waktu pelaksanaannya berada di awal masuknya waktu Dhuha, sehingga sering dianggap serupa.

Namun, terdapat perbedaan mendasar yang penting dipahami agar pelaksanaannya sesuai syariat. Berikut penjelasan tentang shalat sunnah Isyraq, seperti dirangkum dari Antara.

Baca juga: Panduan Ruqyah Mandiri di Rumah Sesuai Sunnah, Lengkap Bacaannya

Pengertian Shalat Sunnah Isyraq

Shalat sunnah Isyraq adalah ibadah sunnah yang dilakukan setelah matahari terbit dengan ketinggian tertentu.

Amalan ini menjadi salah satu bentuk ibadah tambahan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Shalat Isyraq dilaksanakan sebanyak dua rakaat, sekitar 15 menit setelah matahari terbit atau ketika matahari sudah setinggi satu tombak. Waktu pelaksanaannya berlangsung hingga memasuki waktu Dhuha.

Baca juga: Sholat Dhuha: Waktu, Jumlah Rakaat, Niat, Tata Cara, dan Bacaan Dzikirnya

Shalat ini memiliki syarat khusus, yakni didahului dengan shalat Subuh berjamaah dan dilanjutkan berdzikir hingga matahari terbit.

Hal ini dilakukan sebagaimana menurut hadis Rasulullah SAW:

"Siapa yang shalat Subuh dengan berjamaah, lalu duduk berdzikir kepada Allah SWT sehingga matahari terbit, kemudian shalat dua rakaat, maka ia mendapatkan pahala haji dan umrah sempurna (diulang tiga kali)." (HR. Al-Tirmidzi. 971).

Niat Shalat Sunnah Isyraq

Niat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan shalat Isyraq karena menentukan sah atau tidaknya ibadah. Niat dapat dibaca dalam hati atau dilafalkan saat takbiratul ihram.

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الإِشْرَاقِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Ushalli sunnatal isyraq rak'ataini lillahi ta'ala.

Artinya: "Saya niat shalat sunnah Isyraq dua rakaat karena Allah ta’ala".

Tata Cara Shalat Sunnah Isyraq

Pelaksanaan shalat Isyraq secara umum sama dengan shalat sunnah lainnya, terdiri dari dua rakaat dengan urutan yang tertib. Pemahaman langkah-langkahnya penting agar ibadah dilakukan dengan benar.

  1. Membaca niat dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram
  2. Membaca doa iftitah
  3. Membaca Surah Al-Fatihah pada rakaat pertama, dilanjutkan surat Ad-Dhuha
  4. Rukuk dengan tuma'ninah membaca "Subhaana rabbiyal ‘adhiimi wabihamdihi" tiga kali
  5. I’tidal membaca "Sami’allahu liman hamidah" dan doa setelahnya
  6. Sujud pertama membaca "Subhaana rabbiyal a'laa wa bi hamdih" tiga kali
  7. Duduk di antara dua sujud
  8. Sujud kedua
  9. Rakaat kedua dengan membaca Al-Fatihah dan surat Asy-Syarh
  10. Rukuk, i’tidal, sujud, dan tasyahhud
  11. Salam ke kanan dan kiri

Doa Setelah Shalat Isyraq

Setelah melaksanakan shalat, umat Muslim dianjurkan untuk berdzikir dan membaca doa. Doa ini menjadi bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diberikan petunjuk dan keberkahan.

اَللّهُمَّ يَا نُوْرَ النُّوْرِ بِالطُّوْرِ وَكِتَابٍ مَسْطُوْرٍ فِيْ رِقٍّ مَنْشُوْرٍ وَالبَيْتِ المَعْمُوْرِ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِيْ نُوْرًا أَسْتَهْدِيْ بِهِ إِلَيْكَ وَأَدُلُّ بِهِ عَلَيْكَ وَيَصْحَبُنِيْ فِيْ حَيَاتِيْ وَبَعْدَ الْاِنْتِقَالِ مِنْ ظَلاَم مِشْكَاتِيْ، وَأَسْأَلُكَ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا، أَنْ تَجْعَلَ شَمْسَ مَعْرِفَتِكَ مُشْرِقَةً بِيْ لَا يَحْجُبُهَا غَيْمُ الْأَوْهَامِ وَلَا يَعْتَرِيْهَا كُسُوْفُ قَمَرِ الوَاحِدِيَّةِ عِنْدَ التَّمَامِ، بَلْ أَدِمْ لَهَا الْإِشْرَاقَ وَالظُهُوْرَ عَلَى مَمَرِّ الْأَيَّامِ وَالدُّهُوْرِ. وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتِمِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللهم اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِإِخْوَاِننَا فِي اللهِ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا أَجْمَعِيْنَ.

Latin: Allahumma ya nurannuri bit thur wa kitabim masthurin fî riqqim mansyurin wal baitil ma’mur, as-aluka an tarzuqani nuran astahdî bihi ilaika wa adullu bihi ‘alaika wa yashhabuni fi hayati wa ba’dal intiqali min dhalami misykati, wa as-aluka bissyamsi wa dhuhaha wa nafsin wa ma sawwaha, an taj’ala syamsa ma’rifatika musyriqatam bi la yahjubuha ghaimul auhami wala ya’tariha kusuful qamaril wahidiyyati ‘indat tamam, bal adim lahal Isyraqa wad dhuhura ‘ala mamarril ayyami wad duhur. Wa shallillahumma ‘ala Sayyidina Muhammadin khatamil anbiya-i wal mursalin. Wal hamdulillahi rabbil ‘alamin. Allahummaghfir lana wa liwalidina wa li-ikhwanina fillahi ahya-an wa amwatan ajma’in.

Artinya: “Ya Allah, Wahai Cahayanya Cahaya, dengan wasilah bukit Thur dan Kitab yang ditulis pada lembaran yang terbuka, dan dengan wasilah Baitul Ma'mur, aku memohon padamu atas cahaya yang dapat menunjukkanku kepada-Mu. Cahaya yang dapat mengiringi hidupku dan menerangiku setelah berpindah (ke alam lain; bangkit dari kubur) dari kegelapan liang (kubur) ku. Aku meminta kepada-Mu dengan wasilah matahari beserta cahayanya di pagi hari, dan dengan jiwa dan kesempurnaannya, agar Engkau menjadikan matahari ma’rifat kepada-Mu yang seperti matahari cerahnya bersinar menerangiku, tidak tertutup oleh mendung-mendung keraguan, tidak pula terlintasi gerhana pada rembulan kemahaesaan di kala purnama. Tapi jadikanlah padanya selalu bersinar dan selalu tampak, seiring berjalannya hari dan tahun. Berikanlah rahmat ta'dzim Wahai Allah kepada junjungan kami Muhammad, sang pamungkas para nabi dan rasul. Segala Puji hanya milik Allah Tuhan penguasa alam. Ya Allah ampunilah kami, kedua orang tua kami serta kepada saudara-saudara kami seagama seluruhnya, baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal."

Setelah doa tersebut, dapat dilanjutkan dengan doa pribadi sesuai kebutuhan dan harapan.

Perbedaan Shalat Isyraq dan Dhuha

Shalat Isyraq dan Dhuha sering dianggap sama karena dilakukan pada waktu pagi. Namun, terdapat sejumlah perbedaan yang perlu dipahami agar tidak keliru dalam pelaksanaan.

Shalat Isyraq dilakukan segera setelah matahari terbit, sekitar 15 menit setelahnya, dan hanya dikerjakan dua rakaat. Waktu pelaksanaannya terbatas hingga awal waktu Dhuha.

Sementara itu, shalat Dhuha memiliki waktu yang lebih panjang, dimulai setelah Isyraq hingga menjelang Dzuhur. Jumlah rakaatnya minimal dua dan dapat ditambah hingga 12 rakaat.

Perbedaan lainnya terletak pada niat dan fleksibilitas pelaksanaan, di mana shalat Dhuha lebih bebas dalam jumlah rakaat.

Perbedaan Pendapat Ulama tentang Shalat Isyraq

Di kalangan ulama, terdapat perbedaan pandangan mengenai status shalat Isyraq dan Dhuha. Perbedaan ini berkaitan dengan penamaan dan waktu pelaksanaan.

Dalam kitab Al-Mustadrak, Imam Al-Hakim berpendapat bahwa shalat Isyraq merupakan bagian dari shalat Dhuha yang dilakukan di awal waktu.

Sementara itu, Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa keduanya merupakan ibadah yang berbeda karena memiliki perbedaan waktu, niat, dan jumlah rakaat.

Terlepas dari perbedaan pandangan, shalat sunnah Isyraq merupakan amalan pagi yang memiliki keutamaan besar, terutama jika dilakukan setelah shalat Subuh berjamaah dan berdzikir.

Dengan memahami niat, tata cara, doa, serta perbedaannya dengan shalat Dhuha, umat Muslim dapat melaksanakan ibadah ini secara tepat dan memperoleh keutamaan yang dijanjikan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Makmum Masbuk Ikut Imam Rukuk, Apakah Dapat Satu Rakaat? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Makmum Masbuk Ikut Imam Rukuk, Apakah Dapat Satu Rakaat? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar