Editor
KOMPAS.com - Shalat sunnah Isyraq merupakan ibadah yang dilakukan umat Islam pada pagi hari setelah matahari terbit.
Ibadah ini dikenal memiliki keutamaan besar, terutama bagi yang melaksanakan setelah shalat Subuh berjamaah dan berdzikir.
Waktu pelaksanaannya berada di awal masuknya waktu Dhuha, sehingga sering dianggap serupa.
Namun, terdapat perbedaan mendasar yang penting dipahami agar pelaksanaannya sesuai syariat. Berikut penjelasan tentang shalat sunnah Isyraq, seperti dirangkum dari Antara.
Baca juga: Panduan Ruqyah Mandiri di Rumah Sesuai Sunnah, Lengkap Bacaannya
Shalat sunnah Isyraq adalah ibadah sunnah yang dilakukan setelah matahari terbit dengan ketinggian tertentu.
Amalan ini menjadi salah satu bentuk ibadah tambahan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Shalat Isyraq dilaksanakan sebanyak dua rakaat, sekitar 15 menit setelah matahari terbit atau ketika matahari sudah setinggi satu tombak. Waktu pelaksanaannya berlangsung hingga memasuki waktu Dhuha.
Baca juga: Sholat Dhuha: Waktu, Jumlah Rakaat, Niat, Tata Cara, dan Bacaan Dzikirnya
Shalat ini memiliki syarat khusus, yakni didahului dengan shalat Subuh berjamaah dan dilanjutkan berdzikir hingga matahari terbit.
Hal ini dilakukan sebagaimana menurut hadis Rasulullah SAW:
"Siapa yang shalat Subuh dengan berjamaah, lalu duduk berdzikir kepada Allah SWT sehingga matahari terbit, kemudian shalat dua rakaat, maka ia mendapatkan pahala haji dan umrah sempurna (diulang tiga kali)." (HR. Al-Tirmidzi. 971).
Niat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan shalat Isyraq karena menentukan sah atau tidaknya ibadah. Niat dapat dibaca dalam hati atau dilafalkan saat takbiratul ihram.
أُصَلِّيْ سُنَّةَ الإِشْرَاقِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin: Ushalli sunnatal isyraq rak'ataini lillahi ta'ala.
Artinya: "Saya niat shalat sunnah Isyraq dua rakaat karena Allah ta’ala".
Pelaksanaan shalat Isyraq secara umum sama dengan shalat sunnah lainnya, terdiri dari dua rakaat dengan urutan yang tertib. Pemahaman langkah-langkahnya penting agar ibadah dilakukan dengan benar.
Setelah melaksanakan shalat, umat Muslim dianjurkan untuk berdzikir dan membaca doa. Doa ini menjadi bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diberikan petunjuk dan keberkahan.
اَللّهُمَّ يَا نُوْرَ النُّوْرِ بِالطُّوْرِ وَكِتَابٍ مَسْطُوْرٍ فِيْ رِقٍّ مَنْشُوْرٍ وَالبَيْتِ المَعْمُوْرِ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِيْ نُوْرًا أَسْتَهْدِيْ بِهِ إِلَيْكَ وَأَدُلُّ بِهِ عَلَيْكَ وَيَصْحَبُنِيْ فِيْ حَيَاتِيْ وَبَعْدَ الْاِنْتِقَالِ مِنْ ظَلاَم مِشْكَاتِيْ، وَأَسْأَلُكَ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا، أَنْ تَجْعَلَ شَمْسَ مَعْرِفَتِكَ مُشْرِقَةً بِيْ لَا يَحْجُبُهَا غَيْمُ الْأَوْهَامِ وَلَا يَعْتَرِيْهَا كُسُوْفُ قَمَرِ الوَاحِدِيَّةِ عِنْدَ التَّمَامِ، بَلْ أَدِمْ لَهَا الْإِشْرَاقَ وَالظُهُوْرَ عَلَى مَمَرِّ الْأَيَّامِ وَالدُّهُوْرِ. وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتِمِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ. وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللهم اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِإِخْوَاِننَا فِي اللهِ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا أَجْمَعِيْنَ.
Latin: Allahumma ya nurannuri bit thur wa kitabim masthurin fî riqqim mansyurin wal baitil ma’mur, as-aluka an tarzuqani nuran astahdî bihi ilaika wa adullu bihi ‘alaika wa yashhabuni fi hayati wa ba’dal intiqali min dhalami misykati, wa as-aluka bissyamsi wa dhuhaha wa nafsin wa ma sawwaha, an taj’ala syamsa ma’rifatika musyriqatam bi la yahjubuha ghaimul auhami wala ya’tariha kusuful qamaril wahidiyyati ‘indat tamam, bal adim lahal Isyraqa wad dhuhura ‘ala mamarril ayyami wad duhur. Wa shallillahumma ‘ala Sayyidina Muhammadin khatamil anbiya-i wal mursalin. Wal hamdulillahi rabbil ‘alamin. Allahummaghfir lana wa liwalidina wa li-ikhwanina fillahi ahya-an wa amwatan ajma’in.
Artinya: “Ya Allah, Wahai Cahayanya Cahaya, dengan wasilah bukit Thur dan Kitab yang ditulis pada lembaran yang terbuka, dan dengan wasilah Baitul Ma'mur, aku memohon padamu atas cahaya yang dapat menunjukkanku kepada-Mu. Cahaya yang dapat mengiringi hidupku dan menerangiku setelah berpindah (ke alam lain; bangkit dari kubur) dari kegelapan liang (kubur) ku. Aku meminta kepada-Mu dengan wasilah matahari beserta cahayanya di pagi hari, dan dengan jiwa dan kesempurnaannya, agar Engkau menjadikan matahari ma’rifat kepada-Mu yang seperti matahari cerahnya bersinar menerangiku, tidak tertutup oleh mendung-mendung keraguan, tidak pula terlintasi gerhana pada rembulan kemahaesaan di kala purnama. Tapi jadikanlah padanya selalu bersinar dan selalu tampak, seiring berjalannya hari dan tahun. Berikanlah rahmat ta'dzim Wahai Allah kepada junjungan kami Muhammad, sang pamungkas para nabi dan rasul. Segala Puji hanya milik Allah Tuhan penguasa alam. Ya Allah ampunilah kami, kedua orang tua kami serta kepada saudara-saudara kami seagama seluruhnya, baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal."
Setelah doa tersebut, dapat dilanjutkan dengan doa pribadi sesuai kebutuhan dan harapan.
Shalat Isyraq dan Dhuha sering dianggap sama karena dilakukan pada waktu pagi. Namun, terdapat sejumlah perbedaan yang perlu dipahami agar tidak keliru dalam pelaksanaan.
Shalat Isyraq dilakukan segera setelah matahari terbit, sekitar 15 menit setelahnya, dan hanya dikerjakan dua rakaat. Waktu pelaksanaannya terbatas hingga awal waktu Dhuha.
Sementara itu, shalat Dhuha memiliki waktu yang lebih panjang, dimulai setelah Isyraq hingga menjelang Dzuhur. Jumlah rakaatnya minimal dua dan dapat ditambah hingga 12 rakaat.
Perbedaan lainnya terletak pada niat dan fleksibilitas pelaksanaan, di mana shalat Dhuha lebih bebas dalam jumlah rakaat.
Di kalangan ulama, terdapat perbedaan pandangan mengenai status shalat Isyraq dan Dhuha. Perbedaan ini berkaitan dengan penamaan dan waktu pelaksanaan.
Dalam kitab Al-Mustadrak, Imam Al-Hakim berpendapat bahwa shalat Isyraq merupakan bagian dari shalat Dhuha yang dilakukan di awal waktu.
Sementara itu, Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa keduanya merupakan ibadah yang berbeda karena memiliki perbedaan waktu, niat, dan jumlah rakaat.
Terlepas dari perbedaan pandangan, shalat sunnah Isyraq merupakan amalan pagi yang memiliki keutamaan besar, terutama jika dilakukan setelah shalat Subuh berjamaah dan berdzikir.
Dengan memahami niat, tata cara, doa, serta perbedaannya dengan shalat Dhuha, umat Muslim dapat melaksanakan ibadah ini secara tepat dan memperoleh keutamaan yang dijanjikan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang