KOMPAS.com - Di tengah hamparan gurun barat laut Arab Saudi, sebuah eksperimen peradaban sedang dibangun bukan sekadar kota, melainkan redefinisi cara manusia hidup di masa depan.
Dalam tur media di proyek tersebut, Al Arabiya pada Kamis (20/2/2025) melaporkan, proyek The Line menjadi simbol ambisi besar Arab Saudi dalam mentransformasi ekonomi berbasis minyak menuju teknologi, keberlanjutan, dan inovasi urban yang radikal.
Berbeda dari kota konvensional yang berkembang secara horizontal, The Line justru mengusung konsep linear vertikal, sebuah “garis kota” sepanjang 170 kilometer yang membentang dari pesisir Laut Merah hingga wilayah pegunungan.
Kota ini dirancang hanya selebar 200 meter, namun menjulang hingga sekitar 500 meter, menciptakan struktur megastruktur yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah urbanisasi manusia.
Baca juga: Surga Mawar Arab Saudi! Panen Taif Melimpah, Hasilkan Minyak Wangi Termahal Dunia
Salah satu gagasan paling revolusioner dari The Line adalah penghapusan total mobil dan jalan raya.
Kota ini dirancang untuk menghilangkan kemacetan, polusi, dan ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Seluruh kebutuhan harian, mulai dari tempat tinggal, pekerjaan, hingga fasilitas publik—diklaim dapat diakses hanya dalam lima menit berjalan kaki.
Sebagai pengganti mobil, mobilitas penduduk akan mengandalkan transportasi cepat berbasis rel bawah tanah serta sistem berbasis kecerdasan buatan.
Konsep ini tidak hanya menantang paradigma transportasi modern, tetapi juga menciptakan model kota yang berorientasi pada manusia, bukan kendaraan.
The Line dirancang sebagai kota pintar (smart city) yang sepenuhnya dikendalikan oleh teknologi canggih, termasuk kecerdasan buatan (AI).
Sistem ini akan mengelola berbagai aspek kehidupan, mulai dari transportasi, energi, hingga layanan publik secara real-time.
Lebih jauh, kota ini ditargetkan beroperasi dengan 100 persen energi terbarukan. Sekitar 95 persen wilayah di sekitarnya bahkan direncanakan tetap alami sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian lingkungan.
Pendekatan ini menjadikan The Line sebagai prototipe kota “zero-carbon”, sebuah jawaban atas krisis iklim global sekaligus eksperimen besar dalam pembangunan berkelanjutan di kawasan gurun.
Media Saudi Gazette melaporkan, Hidden Marina menjadi pelopor di garis terdepan NEOM yang ditargetkan selesai pada 2034.
Baca juga: Tren “Dumb Phone” di Arab Saudi, Upaya Warga Kurangi Distraksi Digital
Proyek ini merupakan inti dari megaproyek NEOM, yang menjadi bagian dari program strategis Vision 2030.
Visi ini bertujuan mendiversifikasi ekonomi Arab Saudi agar tidak lagi bergantung pada minyak, dengan mengembangkan sektor teknologi, pariwisata, dan industri masa depan.
Dalam konteks ini, The Line bukan hanya proyek arsitektur, tetapi juga instrumen geopolitik dan ekonomi. Ia merepresentasikan upaya Arab Saudi untuk memposisikan diri sebagai pusat inovasi global di abad ke-21.
Meski terdengar futuristik, pembangunan The Line tidak lepas dari kritik. Tantangan finansial, teknis, hingga isu sosial seperti relokasi penduduk menjadi sorotan berbagai pihak.
Bahkan, dalam perkembangannya, proyek ini mengalami penyesuaian skala dan arah, termasuk kemungkinan pemanfaatannya sebagai pusat data berbasis AI.
Namun demikian, konstruksi tahap awal terus berjalan, dengan target penyelesaian sebagian proyek pada dekade mendatang.
Baca juga: Upaya Arab Saudi Meningkatkan Budidaya Lebah Madu untuk Dukung Ketahanan Pangan dan Lingkungan
The Line menghadirkan pertanyaan mendasar: apakah ini benar-benar masa depan kota manusia atau sekadar utopia ambisius di tengah gurun?
Di satu sisi, proyek ini menawarkan solusi konkret terhadap masalah klasik urbanisasi, kemacetan, polusi, dan ketimpangan ruang.
Namun di sisi lain, skalanya yang masif dan kompleksitasnya menjadikannya eksperimen berisiko tinggi.
Yang jelas, The Line telah mengubah cara dunia memandang kota, bukan lagi sekadar tempat tinggal, tetapi sistem hidup terintegrasi yang dirancang dengan presisi teknologi.
Jika berhasil, proyek ini bisa menjadi cetak biru kota masa depan. Jika gagal, ia tetap akan dikenang sebagai salah satu eksperimen paling berani dalam sejarah peradaban modern.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang