Editor
KOMPAS.com – Mahasiswa yang rutin menunaikan sholat dhuha cenderung memiliki jiwa yang lebih tenang. Hal itu terungkap dalam penelitian terhadap mahasiswa tingkat akhir di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung.
Penelitian tersebut menemukan sholat dhuha berpengaruh positif terhadap ketenangan jiwa mahasiswa dengan besaran 50,2 persen. Sisanya, 49,8 persen, dipengaruhi faktor lain di luar penelitian.
Riset ini ditulis oleh Rahmatullah, Muhtar Gojali, dan Naan. Hasilnya dimuat dalam Syifa al-Qulub: Jurnal Studi Psikoterapi Sufistik terbitan UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada Juli 2020.
Baca juga: Doa Setelah Sholat Dhuha Lengkap dengan Arti, Niat, dan Tata Caranya
Para peneliti menyimpulkan, semakin baik intensitas sholat dhuha, semakin tenang jiwa mahasiswa.
Sebaliknya, semakin jarang sholat dhuha dikerjakan, semakin tidak tenang jiwa mereka.
Hubungan antara keduanya pun tergolong kuat, dengan nilai korelasi 0,709.
Penelitian ini menyasar mahasiswa penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) angkatan 2015.
Kelompok ini diambil karena lebih rentan cemas imbas dituntut negara untuk lulus tepat waktu.
Kecemasan semacam itu umum dialami mahasiswa tingkat akhir.
Banyak yang khawatir skripsinya tidak selesai sesuai target, terlebih saat melihat teman-temannya sudah bersiap sidang atau wisuda.
Baca juga: Amalan Sebelum Tidur: Penenang Jiwa dan Penjaga Iman di Malam Hari
Dalam penelitian disebutkan, sholat dhuha sebagai salah satu bentuk meditasi spiritual.
Fokus pada satu titik dapat memicu respons relaksasi, apalagi didukung suasana pagi yang tenang dan sejuk.
Mereka juga merujuk QS Ar-Ra'd ayat 28, yang menyebut hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah.
Agar manfaatnya terasa, peneliti menekankan tiga hal: ikhlas karena Allah, dikerjakan rutin, dan khusyuk.
Soal rutinitas, mereka menilai dua rakaat dhuha setiap hari lebih baik daripada dua belas rakaat yang dikerjakan seminggu sekali.
Pandangan ini bersandar pada hadis riwayat Muslim dari Aisyah RA, bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan terus-menerus meski sedikit.
Peneliti juga menganjurkan agar sholat dhuha diiringi tobat dan permohonan ampun kepada Allah.
Meski begitu, temuan ini perlu dibaca dengan hati-hati. Respondennya terbatas pada satu kelompok mahasiswa di satu kampus, sehingga hasilnya belum bisa diberlakukan untuk semua orang.
Sholat dhuha juga bukan pengganti bantuan profesional.
Mahasiswa yang mengalami cemas atau tertekan berkepanjangan tetap disarankan berkonsultasi dengan konselor kampus atau psikolog.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.