Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Nabi Shaleh AS: Unta Betina Awal Kehancuran Kaum Tsamud

Kompas.com, 23 Desember 2025, 11:26 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kisah Nabi Shaleh AS adalah salah satu cerita para nabi yang terekam jelas dalam Al-Qur’an dan sumber-sumber riwayat Islam.

Ia diutus kepada kaum Tsamud, sebuah masyarakat yang pernah hidup dalam kemakmuran dan kekuatan, namun mengabaikan panggilan kebenaran hingga azab menimpa mereka.

Perjalanan hidup Nabi Shaleh AS adalah pelajaran tentang ketaatan, kesombongan, dan hikmah yang tak lekang oleh waktu.

Kehidupan Nabi Shaleh AS

Dikutip dari buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir, Nabi Shaleh AS adalah seorang nabi yang berasal dari bangsa Tsamud dan keturunan Nabi Nuh AS.

Ia merupakan putra dari Ubaid bin Jabir bin Tsamud, sementara kaum Tsamud sendiri dinamakan dari nama kakek mereka, Tsamud bin Air.

Hidup mereka berada di wilayah antara Hijaz dan Syam, di daerah yang dikenal sebagai Al-Hijr atau Madain Shaleh, sebuah dataran yang kaya dengan sumber daya alam dan dikelilingi oleh batu karang megah.

Kaum Tsamud dikenal mahir dalam membentuk bangunan dari batu besar dan menikmati kehidupan yang sejahtera.

Tanah subur, binatang ternak, dan hasil panen yang melimpah menjadi bagian dari keseharian mereka.

Namun di balik kemewahan itu, mereka menyimpang dari ajaran tauhid dan menyembah berhala, sebuah tradisi yang dipegang turun-temurun oleh leluhur mereka.

Baca juga: Kisah Nabi Nuh AS, Ketaatan di Tengah Ejekan dan Penolakan

Diutusnya Nabi Shaleh AS kepada Kaum Tsamud

Sama seperti nabi-nabi sebelum dan sesudahnya, Nabi Shaleh AS diutus oleh Allah SWT untuk memperbaiki umat yang telah jauh dari jalan yang benar.

Meski berasal dari kalangan mereka sendiri, Shaleh AS memiliki watak yang baik, dihormati, dan dikenal cerdas oleh kaumnya.

Dakwahnya bukan berasal dari ambisi pribadi, tetapi amanat Ilahi untuk mengajak mereka kembali kepada Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan penyembahan berhala.

Dengan tegas ia menyampaikan kepada kaum Tsamud bahwa Allah Yang Maha Pencipta adalah satu-satunya Tuhan yang pantas disembah.

Ia mengingatkan masyarakat tentang nikmat yang telah diberikan tanah yang subur, binatang ternak, dan kehidupan sejahtera, semuanya sebagai bukti kasih sayang Allah yang harus disyukuri, bukan disalahgunakan.

Namun ajakan itu ditolak oleh mayoritas kaumnya, terutama oleh mereka yang sombong dan berkuasa.

Mereka menganggap seruan Shaleh AS sebagai ancaman terhadap tradisi lama serta kekuasaan para pemuka yang mapan. Banyak di antara mereka menentang, mencemooh, bahkan meremehkan dakwahnya.

Baca juga: Kisah Nabi Hud AS: Azab Orang Sombong dan Awal Kehancuran Kaum ‘Ad

Mukjizat Unta Betina dari Batu

Permintaan akan bukti kebenaran kenabian Shaleh AS datang dari kaum Tsamud yang skeptis. Mereka menuntut agar Shaleh menunjukkan suatu tanda luar biasa yang tak mungkin dilakukan oleh manusia biasa.

Atas izin Allah, dari sebuah batu karang besar tampaklah seekor unta betina, mukjizat yang hadir secara ajaib di tengah mereka.

Unta itu bukan semata-mata hewan biasa. Nabi Shaleh AS memberi aturan jelas bahwa unta tersebut harus dibiarkan hidup secara bebas di tanah Allah, ia berhak makan dan minum secara bergiliran dari sumber air yang tersedia, tanpa diganggu.

Unta itu menjadi tanda nyata dari kekuasaan Allah SWT dan ujian bagi kaum Tsamud tentang kepatuhan mereka kepada Tuhan.

Penolakan, Pengkhianatan, dan Ancaman Azab

Sayangnya, tantangan yang Allah berikan tidak dimaknai sebagai panggilan untuk bertaubat. Sebaliknya, sebagian kaum Tsamud mencari cara untuk menghilangkan mukjizat itu dan membuktikan bahwa mereka tidak takut pada ancaman azab.

Persekongkolan terjadi dan unta betina yang menjadi mukjizat itu dibunuh secara kejam, meskipun Nabi Shaleh AS telah memperingatkan konsekuensinya.

Shaleh AS kemudian memperingatkan kaumnya bahwa azab Allah akan segera datang jika mereka tidak menyadari kesalahan dan bertaubat dalam waktu yang ditentukan.

Namun, kesombongan dan penolakan mereka justru semakin dalam, bahkan mereka mengejek peringatan itu dan meremehkannya.

Baca juga: Kisah Nabi Musa AS Menurut Al Quran yang Penuh Hikmah

Azab Kaum Tsamud dan Hikmah Kisah Nabi Shaleh AS

Tiga hari setelah unta mukjizat Nabi Shaleh AS dibunuh, azab Allah mulai menimpa Kaum Tsamud.

Tanda-tanda hukuman itu muncul secara bertahap. Pada hari pertama, wajah mereka menguning ketika terbangun dari tidur.

Hari berikutnya, warna wajah tersebut berubah menjadi kemerahan, lalu pada hari selanjutnya menghitam, sebagai isyarat bahwa siksa semakin dekat.

Ketika waktu yang dijanjikan tiba, azab Allah pun benar-benar diturunkan. Sebelumnya, Nabi Shaleh AS bersama para pengikutnya telah meninggalkan wilayah Kaum Tsamud sebagai bentuk perlindungan atas perintah Allah.

Namun, alih-alih mengambil pelajaran, peringatan Nabi Shaleh justru memicu kemarahan kaumnya hingga mereka merencanakan pembunuhan terhadap sang nabi.

Dengan izin Allah, rencana itu tidak pernah terwujud. Saat mereka hendak melancarkan niat jahat tersebut, petir dahsyat menyambar, disertai gempa bumi yang mengguncang hebat.

Batu-batu besar pun berjatuhan menimpa mereka, menghancurkan Kaum Tsamud secara menyeluruh.

Meski detail bentuk azab ini digambarkan berbeda dalam berbagai riwayat, semuanya menegaskan kekuasaan mutlak Allah atas makhluk-Nya serta konsekuensi berat bagi mereka yang terus menolak kebenaran setelah menerima tanda-tanda yang jelas.

Kisah Nabi Shaleh AS menjadi pengingat bahwa kemewahan hidup dan kekuatan materi tidak pernah menjamin keselamatan ruhani.

Ia menegaskan bahwa ketaatan kepada Allah merupakan kunci sejati kebahagiaan yang abadi, sekaligus menekankan prinsip mendasar dalam Islam bahwa para rasul diutus bukan untuk mengumpulkan harta atau kekuasaan, melainkan untuk membimbing manusia menuju jalan kebenaran.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Baca tentang


Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar