Editor
KOMPAS.com — Kegiatan Napak Tilas Jejak Restu Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) dimaknai sebagai ruang rekonsiliasi dan penguatan persaudaraan di internal NU.
Harapan tersebut disampaikan Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo yang turut mengikuti rangkaian napak tilas dari Bangkalan hingga Jombang, Jawa Timur, Minggu (4/1/2026).
Bupati Situbondo yang akrab disapa Bupati Rio menilai napak tilas ini sebagai momentum penting untuk menghidupkan kembali nilai sejarah, spiritualitas, dan perjuangan para ulama pendiri NU.
“Kami mengajak seluruh tokoh NU untuk kembali ke khittah dan menjaga NU sebagai rumah besar umat Islam ahlussunnah wal jamaah,” ujar Bupati Rio dalam keterangannya di Situbondo.
Baca juga: Gus Yahya Kawal Napak Tilas Jejak Restu Pendirian NU Bangkalan–Jombang
Napak tilas ini juga dikawal langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.
Sejak Minggu dini hari, Gus Yahya telah berada di kompleks Pondok Pesantren Syaichona Moh Cholil, Bangkalan, sebagai titik awal rangkaian kegiatan napak tilas rute Bangkalan–Jombang.
Gus Yahya mengawali agenda dengan melaksanakan Shalat Subuh berjamaah di Masjid Syaichona Cholil, dilanjutkan dengan pembacaan tahlil di maqbarah Syaichona Moh Cholil.
Dalam keterangannya, Gus Yahya menegaskan bahwa napak tilas memiliki makna spiritual yang mendalam bagi perjalanan NU.
“Napak tilas ini bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menghadirkan kembali kesadaran bahwa NU berdiri di atas restu para guru dan ulama dengan landasan spiritual yang sangat kuat,” ujar Gus Yahya, dalam pernyataan tertulis.
Usai tahlil, Gus Yahya secara resmi melepas keberangkatan KHR Ach Azaim Ibrahimy bersama ribuan peserta longmarch. Pelepasan tersebut menandai dimulainya perjalanan napak tilas rute bersejarah saat Kiai As’ad Syamsul Arifin menyampaikan isyarat restu dari Syaichona Moh Cholil kepada KH Hasyim Asy’ari.
Gus Yahya menilai perjalanan spiritual tersebut memuat pesan penting bagi arah kepemimpinan NU pada masa kini.
Menurutnya, yang dijaga bukan semata organisasi secara struktural, melainkan amanah rohani yang diwariskan para pendiri NU.
“Yang sedang kita jaga bukan hanya organisasi secara struktural, tetapi amanah rohani yang diwariskan para pendiri NU,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Rio juga menyatakan kesiapan Pemerintah Kabupaten Situbondo untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan Muktamar NU ke-35 pada tahun 2026 apabila kembali dipercaya. Ia mengingatkan bahwa Situbondo memiliki keterkaitan historis yang kuat dengan NU, termasuk menjadi lokasi Muktamar NU tahun 1984.
“Tentu saya bergembira jika Muktamar NU dilaksanakan di Situbondo, dan kami sangat siap. Mudah-mudahan Situbondo kembali dipercaya menjadi bagian dari dinamika besar NU,” kata Rio.
Puncak kegiatan napak tilas dijadwalkan berlangsung di kawasan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Agenda ini ditandai dengan prosesi penyerahan simbol-simbol sejarah berupa tongkat dan tasbih. KHR Ach Azaim Ibrahimy selaku dzurriyah Kiai As’ad menyerahkan pusaka tersebut kepada perwakilan dzurriyah KH Hasyim Asy’ari.
Baca juga: Kepengurusan PBNU Kembali ke Awal, Gus Yahya Tetap Ketua Umum
Pusaka tersebut kemudian diteruskan kepada Rais Aam PBNU sebelum diserahkan kepada Ketua Umum PBNU. Panitia menegaskan, estafet simbolik ini menjadi penanda kesinambungan spiritual dalam kepemimpinan Nahdlatul Ulama.
Melalui kegiatan napak tilas ini, PBNU berharap kader NU semakin memahami bahwa kelahiran NU tidak hanya berlandaskan kesepakatan formal, melainkan tumbuh dari restu para guru, isyarat spiritual, serta ketulusan para ulama dalam membangun jam’iyah yang berkhidmat bagi umat dan bangsa.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang