KOMPAS.com - Hari ini, Jumat, 16 Januari, umat Islam di Indonesia memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW sekaligus menikmati libur nasional yang kerap dimanfaatkan untuk beristirahat bersama keluarga.
Namun, momentum ini sejatinya tidak hanya dimaknai sebagai jeda dari rutinitas, melainkan kesempatan berharga untuk mengisi waktu dengan aktivitas spiritual yang lebih bermakna.
Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi panggilan reflektif agar umat Islam menata ulang kualitas ibadah, memperdalam kesadaran keimanan, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT di tengah dinamika kehidupan modern.
Sejumlah ulama menegaskan bahwa malam Isra Mi’raj merupakan waktu yang tepat untuk memperbaiki kualitas hubungan dengan Allah sekaligus menata kembali orientasi hidup.
Dalam buku Fiqh al-Sirah an-Nabawiyah karya Sa’id Ramadhan al-Buthi, dijelaskan bahwa Isra Mi’raj tidak dapat dilepaskan dari konteks pendidikan ruhani umat agar mampu menyeimbangkan dimensi langit dan bumi, antara ibadah dan kerja, antara doa dan ikhtiar.
Berangkat dari spirit tersebut, berikut sepuluh amalan yang dapat dilakukan pada hari Isra Mi’raj sebagai bentuk ikhtiar spiritual yang lebih bermakna.
Shalat merupakan pesan utama yang dibawa Rasulullah SAW dari peristiwa Isra Mi’raj. Bukan tanpa alasan, karena shalat menjadi sarana komunikasi langsung antara hamba dan Tuhannya.
Dalam Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghazali, shalat yang dilakukan dengan kesadaran penuh dan kekhusyukan disebut sebagai media penyucian jiwa yang paling efektif.
Pada momentum Isra Mi’raj, umat Islam diajak tidak hanya menunaikan shalat secara formal, tetapi memperbaiki niat, gerak, bacaan, dan kehadiran hati.
Shalat yang berkualitas membentuk kedisiplinan, ketenangan batin, dan keteguhan moral yang berdampak pada seluruh aspek kehidupan.
Baca juga: Isra Miraj 2026 Hari Ini: Makna, Sejarah, dan Hikmah Peristiwa Agung Nabi Muhammad SAW
Selain shalat wajib, shalat sunnah menjadi ruang latihan spiritual yang memperkuat hubungan personal dengan Allah.
Shalat Dhuha sering dikaitkan dengan kelapangan rezeki, sementara Tahajud dikenal sebagai simbol kedekatan hamba dengan Tuhannya.
Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam an-Nawawi, banyak hadis yang menekankan keutamaan shalat malam sebagai sumber kekuatan batin.
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa perjalanan spiritual tidak berhenti pada kewajiban minimal, tetapi perlu diperluas melalui ibadah tambahan yang memperhalus kepekaan ruhani.
Istighfar memiliki makna yang lebih luas dari sekadar pengakuan dosa. Ia merupakan proses pembersihan hati dan pembaruan komitmen hidup.
Dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an karya Imam al-Qurthubi, dijelaskan bahwa istighfar memiliki dampak sosial dan psikologis, karena membentuk kerendahan hati dan kesadaran akan keterbatasan manusia.
Pada hari Isra Mi’raj, memperbanyak istighfar menjadi sarana refleksi diri, mengurai beban kesalahan masa lalu, serta membuka ruang bagi perubahan yang lebih baik.
Shalawat bukan sekadar bacaan ritual, tetapi ekspresi cinta dan penghormatan kepada Rasulullah SAW.
Dalam buku Dalail al-Khairat karya Imam al-Jazuli, shalawat diposisikan sebagai amalan yang memiliki pengaruh besar terhadap kelapangan urusan hidup dan ketenangan jiwa.
Mengingat Isra Mi’raj merupakan peristiwa yang dialami langsung oleh Nabi Muhammad SAW, memperbanyak shalawat pada hari ini menjadi cara mempererat ikatan spiritual dengan teladan utama umat Islam.
Baca juga: 20 Ucapan Isra Miraj 2026 Penuh Makna untuk Status WhatsApp
Al-Qur’an bukan hanya kitab bacaan, tetapi sumber nilai yang membentuk cara pandang hidup.
Dalam Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab, ditegaskan bahwa tadabbur Al-Qur’an membantu manusia memahami tujuan hidup dan makna rezeki yang tidak selalu diukur secara material.
Membaca Al-Qur’an pada momentum Isra Mi’raj menjadi kesempatan untuk menata ulang orientasi hidup agar lebih selaras dengan nilai keadilan, kejujuran, dan keseimbangan.
Sedekah merupakan amalan yang mengajarkan keikhlasan dan empati. Dalam Al-Adab al-Mufrad karya Imam al-Bukhari, banyak riwayat yang menegaskan bahwa sedekah memiliki dampak luas, tidak hanya bagi penerima, tetapi juga bagi pemberi.
Isra Mi’raj mengingatkan bahwa spiritualitas sejati tidak berhenti pada relasi vertikal, tetapi harus diwujudkan dalam kepedulian sosial. Sedekah, meski kecil, menjadi simbol keberanian untuk berbagi di tengah keterbatasan.
Doa merupakan inti ibadah yang merepresentasikan ketergantungan manusia kepada Allah. Dalam buku Ad-Du’a karya Yusuf al-Qaradawi, doa dijelaskan sebagai sarana membangun optimisme dan ketenangan batin.
Pada hari Isra Mi’raj, doa tidak hanya diarahkan pada permintaan materi, tetapi juga pada permohonan rezeki yang halal, berkah, dan membawa kemaslahatan bagi diri dan orang lain.
Silaturahmi memiliki dimensi spiritual dan sosial yang kuat. Dalam Fath al-Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani, dijelaskan bahwa menjaga hubungan baik dengan sesama merupakan bagian dari ajaran Islam yang berdampak pada kelapangan hidup.
Isra Mi’raj mengajarkan keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia.
Memperbaiki relasi keluarga dan lingkungan menjadi bagian penting dari ibadah sosial yang sering terabaikan.
Baca juga: Khutbah Jumat Singkat: Jadikan Momen Isra Miraj untuk Memperbaiki Kualitas Shalat
Maksiat dalam konteks modern tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran ritual, tetapi juga mencakup perilaku tidak etis seperti kecurangan dan ketidakjujuran.
Tujuan syariat adalah menjaga nilai moral dan keadilan sosial. Momentum Isra Mi’raj dapat dimaknai sebagai ajakan untuk membersihkan diri dari kebiasaan buruk yang merusak tatanan pribadi dan masyarakat.
Islam memandang kerja sebagai bagian dari ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar. Dalam buku Etos Kerja dalam Islam karya Toto Tasmara, dijelaskan bahwa niat yang lurus dan etos kerja yang kuat merupakan kunci keberhasilan yang berkelanjutan.
Isra Mi’raj menegaskan pentingnya keseimbangan antara spiritualitas dan produktivitas. Dengan menata niat, aktivitas duniawi tidak lagi sekadar rutinitas, tetapi menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Isra Mi’raj pada akhirnya bukan hanya peringatan tahunan, melainkan momentum pembaruan spiritual yang relevan dengan tantangan zaman.
Sepuluh amalan tersebut dapat menjadi jalan reflektif untuk memperbaiki kualitas ibadah, memperkuat kepedulian sosial, dan menata kembali orientasi hidup.
Dengan demikian, Isra Mi’raj tidak berhenti sebagai cerita sejarah, tetapi hadir sebagai energi moral yang menggerakkan perubahan nyata dalam kehidupan umat Islam hari ini.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang