Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apakah Nabi Muhammad Melihat Allah Saat Isra Miraj? Ini Jawabannya

Kompas.com, 15 Januari 2026, 17:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Peristiwa Isra Miraj merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah kenabian.

Selain menjadi tanda kekuasaan Allah SWT, perjalanan ini juga mengandung banyak pertanyaan teologis yang terus dikaji hingga kini.

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul yaitu pertanyaan, apakah Nabi Muhammad SAW melihat Allah SWT saat Isra Miraj?

Pertanyaan ini tidak hanya bersifat historis, tetapi juga menyentuh aspek akidah yang sangat mendasar dalam Islam.

Karena itu, para ulama sejak generasi sahabat hingga mufasir klasik memberikan perhatian serius terhadap persoalan ini.

Baca juga: Pertanyaan tentang Isra Miraj yang Jarang Dibahas dalam Sejarah Islam

Isra Miraj sebagai Perjalanan Spiritual dan Mukjizat Ilahi

Alquran mengabadikan peristiwa Isra dalam Surah Al-Isra ayat 1, yang menegaskan bahwa Allah memperjalankan Nabi Muhammad SAW pada malam hari untuk memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya.

Sementara peristiwa Mi’raj kenaikan Nabi ke langit hingga Sidratul Muntaha diisyaratkan dalam Surah An-Najm ayat 7–18.

Dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa Isra Miraj adalah bentuk pemuliaan Allah kepada Rasul-Nya, sekaligus penguatan hati beliau setelah menghadapi tekanan berat dari kaum Quraisy.

Namun, Ibnu Katsir menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak menyatakan secara eksplisit bahwa Nabi Muhammad SAW melihat dzat Allah secara langsung.

Baca juga: Peristiwa Isra Miraj Lengkap: Tahun Kesedihan hingga Perintah Sholat

Hadis Nabi: “Aku Melihat Cahaya”

Salah satu rujukan utama dalam pembahasan ini adalah hadis riwayat Imam Muslim. Dalam Shahih Muslim, diriwayatkan dari Abu Dzar RA bahwa ia pernah bertanya langsung kepada Rasulullah SAW:

“Wahai Rasulullah, apakah engkau melihat Tuhanmu?”
Nabi SAW menjawab: “Aku melihat cahaya.”

Hadis ini dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim. Menurutnya, jawaban Nabi tersebut menunjukkan bahwa yang disaksikan Rasulullah SAW bukanlah dzat Allah, melainkan nur (cahaya) sebagai hijab keagungan-Nya.

Hal ini sejalan dengan prinsip akidah Ahlus Sunnah bahwa Allah tidak dapat dilihat dengan mata kepala di dunia.

Baca juga: Pertanyaan tentang Isra Miraj yang Jarang Dibahas dalam Sejarah Islam

Penegasan Aisyah RA: Nabi Tidak Melihat Allah

Pandangan yang paling tegas datang dari Ummul Mukminin Aisyah RA. Dalam hadis shahih yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Aisyah RA menyatakan:

“Barang siapa mengklaim bahwa Muhammad SAW melihat Tuhannya, maka sungguh ia telah membuat kebohongan besar terhadap Allah.”

Aisyah RA kemudian menguatkan pendapatnya dengan ayat Alquran:

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan.”
(QS. Al-An’am: 103)

Dalam kitab Al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa pendapat Aisyah RA ini dipegang oleh mayoritas sahabat dan tabi’in, karena lebih selaras dengan dalil Al-Qur’an dan prinsip tauhid.

Baca juga: Cara Nabi Muhammad Menjawab Keraguan Quraisy soal Isra Miraj

Perbedaan Pendapat Ulama dan Posisi Mayoritas

Sebagian ulama, seperti yang dinukil dalam Fath al-Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani, mencatat adanya perbedaan pendapat di kalangan sahabat mengenai masalah ini.

Namun Ibnu Hajar menegaskan bahwa pendapat yang paling kuat adalah Nabi Muhammad SAW tidak melihat Allah dengan mata kepala, melainkan menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya dan cahaya ilahi yang agung.

Pendapat ini juga diperkuat oleh Imam al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, yang menyatakan bahwa ru’yatullah (melihat Allah) secara langsung hanya akan diberikan kepada orang-orang beriman di akhirat kelak, bukan di dunia.

Baca juga: Khutbah Jumat Isra Miraj: Meneladani Hikmah Isra Miraj dalam Kehidupan Sehari-hari

Berdasarkan Alquran, hadis shahih, dan penjelasan para ulama klasik, dapat disimpulkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak melihat Allah SWT secara langsung saat Isra Miraj.

Yang beliau saksikan adalah cahaya dan tanda-tanda kebesaran Allah sebagai bentuk pemuliaan dan penguatan iman.

Pemahaman ini tidak mengurangi kemuliaan Isra Miraj, justru menegaskan keagungan Allah SWT yang tidak dapat dicapai oleh penglihatan makhluk di dunia.

Peristiwa Isra Miraj tetap menjadi momentum spiritual yang mengajarkan ketundukan, keimanan, dan keagungan tauhid dalam Islam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com