KOMPAS.com - Arab Saudi dikenal memiliki pendekatan yang sangat ketat dalam praktik keagamaan.
Pemerintah dan otoritas keagamaan di negara tersebut cenderung membatasi perayaan yang tidak memiliki landasan eksplisit dalam Alquran dan hadis sahih.
Dalam perspektif ini, Isra Miraj dipandang sebagai peristiwa bersejarah yang agung, tetapi tidak diwajibkan untuk dirayakan dalam bentuk seremoni atau hari libur resmi.
Prinsip kehati-hatian terhadap inovasi dalam ibadah menjadi salah satu pertimbangan utama. Otoritas keagamaan di Saudi berusaha menjaga kemurnian praktik Islam sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan generasi awal umat Islam.
Baca juga: Makna Isra Miraj bagi Dedi Mulyadi: Kesunyian, Keikhlasan, dan Introspeksi Seorang Pemimpin
Jika suatu bentuk perayaan tidak memiliki preseden yang kuat dalam praktik Rasulullah dan para sahabat, maka cenderung tidak diinstitusionalisasi sebagai tradisi publik.
Selain itu, masyarakat Arab Saudi lebih diarahkan untuk menitikberatkan perhatian pada ibadah wajib dan amalan rutin.
Shalat lima waktu, puasa, zakat, dan ibadah harian lainnya dianggap sebagai inti pembinaan spiritual umat.
Dengan pendekatan ini, peringatan hari besar yang bersifat seremonial tidak diprioritaskan dalam kebijakan negara.
Aspek lain yang turut memengaruhi adalah tradisi kesederhanaan dalam praktik keagamaan. Dalam kultur religius Saudi, ekspresi keagamaan lebih diarahkan pada konsistensi ibadah personal daripada perayaan massal.
Hal ini tercermin dalam minimnya agenda keagamaan yang berbentuk festival atau peringatan tahunan di luar hari-hari besar utama seperti Idul Fitri dan Idul Adha.
Tidak dapat dipungkiri pula bahwa pengaruh pemikiran Wahabi memiliki peran signifikan. Gerakan yang dipelopori Muhammad ibn Abd al-Wahhab pada abad ke-18 ini menekankan pemurnian akidah dan penolakan terhadap praktik keagamaan yang dianggap tidak memiliki dasar kuat dari sumber primer Islam.
Dalam kerangka pemahaman ini, peringatan Isra Miraj tidak diposisikan sebagai agenda resmi negara.
Baca juga: Khutbah Jumat 16 Januari 2026 tentang Isra Miraj: Perjalanan Penuh Hikmah dan Perintah Shalat
Uni Emirat Arab memiliki latar belakang yang berbeda dibandingkan Arab Saudi, baik dari sisi sosial maupun kebijakan kenegaraan.
Meski demikian, dalam konteks Isra Miraj, UEA kini menerapkan kebijakan yang hampir serupa.
Menariknya, UEA sempat menjadikan Isra Miraj sebagai hari libur nasional hingga 2018. Namun, sejak 2019 pemerintah memutuskan untuk menghapusnya dari daftar hari libur resmi.
Kebijakan ini merupakan bagian dari penataan ulang kalender libur nasional yang bertujuan menyederhanakan jumlah hari libur serta menyesuaikannya dengan kebutuhan ekonomi dan produktivitas nasional.
Baca juga: 10 Puisi Isra Miraj Penuh Makna, Cocok Dibacakan saat Peringatan
UEA yang dikenal sebagai pusat bisnis dan perdagangan internasional berupaya menyeimbangkan antara identitas keislaman dan kepentingan ekonomi global.
Dalam konteks tersebut, pemerintah memilih untuk mempertahankan hari-hari besar utama seperti Idul Fitri dan Idul Adha, sementara peringatan lain, termasuk Isra Miraj, tidak lagi dijadikan hari libur resmi.
Meski tidak ditetapkan sebagai tanggal merah, umat Islam di UEA tetap bebas memperingati Isra Miraj secara personal atau dalam lingkup komunitas.
Masjid-masjid tetap menyampaikan kajian dan ceramah tematik, meskipun tidak dalam skala besar seperti di beberapa negara lain.
Baca juga: Peringatan Isra Miraj dan Tradisi Muslim di Berbagai Negara
Berbeda dengan Arab Saudi dan UEA, Indonesia memiliki tradisi keagamaan yang sangat kental dengan pendekatan kultural.
Peringatan Isra Miraj tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa spiritual, tetapi juga sebagai sarana dakwah, pendidikan keagamaan, dan penguatan identitas umat.
Penetapan Isra Miraj sebagai hari libur nasional di Indonesia mencerminkan peran negara dalam mengakomodasi kebutuhan spiritual masyarakat.
Selain itu, peringatan ini sering dipadukan dengan nilai kebersamaan, gotong royong, serta tradisi lokal yang telah berkembang sejak lama.
Perbedaan pendekatan ini menunjukkan bahwa praktik keagamaan di dunia Islam tidak bersifat seragam.
Setiap negara memiliki cara sendiri dalam memaknai dan mengelola peringatan hari besar Islam, sesuai dengan latar belakang sosial, budaya, dan kebijakan kenegaraan masing-masing.
Baca juga: Makna Isra Miraj bagi Dedi Mulyadi: Kesunyian, Keikhlasan, dan Introspeksi Seorang Pemimpin
Tidak dijadikannya Isra Miraj sebagai hari libur nasional di Arab Saudi dan UEA bukan berarti peristiwa tersebut dianggap tidak penting.
Perbedaan ini lebih mencerminkan variasi cara pandang dalam mengekspresikan nilai-nilai keislaman.
Bagi sebagian negara, penekanan diletakkan pada ibadah individual dan pemurnian praktik keagamaan.
Sementara bagi negara lain, termasuk Indonesia, peringatan hari besar Islam juga diposisikan sebagai momentum edukasi publik dan penguatan spiritual kolektif.
Perbedaan ini pada akhirnya memperkaya khazanah praktik Islam global. Isra Miraj tetap menjadi peristiwa agung dalam sejarah Islam, meskipun cara memperingatinya dapat berbeda-beda di setiap wilayah.
Yang terpenting, substansi pesan Isra Miraj tentang kewajiban shalat, keteguhan iman, dan kedekatan dengan Allah SWT tetap menjadi ruh utama yang relevan bagi umat Islam di mana pun berada.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang