Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apakah Hajar Aswad dari Bumi atau Luar Angkasa? Temuan Ilmiah Bertemu Keyakinan Iman

Kompas.com, 18 Januari 2026, 12:28 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Hajar Aswad, batu hitam yang menjadi pusat perhatian jutaan jemaah haji dan umrah di sudut Ka’bah, sejak lama diyakini umat Islam sebagai batu dari surga.

Namun, perkembangan riset ilmiah modern justru menghadirkan temuan menarik: batu suci tersebut kemungkinan besar memang bukan berasal dari bumi biasa.

Keyakinan umat Islam itu bersandar pada sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan At-Tirmidzi dan dikutip dalam buku Tapak Sejarah Seputar Makkah–Madinah karya Muslim H Nasution:

Hajar Aswad adalah batu dari batu-batuan surga.” (HR At-Tirmidzi)

Hadis lain menyebutkan bahwa Hajar Aswad awalnya berwarna putih seperti susu, lalu berubah menjadi hitam akibat dosa-dosa manusia.

Baca juga: 5 Berita Terpopuler Cahaya Kemarin: Aduan Haji Disorot, Petugas Dipulangkan, hingga Kabar Raja Salman

Antara Keyakinan dan Penelitian Ilmiah

Dalam sejarah Islam, Hajar Aswad dikisahkan dibawa Malaikat Jibril kepada Nabi Ibrahim AS untuk diletakkan di Ka’bah.

Batu tersebut kemudian kembali dipasang oleh Nabi Muhammad SAW ketika renovasi Ka’bah sebelum masa kenabian.

Hingga kini, mencium atau menyentuh Hajar Aswad menjadi bagian dari sunnah dalam ibadah thawaf.

Menariknya, keyakinan keagamaan ini bersinggungan dengan hasil penelitian ilmiah modern.

Salah satu kajian yang kerap dirujuk datang dari Elsebeth Thomsen, ilmuwan University of Copenhagen, melalui studinya berjudul "New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka’ba".

Dalam penelitiannya, Thomsen mengemukakan bahwa Hajar Aswad memiliki kemiripan kuat dengan kaca impaksit, material yang terbentuk akibat tumbukan meteorit besar di permukaan bumi.

Jejak Kawah Meteorit Wabar

Penelitian tersebut mengaitkan Hajar Aswad dengan kawah Wabar di wilayah Rub’ al Khali, Arab Saudi.

Kawah ini ditemukan oleh penjelajah Inggris Harry St John Philby pada 1932 dan diyakini sebagai lokasi tumbukan meteorit purba.

Kajian Dietz dan McHone (1974) menyebutkan bahwa Hajar Aswad terdiri atas delapan fragmen kecil yang disatukan dengan bingkai perak.

Permukaannya hitam mengilap, sementara bagian dalamnya berwarna putih seperti susu. Batu ini juga disebut dapat mengapung di air, sifat yang tidak lazim pada batuan bumi atau meteorit logam.

Karakteristik tersebut serupa dengan kaca impaksit dari kawah Wabar, yang memiliki bagian luar hitam berkilau, bagian dalam putih berpori, serta kandungan nikel dan besi akibat panas ekstrem dari tumbukan meteorit.

Penelitian El Goresy dkk. (1968) menjelaskan bahwa material ini terbentuk dari lelehan pasir silika akibat hantaman benda langit berkecepatan tinggi.

Dibawa Kafilah Kuno?

Thomsen kemudian membandingkan sampel kaca Wabar yang tersimpan di Museum Geologi Kopenhagen dengan deskripsi Hajar Aswad dalam literatur sejarah.

Hasilnya menunjukkan kemiripan yang mencolok. Usia material tersebut diperkirakan mencapai sekitar 6.400 tahun.

Ia menduga batu tersebut kemungkinan dibawa ke Makkah oleh kafilah dagang kuno dari wilayah Oman yang melintasi kawasan Wabar, jauh sebelum masa Nabi Ibrahim AS.

Sejarah dan Keyakinan yang Saling Melengkapi

Dalam catatan klasik Islam, Hajar Aswad tetap dipandang sebagai batu terakhir yang menyempurnakan bangunan Ka’bah.

Prof Dr Ali Husni Al-Kharbuthli dalam bukunya Sejarah Ka’bah menegaskan bahwa batu tersebut merupakan anugerah dari surga yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Ibrahim AS.

Riwayat Imam Ath-Thabari juga mencatat, ketika Nabi Ismail AS mencari batu untuk Ka’bah, Nabi Ibrahim AS telah meletakkan Hajar Aswad seraya mengatakan bahwa batu itu berasal dari langit.

Muslim Nasution menulis:

“Hajar Aswad bukanlah batu yang berasal dari bumi, melainkan batu suci yang diturunkan dari surga. Awalnya berwarna putih, lalu berubah menjadi hitam karena dosa manusia.”

Iman Tidak Berkurang oleh Ilmu

Bagi para ulama, temuan ilmiah tersebut tidak mengurangi nilai spiritual Hajar Aswad. Justru, kesamaan ciri fisik dengan material meteorit dipandang sebagai penjelasan ilmiah yang sejalan dengan keyakinan bahwa batu tersebut memiliki “jejak langit”.

Baca juga: Warga Padang Berjalan Kaki ke Makkah demi Haji, Kemenhaj Beri Penjelasan

Pada akhirnya, bagi umat Islam, asal-usul fisik Hajar Aswad bukan inti ibadah.

Seperti ditegaskan Umar bin Khattab RA, penghormatan terhadap Hajar Aswad adalah bentuk ketaatan kepada Rasulullah SAW, bukan pemujaan terhadap batu.

Di titik inilah sains dan iman bertemu—bukan untuk saling meniadakan, melainkan untuk saling mengingatkan bahwa sebagian misteri memang ditakdirkan untuk tetap diselimuti kekhusyukan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar