Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berapa Hari Lagi Puasa 2026: Imsak Bukan Sekadar Tanda Sahur

Kompas.com, 30 Januari 2026, 18:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bagi umat Muslim, imsak bukan sekadar angka pada jadwal Ramadhan. Ia adalah alarm kesadaran, penanda bahwa waktu persiapan telah habis dan ibadah puasa segera dimulai.

Di balik bunyi pengingat imsak yang terdengar setiap dini hari, tersimpan makna mendalam tentang disiplin, kehati-hatian, serta latihan spiritual yang telah diwariskan sejak generasi awal Islam.

Di Indonesia, istilah imsak sudah begitu akrab. Namun tidak sedikit yang masih bertanya-tanya, apakah imsak bagian dari rukun puasa?

Mengapa waktunya berbeda-beda di setiap daerah? Dan apa sebenarnya nilai spiritual di balik momen beberapa menit sebelum Subuh itu?

Baca juga: Apakah Boleh Puasa Tanpa Sahur? Ini Jawaban Ulama dan Dalilnya

Memahami Imsak: Dari Makna Bahasa hingga Praktik Ibadah

Secara etimologis, imsak berasal dari kata Arab amsaka yang berarti menahan atau menghentikan.

Dalam konteks puasa, imsak merujuk pada waktu kehati-hatian sebelum terbit fajar shadiq, yaitu saat dimulainya waktu Subuh yang menandai awal puasa secara syariat.

Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa puasa secara hukum dimulai sejak terbitnya fajar shadiq hingga terbenamnya matahari.

Adapun imsak bukanlah batas wajib puasa, melainkan bentuk kehati-hatian agar seseorang tidak terjebak makan atau minum ketika waktu Subuh telah masuk.

Dengan kata lain, imsak berfungsi sebagai penyangga waktu, memberikan ruang aman bagi umat Muslim untuk menyempurnakan sahur dan bersiap memasuki ibadah puasa.

Baca juga: Hitung Mundur Puasa 2026: Kurang Berapa Hari Lagi Ramadhan 1447 H?

Dasar Al-Qur’an tentang Awal Puasa

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 187:

Wa kulū wasyrabū ḥattā yatabayyana lakumul-khaiṭul-abyaḍu minal-khaiṭil-aswadi minal-fajr.

Artinya: “Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”

Menurut Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab, ayat ini menjelaskan bahwa batas sahur adalah munculnya fajar shadiq, bukan imsak.

Namun praktik imsak tetap dianjurkan sebagai bentuk kewaspadaan, terutama di daerah yang sulit mengamati perubahan cahaya fajar secara kasat mata.

Baca juga: Niat Sahur Puasa yang Sahih: Bacaan, Waktu Terbaik, dan Tata Caranya Sesuai Hadis

Fungsi Imsak: Lebih dari Sekadar Pengingat Waktu

Imsak memiliki peran yang lebih luas dibanding sekadar alarm berhenti makan dan minum. Pertama, imsak membantu umat Muslim membangun disiplin waktu.

Kebiasaan bangun dini hari, menyelesaikan sahur tepat waktu, dan bersiap shalat Subuh membentuk pola hidup teratur selama Ramadhan.

Kedua, imsak melatih pengendalian diri. Dalam buku Tazkiyatun Nafs karya Ibn Qayyim Al-Jauziyyah disebutkan bahwa latihan menahan diri sejak sebelum fajar membantu memperkuat kontrol hawa nafsu yang menjadi inti dari ibadah puasa.

Ketiga, imsak berfungsi sebagai ruang spiritual. Beberapa menit menjelang Subuh sering disebut sebagai waktu yang penuh keberkahan.

Banyak ulama menganjurkan memperbanyak istighfar dan doa pada waktu ini karena suasana sunyi memudahkan hati untuk khusyuk.

Bagaimana Waktu Imsak Dihitung? Perpaduan Astronomi dan Tradisi

Penentuan waktu imsak tidak lepas dari ilmu falak atau astronomi Islam. Para ahli menghitung posisi matahari di bawah ufuk timur untuk menentukan kapan fajar shadiq mulai tampak.

Di Indonesia, Kementerian Agama menggunakan perhitungan astronomis dengan standar tertentu untuk menetapkan jadwal imsakiyah nasional.

Dalam buku Ilmu Falak Praktis karya Ahmad Izzuddin dijelaskan bahwa perbedaan ketinggian matahari, kondisi geografis, serta atmosfer dapat memengaruhi waktu munculnya fajar. Itulah sebabnya waktu imsak di setiap daerah tidak selalu sama.

Selain aspek ilmiah, tradisi juga turut membentuk praktik imsak. Di sebagian wilayah, imsak ditandai dengan bedug masjid atau pengumuman keliling.

Di daerah lain, masyarakat mengandalkan jadwal resmi atau aplikasi digital. Meski caranya berbeda, tujuannya tetap sama, yaitu menjaga kehati-hatian dalam memulai puasa.

Baca juga: Niat Puasa Ramadhan: Doa Sahur Rasulullah yang Jarang Diketahui

Imsak dan Kesehatan: Menyiapkan Tubuh Menjalani Puasa

Dari sudut pandang kesehatan, imsak memberikan jeda bagi tubuh untuk beradaptasi sebelum memasuki fase puasa panjang.

Dalam buku Thibbun Nabawi karya Ibn Qayyim disebutkan bahwa jeda antara sahur dan puasa membantu sistem pencernaan menyelesaikan proses cerna, sehingga mengurangi risiko gangguan lambung.

Imsak juga membantu mengontrol lonjakan gula darah. Dengan menghentikan konsumsi makanan manis menjelang Subuh, tubuh terhindar dari fluktuasi energi yang ekstrem di pagi hari.

Namun para ahli kesehatan mengingatkan agar imsak tidak dilakukan terlalu lama dari waktu Subuh karena dapat meningkatkan risiko dehidrasi, terutama di daerah beriklim panas.

Kunci utama adalah keseimbangan, sahur dengan gizi cukup, minum air yang memadai, dan menghentikan makan secara wajar menjelang imsak.

Ragam Praktik Imsak di Dunia Islam

Di Timur Tengah, waktu imsak biasanya diumumkan secara resmi melalui media nasional dan masjid-masjid besar.

Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia, imsak sudah menjadi tradisi yang melekat dalam budaya Ramadhan, bahkan sering dikemas dalam bentuk acara sahur bersama.

Sementara itu, di negara-negara Eropa dan Amerika Utara, komunitas Muslim menghadapi tantangan unik karena waktu Subuh bisa sangat dini atau sangat larut, tergantung musim.

Beberapa lembaga Islam setempat menyesuaikan metode penentuan imsak agar tetap relevan dengan kondisi geografis, tanpa mengabaikan prinsip syariat.

Perbedaan ini menunjukkan fleksibilitas Islam dalam merespons konteks lokal, selama prinsip dasarnya tetap dijaga.

Imsak sebagai Momentum Spiritual Ramadhan

Lebih dari sekadar penanda waktu, imsak adalah gerbang masuk ke suasana Ramadhan setiap harinya.

Di saat kebanyakan manusia masih terlelap, umat Muslim diajak untuk bangun, bersiap, dan menata niat. Momen inilah yang sering disebut sebagai latihan kesungguhan.

Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, disebutkan bahwa waktu menjelang Subuh adalah saat yang sangat baik untuk muhasabah diri dan memperbarui niat ibadah.

Imsak menjadi pintu awal dari rangkaian ibadah harian, puasa, shalat Subuh, tilawah, hingga aktivitas dunia yang bernilai ibadah jika diniatkan dengan benar.

Baca juga: Yang Membatalkan Puasa Ramadhan: Ini 7 Hal yang Harus Dihindari

Menjadikan Imsak Lebih Bermakna

Agar imsak tidak berhenti sebagai rutinitas mekanis, umat Muslim dianjurkan mengisinya dengan amalan ringan namun konsisten.

Membaca istighfar, memperbanyak doa atau sekadar merenungkan niat puasa dapat mengubah suasana dini hari menjadi momen spiritual yang berharga.

Dengan memahami imsak secara utuh, baik dari sisi syariat, sains waktu, maupun makna spiritual, umat Muslim dapat menjalani Ramadhan dengan lebih sadar dan berkualitas.

Imsak bukan hanya tentang berhenti makan, tetapi tentang memulai perjalanan harian menuju ketakwaan. Dan di sanalah letak keistimewaannya, sederhana dalam praktik, namun besar dalam makna.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar