Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fenomena Sahur On The Road, Ini Batasan yang Sering Diabaikan

Kompas.com, 30 Januari 2026, 20:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menjelang waktu imsak, jalanan kota mulai hidup. Lampu kendaraan menyala, deru motor bersahut-sahutan, dan sekumpulan anak muda membawa kotak nasi melintas sambil tersenyum.

Pemandangan seperti ini kerap mewarnai Ramadhan di Indonesia. Fenomena itu dikenal dengan istilah sahur on the road (SOTR).

Di satu sisi, sahur on the road menghadirkan romantisme Ramadhan, kebersamaan, kepedulian sosial, dan semangat berbagi.

Namun di sisi lain, praktik ini juga menyimpan potensi masalah bila dilakukan tanpa batasan. Lalu, bagaimana Islam memandang sahur on the road? Di mana batas antara amal kebaikan dan mudarat sosial?

Baca juga: Puasa Ramadhan: Tidur Setelah Sahur, Bolehkah atau Makruh?

Sahur on the Road: Dari Gerakan Sosial ke Budaya Anak Muda

Secara istilah, sahur on the road berarti aktivitas makan sahur di luar rumah yang biasanya dibarengi kegiatan berbagi makanan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dalam praktiknya, kegiatan ini banyak dilakukan oleh komunitas pemuda, mahasiswa, hingga organisasi sosial.

Menurut A. Mustafa dalam buku Nuansa Fiqih Sosial, tradisi sahur kolektif di ruang publik lahir dari semangat filantropi Islam yang ingin menghadirkan nilai kepedulian di ruang sosial. Konsep berbagi makanan ini sejalan dengan spirit Ramadhan sebagai bulan solidaritas.

Namun seiring popularitasnya, sahur on the road juga mengalami pergeseran makna. Dari aktivitas sosial yang terorganisir, berubah menjadi ajang konvoi, hiburan malam, bahkan unjuk eksistensi kelompok tertentu. Di titik inilah persoalan mulai muncul.

Baca juga: Hitung Mundur Puasa 2026: Kurang Berapa Hari Lagi Ramadhan 1447 H?

Spirit Sahur dalam Islam: Bukan Sekadar Makan

Dalam Islam, sahur memiliki kedudukan penting. Rasulullah SAW bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً

Tasahharuu fa inna fis suhuuri barakah

Artinya: “Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa keberkahan sahur tidak hanya terletak pada kekuatan fisik, tetapi juga pada nilai spiritual, kebersamaan, dan niat ibadah.

Artinya, sahur seharusnya menjadi momentum mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar aktivitas sosial tanpa arah.

Baca juga: Niat Sahur Puasa yang Sahih: Bacaan, Waktu Terbaik, dan Tata Caranya Sesuai Hadis

Batasan Sahur on the Road dalam Perspektif Syariat

Islam membuka ruang luas untuk berbagi kebaikan. Namun, setiap amal tetap memiliki koridor etika dan hukum. Sahur on the road dapat bernilai ibadah jika memenuhi beberapa prinsip dasar.

Pertama, niat harus lurus karena Allah SWT. Aktivitas berbagi sahur hendaknya diniatkan sebagai sedekah, bukan demi konten media sosial atau popularitas kelompok. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنفُسِكُمْ

Wa maa tunfiquu min khairin falianfusikum

Artinya: “Apa pun yang kamu infakkan berupa kebaikan, maka itu untuk dirimu sendiri.” (QS. Al-Baqarah: 272)

Kedua, tidak menimbulkan mudarat. Dalam kaidah fikih disebutkan:

La dharara wa la dhiraar

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain.”

Jika sahur on the road menyebabkan kemacetan, kebisingan, perkelahian atau mengganggu ketertiban umum, maka nilai ibadahnya gugur dan berubah menjadi perbuatan tercela.

Ketiga, menjaga adab dan akhlak. Prof. Quraish Shihab dalam buku Membumikan Al-Qur’an, menegaskan bahwa ibadah sosial harus mencerminkan akhlak Islam, termasuk sopan santun, ketertiban, dan menghormati ruang publik.

Baca juga: Niat Puasa Ramadhan: Doa Sahur Rasulullah yang Jarang Diketahui

Ketika Sahur On The Road Berubah Arah

Dalam beberapa tahun terakhir, aparat kepolisian di berbagai daerah bahkan melarang konvoi sahur on the road.

Alasannya bukan tanpa dasar. Banyak laporan menunjukkan bahwa kegiatan ini sering memicu balapan liar, bentrokan antarkelompok, hingga tindak kriminal.

Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran nilai, dari semangat berbagi menjadi sekadar euforia malam Ramadhan. Padahal, esensi Ramadhan adalah pengendalian diri, bukan pelampiasan energi tanpa arah.

Alternatif Sahur Berkah Tanpa Risiko

Ramadhan tetap bisa dihidupkan tanpa harus turun ke jalan secara massal. Ada banyak bentuk sahur berbasis sosial yang lebih aman dan tertib.

Beberapa komunitas kini mengalihkan program menjadi dapur sahur keliling terkoordinasi, pembagian makanan melalui masjid, panti asuhan atau posko kemanusiaan. Model ini dinilai lebih efektif, minim konflik, dan tepat sasaran.

Menurut KH. Afifuddin Muhajir dalam Fikih Kebangsaan, aktivitas ibadah sosial seharusnya mempertimbangkan maslahat publik. Semakin besar manfaat dan semakin kecil mudarat, semakin tinggi nilai ibadahnya.

Baca juga: 5 Ayat Ramadhan dalam Al Quran: Makna, Hikmah, dan Pesan Spiritualnya

Sahur On The Road sebagai Cermin Wajah Ramadhan

Sahur on the road sejatinya adalah cermin wajah Ramadhan di ruang publik. Jika dilakukan dengan tertib, penuh empati, dan berlandaskan niat yang lurus, ia menjadi simbol indah solidaritas umat. Namun jika berubah menjadi ajang hura-hura, maka maknanya justru berbalik arah.

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga menahan ego, emosi, dan keinginan untuk tampil berlebihan. Di situlah letak ujian sesungguhnya.

Di penghujung malam, saat imsak kian mendekat, pertanyaannya bukan lagi “ke mana kita sahur,” tetapi “untuk apa kita sahur.” Apakah untuk sekadar berkumpul atau untuk menumbuhkan takwa.

Sebagaimana firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikumush shiyaamu la‘allakum tattaquun

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Di situlah tujuan akhir Ramadhan, bukan keramaian jalanan, tetapi ketenangan hati dan kedewasaan spiritual.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar