Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Prabowo Undang 64 Tokoh Ormas Islam ke Istana Bahas Board of Peace

Kompas.com, 3 Februari 2026, 12:36 WIB
Farid Assifa

Penulis

Sumber MUIDigital

KOMPAS.com - Kabar undangan Presiden Prabowo Subianto kepada pimpinan ormas Islam akhirnya terkonfirmasi.

Pertemuan dijadwalkan di Istana Negara, Selasa (3/2/2026), dengan agenda utama membahas posisi Indonesia terkait Board of Peace.

Konfirmasi datang dari Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim, saat ditemui di Kantor Majelis Ulama Indonesia di Menteng, Jakarta Pusat.

Menurut Prof Sudarnoto, undangan tersebut ditujukan kepada 64 tokoh pimpinan ormas Islam dan pengasuh pondok pesantren.

“InsyaAllah yang hadir atas nama MUI dua. Ketua Umum KH Anwar Iskandar dan Sekjen MUI Buya Amirsyah Tambunan,” ujarnya dilansir dari MUI Digital.

Baca juga: MUI Desak RI Keluar dari Board of Peace, Berikut Alasan-alasannya

Selain dua nama itu, tokoh MUI lain juga masuk daftar undangan, yakni Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis sebagai pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, serta Ketua MUI Bidang Ukhuwah KH Zaitun Rasmin yang juga menjabat Ketua Umum Wahdah Islamiyah.

Dikonfirmasi terpisah, Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis membenarkan dirinya diundang ke Istana oleh Presiden Prabowo membahas tentang Board of Peace.

"Mau masih jalan," ujar Kiai Cholil saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (3/2/2026).

Fokus Bahas Board of Peace

Prof Sudarnoto menyebut pertemuan ini secara spesifik akan membahas rencana bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace.

Ia menilai langkah Presiden mengundang para tokoh Islam sangat tepat untuk membangun komunikasi yang selama ini memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat.

“Pertemuan ini bagus sekali. Presiden akan mendengarkan masukan yang akan diberikan oleh para tokoh, termasuk tokoh MUI. Harapannya pertemuan ini menghasilkan konstruktif untuk kepentingan nasional maupun kepentingan Palestina,” katanya.

Menurutnya, tanpa komunikasi langsung dengan para tokoh ormas, perdebatan publik terkait Board of Peace berpotensi terus melebar.

Pesan soal Palestina

Dalam keterangannya, Prof Sudarnoto juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki dua misi besar yang tidak boleh dilupakan: mendukung kemerdekaan Palestina dan menghapus penjajahan.

Ia berharap pembahasan di Istana Negara tetap berpijak pada dua prinsip tersebut.

Lima Menteri Dampingi Presiden

Undangan yang beredar sehari sebelumnya juga mencantumkan lima menteri yang akan mendampingi Presiden dalam pertemuan ini, yakni: Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid.

Baca juga: Warga NU Tolak Keterlibatan RI di Board of Peace, Kecam Sikap PBNU

Pertemuan ini disebut sebagai silaturahmi Presiden RI dengan pimpinan ormas Islam, namun substansinya sangat strategis karena menyangkut arah sikap Indonesia di forum internasional.

Dengan hadirnya puluhan tokoh ormas dan pesantren, pertemuan ini dipandang sebagai ruang dialog penting agar kebijakan luar negeri Indonesia tetap selaras dengan aspirasi umat dan kepentingan nasional.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com