Editor
KOMPAS.com - Kucing memiliki posisi khusus dalam ajaran dan tradisi Islam, seiring teladan kasih sayang yang ditunjukkan Nabi Muhammad SAW terhadap hewan.
Hewan ini kerap dikaitkan dengan sikap welas asih Rasulullah SAW yang dikenal menyayangi kucing peliharaannya.
Dalam Islam, kucing dipandang sebagai hewan yang harus diperlakukan dengan baik.
Teladan tersebut ditunjukkan oleh Rasulullah Muhammad SAW yang dikenal menyayangi kucing, bahkan memelihara seekor kucing bernama Muezza.
Baca juga: Kasus Kakek Tendang Kucing di Blora, Polisi: Motif Spontan, Terganggu Saat Joging
Meski demikian, kucing disebut tidak dapat masuk surga seperti manusia ketika di akhirat nanti.
Berikut penjelasan mengenai hal tersebut merujuk pada ajaran Islam tentang kedudukan manusia, hewan, dan kehidupan akhirat, seperti dikutip Kompas.com dari Antara.
Meski sangat dimuliakan, kucing tidak termasuk makhluk yang akan masuk ke surga sebagaimana manusia.
Hal ini ternyata memiliki penjelasan tersendiri, yaitu karena dalam ajaran Islam, kucing merupak kucing bukan makhluk mukallaf yang berarti termasuk makhluk yang tidak dibebani syariat atau tidak dihisab seperti manusia.
Hewan, termasuk kucing, tidak dibebani kewajiban ibadah dan syariat seperti manusia sehingga tidak dikenai hisab.
Sementara, surga diperuntukkan bagi makhluk yang nantinya telah dihisab dan menjalankan ibadah dan amal saleh, yaitu manusia.
Islam mengajarkan bahwa seluruh makhluk hidup akan dibangkitkan pada hari kiamat, termasuk hewan.
Karena kucing bukan makhluk mukallaf yang dibebani syariat, mereka tidak menjalani hisab sebagaimana manusia.
Mereka dibangkitkan untuk mendapatkan keadilan atau memberi kesaksian atas perlakuan yang mereka terima di dunia, yang setelahnya, hewan-hewan tersebut akan diperintahkan menjadi tanah.
Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits berikut:
إن الله يحشر الخلق كلهم، كل دابة وطائر وإنسان، يقول للبهائم والطيركونوا ترابًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua makhluk pada hari akhirat kelak. Yaitu setiap hewan, burung-burung, dan juga manusia. Lalu Allah berkata kepada hewan-hewan dan juga burung, ‘Jadilah kamu tanah’.” (HR Abu Hurairah RA)
Berdasarkan hadits tersebut, kucing—meskipun merupakan hewan yang disayangi Rasulullah SAW—tetap akan menjadi tanah setelah proses keadilan ditegakkan.
Berbeda dengan hewan, manusia akan dihisab oleh Allah SWT atas seluruh amal perbuatannya.
Setiap kebaikan dan keburukan, sekecil apa pun, akan mendapatkan balasan sesuai ketetapan Allah.
Oleh karena itu, surga dan neraka menjadi balasan bagi manusia yang menjalankan atau meninggalkan perintah-Nya.
Meski kucing tidak masuk surga, sebagian ulama menyebut bahwa manusia yang masuk surga dapat berharap memperoleh apa yang diinginkannya.
Hal ini merujuk pada janji Allah SWT bahwa penghuni surga akan mendapatkan kenikmatan dan keinginan mereka, termasuk kemungkinan bertemu kembali dengan hewan kesayangan.
Islam tetap menekankan pentingnya memperlakukan hewan dengan baik.
Rasulullah SAW melarang menelantarkan kucing maupun hewan lain dan menganjurkan memberi makan hewan yang kelaparan atau kesulitan mencari makan.
Ajaran ini menegaskan bahwa kasih sayang terhadap hewan merupakan bagian dari akhlak mulia dalam Islam.
Dengan demikian, meski kucing tidak masuk surga bukan karena tingkah laku atau ulahnya di dunia, melainkan karena tidak dibebani kewajiban ibadah seperti manusia.
Sehingga, Islam tetap menempatkan hewan sebagai makhluk yang harus diperlakukan dengan penuh kasih dan tanggung jawab selama hidup di dunia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang