Editor
KOMPAS.com – Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) mendorong seluruh perukyah NU di berbagai daerah untuk melaksanakan rukyatul hilal awal Ramadhan 1447 Hijriah pada Selasa Kliwon, 29 Sya’ban 1447 H / 17 Februari 2026 M.
Dorongan tersebut tertuang dalam Surat Nomor 127/PB.08/A.I.02.13/13/02/2026 yang ditandatangani Ketua LF PBNU KH Sirril Wafa dan Sekretaris LF PBNU H Asmui Mansur pada Ahad (15/2/2026).
“Lembaga Falakiyah PBNU mendorong perukyah Nahdlatul Ulama untuk melaksanakan rukyatul hilal awal bulan Ramadhan 1447 H pada hari Selasa Kliwon, 29 Sya’ban 1447 H / 17 Februari 2026 M,” demikian bunyi surat tersebut.
Baca juga: Awal Puasa Ramadhan 18 atau 19 Februari 2026? Ini Versi Muhammadiyah, NU, BRIN, dan Pemerintah
LF PBNU menyebutkan, meskipun posisi hilal masih berada di bawah ufuk, rukyatul hilal tetap didorong dengan tiga pertimbangan utama:
1. Pemerintah Indonesia akan menggelar sidang isbat awal Ramadhan 1447 H.
2. Keputusan Muktamar ke-20/1954 di Surabaya.
3. Keputusan Muktamar ke-34/2021 di Bandar Lampung.
LF PBNU juga meminta hasil rukyah dilaporkan secara lengkap melalui formulir resmi yang telah disediakan.
Secara astronomis, pada 29 Sya’ban 1447 H (17 Februari 2026), tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia masih negatif atau di bawah ufuk.
Tinggi hilal terbesar tercatat di Kota Sabang, Aceh, yakni -1 derajat 41 menit, sedangkan yang terendah berada di Jayapura, Papua, yakni -3 derajat 12 menit.
Sementara di Jakarta, tepatnya di markaz Gedung PBNU Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat, tinggi hilal tercatat -1 derajat 44 menit 39 detik dengan posisi matahari terbenam 12 derajat 03 menit 24 detik di selatan titik barat.
Ijtimak (konjungsi) sendiri terjadi pada Selasa Kliwon, 17 Februari 2026 pukul 19.02.02 WIB berdasarkan perhitungan falak tahqiqi tadqiki ashri kontemporer khas Nahdlatul Ulama.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut merilis informasi prakiraan hilal untuk penentuan awal Ramadhan 1447 H.
BMKG menyebutkan konjungsi terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul:
Konjungsi terjadi setelah matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia pada 17 Februari 2026.
Pada tanggal tersebut, ketinggian hilal di Indonesia berkisar antara -2,41 derajat di Jayapura hingga -0,93 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat.
Sementara pada 18 Februari 2026, ketinggian hilal sudah positif, berkisar antara 7,62 derajat di Merauke hingga 10,03 derajat di Sabang.
Data lain menunjukkan umur bulan saat matahari terbenam 17 Februari 2026 masih negatif, antara -3,07 jam hingga -0,16 jam, dan lama hilal di atas ufuk juga negatif.
Dengan kondisi hilal yang masih di bawah ufuk dan belum memenuhi kriteria imkanur rukyah pada 29 Sya’ban, terdapat potensi besar bulan Sya’ban 1447 H akan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.
Baca juga: Jadwal dan Link Live Streaming Sidang Isbat Awal Puasa 1 Ramadhan 2026
Jika demikian, maka besar kemungkinan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis Pahing, 19 Februari 2026.
Meski demikian, kepastian awal Ramadhan tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar pemerintah melalui Kementerian Agama serta ikhbar resmi dari PBNU pada Selasa (17/2/2026) malam.
Keputusan akhir tersebut akan menjadi rujukan umat Islam di Indonesia dalam memulai ibadah puasa Ramadhan tahun ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang