Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

MUI Kritik Deal Prabowo–AS soal Produk Masuk RI Tanpa Sertifikat Halal

Kompas.com, 21 Februari 2026, 20:55 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyoroti kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat yang memuat ketentuan pelonggaran sertifikasi halal untuk produk nonhalal asal AS.

Dilansir dari situs resmi MUI pada Sabtu (21/2/2026), Ketua MUI Bidang Fatwa, Asrorun Ni'am Sholeh, menegaskan bahwa kewajiban sertifikasi halal bagi produk yang masuk dan beredar di Indonesia tidak dapat dinegosiasikan.

Kesepakatan tersebut merupakan bagian dari perjanjian tarif resiprokal atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang diteken Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington, Kamis (20/2/2026).

Baca juga: MUI Tegaskan Fatwa Haram Buang Sampah ke Sungai dan Laut

Halal Bukan Sekadar Label Administratif

Prof Ni’am menekankan bahwa dalam konteks Indonesia sebagai negara dengan mayoritas Muslim, kehalalan produk merupakan bagian dari kewajiban agama.

Ia merujuk pada Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal yang menyatakan setiap produk yang masuk, beredar, dan diperjualbelikan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal.

“Undang-undang kita mengatur jaminan produk halal. Setiap produk yang masuk dan beredar di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal,” ujarnya.

Menurut dia, regulasi tersebut bukan sekadar ketentuan teknis perdagangan, melainkan bentuk perlindungan negara terhadap hak beragama yang dijamin konstitusi.

Konsumsi halal, tegasnya, merupakan kewajiban syariat yang tidak bisa ditukar dengan kepentingan ekonomi.

“Dikasih gratis saja, jika tidak halal, maka tidak boleh dikonsumsi,” kata Guru Besar Ilmu Fikih UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Baca juga: MUI Imbau Bangunkan Sahur Pakai Toa Secukupnya, Jangan Ganggu Warga Non-Muslim

Respons atas Kesepakatan RI–AS

Dalam dokumen ART, Indonesia disebut tidak akan memberlakukan persyaratan sertifikasi maupun pelabelan halal terhadap produk nonhalal.

Ketentuan ini dimaksudkan untuk memfasilitasi ekspor kosmetik, perangkat medis, dan produk manufaktur lainnya dari AS.

Namun, MUI mengingatkan bahwa substansi kehalalan tidak boleh dikompromikan. Prof Ni’am menilai, prinsip fikih muamalah menempatkan aturan main sebagai fondasi utama transaksi, bukan semata pada siapa mitra dagangnya.

Indonesia, menurut dia, tetap dapat menjalin kerja sama perdagangan dengan negara mana pun, termasuk AS, selama dilakukan dengan prinsip saling menghormati dan tidak mengabaikan hak dasar masyarakat.

Ruang Kompromi pada Aspek Teknis

Meski menyampaikan kritik keras, MUI membuka ruang kompromi dalam aspek administratif. Penyederhanaan proses, transparansi pelaporan, hingga efisiensi waktu dan biaya pengurusan sertifikasi dinilai dapat dibahas lebih lanjut.

Namun, Prof Ni’am menegaskan bahwa penyederhanaan tersebut tidak boleh menyentuh aspek fundamental kehalalan.

“Terhadap hal yang bersifat administratif bisa disederhanakan. Tapi kita tidak boleh mengorbankan hal yang bersifat mendasar demi keuntungan finansial,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa sistem sertifikasi halal telah diakui di berbagai negara, termasuk di sejumlah negara bagian AS.

Karena itu, menurutnya, komitmen terhadap sertifikasi halal seharusnya dipahami sebagai bagian dari penghormatan terhadap hak asasi manusia, khususnya hak beragama.

Baca juga: Rapat Perdana BoP, MUI Ingatkan BoP Harus Jamin Kemerdekaan Palestina

Imbauan kepada Masyarakat

MUI mengajak masyarakat Muslim untuk tetap selektif dalam memilih produk konsumsi. Produk yang tidak jelas status kehalalannya, termasuk produk impor, sebaiknya dihindari.

Dalam pandangan MUI, dinamika perdagangan global tidak boleh menggeser prinsip dasar yang telah diatur dalam hukum nasional dan ajaran agama.

Isu sertifikasi halal dalam kesepakatan dagang ini diperkirakan akan terus menjadi perhatian publik, seiring pembahasan lanjutan dokumen teknis dan implementasi kebijakan di lapangan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Surabaya Hari Ini 22 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Surabaya Hari Ini 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Semarang Hari Ini 22 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Semarang Hari Ini 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Bogor Hari Ini 22 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Bogor Hari Ini 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Purwokerto Hari Ini 22 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Purwokerto Hari Ini 22 Februari 2026
Aktual
 Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Malang Hari Ini 22 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Malang Hari Ini 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Denpasar Hari Ini 22 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Denpasar Hari Ini 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Makassar Hari Ini, 22 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Makassar Hari Ini, 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Yogyakarta Hari Ini 22 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Yogyakarta Hari Ini 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Jayapura Hari Ini, 22 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Jayapura Hari Ini, 22 Februari 2026
Aktual
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Palu Hari Ini 22 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Kota Palu Hari Ini 22 Februari 2026
Aktual
LPMQ Kemenag Gelar Tadarus Alquran Inklusi, Ada Alquran Braille dan Isyarat untuk Disabilitas Netra serta Tuli
LPMQ Kemenag Gelar Tadarus Alquran Inklusi, Ada Alquran Braille dan Isyarat untuk Disabilitas Netra serta Tuli
Aktual
Tren Gamis Lebaran 2026: Abaya Jadi Primadona, Ini Model yang Paling Diburu
Tren Gamis Lebaran 2026: Abaya Jadi Primadona, Ini Model yang Paling Diburu
Aktual
Ramadhan 2026: Premier League Stop Pertandingan Saat Maghrib, Pemain Puasa Bisa Berbuka
Ramadhan 2026: Premier League Stop Pertandingan Saat Maghrib, Pemain Puasa Bisa Berbuka
Aktual
Tata Cara Shalat Tarawih 11 Rakaat di Rumah Lengkap dengan Niat dan Doanya
Tata Cara Shalat Tarawih 11 Rakaat di Rumah Lengkap dengan Niat dan Doanya
Doa dan Niat
Donor Darah Saat Ramadhan, Batal Puasa atau Tidak? Ini Kata MUI
Donor Darah Saat Ramadhan, Batal Puasa atau Tidak? Ini Kata MUI
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com