Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

MUI Imbau Bangunkan Sahur Pakai Toa Secukupnya, Jangan Ganggu Warga Non-Muslim

Kompas.com, 20 Februari 2026, 20:48 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber MUIDigital

KOMPAS.com — Memasuki Ramadan 1447 H yang dimulai Kamis, 19 Februari 2026, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau masyarakat agar tradisi membangunkan sahur dilakukan secara bijak, terutama dalam penggunaan pengeras suara masjid atau mushola.

Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menegaskan bahwa penggunaan toa hendaknya dilakukan seperlunya dan mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitar.

“Jika dilakukan pakai toa masjid seperlunya saja. Misalnya pada jam-jam sahur setengah 4, tapi jangan terlalu keras. Di daerah padat dan banyak non-Muslim tentu diukur sebaiknya yang tidak mengganggu orang yang tidak berpuasa,” kata Kiai Cholil kepada MUI Digital di Jakarta, Jumat (20/2/2026).

Baca juga: Ide Menu Sahur Pertama Ramadhan: Praktis, Bergizi, dan Tahan Lapar

Tetap Jaga Tradisi, Tapi Harus Bijak

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat itu menegaskan bahwa tradisi membangunkan sahur tetap boleh dilakukan. Namun, pelaksanaannya harus mengedepankan etika sosial dan toleransi.

“Bangunkan seperlunya. Penggunaan speaker, pengeras suara dilakukan pada waktu yang dibutuhkan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat mempertimbangkan wilayah padat penduduk yang dihuni beragam latar belakang agama, sehingga semangat Ramadan tetap menghadirkan ketenangan bagi semua.

Soroti Fenomena Viral Keliling Sahur

Selain penggunaan toa, Kiai Cholil turut menyoroti fenomena sekelompok pemuda yang berkeliling kampung untuk membangunkan sahur, yang kerap viral di media sosial.

Ia menyayangkan apabila kegiatan tersebut dilakukan dengan cara yang tidak sesuai nilai-nilai Islam, termasuk apabila ada laki-laki yang berpenampilan menyerupai perempuan.

“Untuk yang membangunkan sahur, hendaknya dilakukan sepantasnya. Tidak perlu sampai melanggar laki-laki bercorak perempuan, karena dalam Islam itu tidak diperbolehkan,” tegasnya.

Ramadan 2026 Dimulai 19 Februari

Sebelumnya, pemerintah melalui Sidang Isbat yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil hisab dan rukyat yang dilakukan di 96 titik pengamatan di seluruh Indonesia. Secara astronomis, posisi hilal berada di bawah kriteria visibilitas MABIMS, sehingga Ramadan tidak dimulai lebih awal.

“Berdasarkan hasil hisab dan tidak adanya laporan rukyat hilal, Sidang Isbat menyepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026,” ujar Menag.

Baca juga: 7 Ide Menu Sahur Paling Nikmat dan Bergizi untuk 7 Hari ke Depan, Biar Puasa Tahan Lama!

Pemerintah berharap umat Islam di Indonesia dapat menjalankan ibadah puasa secara bersama-sama, serta menjadikan perbedaan sebagai kekayaan dalam bingkai persatuan.

Dengan imbauan MUI ini, masyarakat diharapkan tetap menjaga semangat Ramadan sekaligus menghormati keberagaman di lingkungan sekitar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baznas Gandeng DPR Optimalkan Potensi Zakat Rp 327 Triliun, Dorong Regulasi Lebih Kuat
Baznas Gandeng DPR Optimalkan Potensi Zakat Rp 327 Triliun, Dorong Regulasi Lebih Kuat
Aktual
Wamenag Sebut Prabowo-Gibran Komitmen Wujudkan Madrasah Lebih Baik
Wamenag Sebut Prabowo-Gibran Komitmen Wujudkan Madrasah Lebih Baik
Aktual
Muhammadiyah Luncurkan Samsat untuk Layani Bayar Pajak Kendaraan
Muhammadiyah Luncurkan Samsat untuk Layani Bayar Pajak Kendaraan
Aktual
Menag Nasaruddin Umar Kunjungi KH Imam Jazuli Bahas soal Masa Depan NU
Menag Nasaruddin Umar Kunjungi KH Imam Jazuli Bahas soal Masa Depan NU
Aktual
Putra-putra Ali Khamenei Iringi Shalat Jenazah, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Masih Tak Muncul
Putra-putra Ali Khamenei Iringi Shalat Jenazah, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Masih Tak Muncul
Aktual
Aceh Menuju Episentrum Wakaf Dunia: Menanam 'Pohon Peradaban' lewat Peta Jalan Strategis 2026
Aceh Menuju Episentrum Wakaf Dunia: Menanam "Pohon Peradaban" lewat Peta Jalan Strategis 2026
Aktual
Menag: Pesantren Jadi Benteng Karakter Bangsa, Sekolah Paling Aman Dunia dan Akhirat
Menag: Pesantren Jadi Benteng Karakter Bangsa, Sekolah Paling Aman Dunia dan Akhirat
Aktual
Ulama MUI: Islam Ajarkan Keseimbangan antara Memaafkan dan Menegakkan Keadilan
Ulama MUI: Islam Ajarkan Keseimbangan antara Memaafkan dan Menegakkan Keadilan
Aktual
Perbedaan Ayat Al-Qur'an yang Diperdengarkan untuk Delegasi Asing di Pemakaman Ali Khamenei Picu Perdebatan
Perbedaan Ayat Al-Qur'an yang Diperdengarkan untuk Delegasi Asing di Pemakaman Ali Khamenei Picu Perdebatan
Aktual
Ayat Al-Qur'an yang Tentang Perang Badar Diperdengarkan di Pemakaman Ali Khamenei
Ayat Al-Qur'an yang Tentang Perang Badar Diperdengarkan di Pemakaman Ali Khamenei
Aktual
Ulama dan Pemkab Aceh Barat Sepakat Haramkan Permainan Domino “Peh Batee”
Ulama dan Pemkab Aceh Barat Sepakat Haramkan Permainan Domino “Peh Batee”
Aktual
Shalat Jenazah untuk Mendiang Ali Khamenei Digelar di Teheran, Ratusan Ribu Pelayat Hadiri Prosesi
Shalat Jenazah untuk Mendiang Ali Khamenei Digelar di Teheran, Ratusan Ribu Pelayat Hadiri Prosesi
Aktual
32 PWNU Dukung Jakarta Jadi Lokasi Muktamar NU ke-35, Ini Alasannya
32 PWNU Dukung Jakarta Jadi Lokasi Muktamar NU ke-35, Ini Alasannya
Aktual
Jelang Muktamar NU 2026, Gus Rijal Klaim Mayoritas PWNU Ingin Perubahan Total Kepengurusan PBNU
Jelang Muktamar NU 2026, Gus Rijal Klaim Mayoritas PWNU Ingin Perubahan Total Kepengurusan PBNU
Aktual
Muhammadiyah Ikut Mazhab Apa? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Terkait Mazhab Fikih yang Dianut
Muhammadiyah Ikut Mazhab Apa? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Terkait Mazhab Fikih yang Dianut
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar