Editor
KOMPAS.com-Bendera merah bertuliskan “Ya latharat al-Husayn” berkibar di atas kubah pirus Masjid Jamkaran, Qom, menyusul laporan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Pengibaran panji yang dikenal sebagai “bendera balas dendam” itu segera memicu perhatian dunia karena simbol tersebut dalam tradisi Syiah melambangkan darah yang belum terbalaskan dan seruan menuntut keadilan.
Tindakan simbolis tersebut berlangsung di tengah eskalasi konflik Iran–Israel yang memperluas ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Baca juga: Situasi Timur Tengah Memanas, KBRI Riyadh Imbau WNI di Arab Saudi Tingkatkan Kewaspadaan
Di balik momentum politik yang menyertainya, Masjid Jamkaran sendiri memiliki sejarah panjang dan kedudukan spiritual penting dalam tradisi Islam Syiah.
Masjid Jamkaran terletak di pinggiran Kota Qom, salah satu kota suci utama bagi umat Syiah dan pusat pendidikan teologi terbesar di Iran.
Ribuan peziarah dari berbagai negara datang setiap tahun untuk berdoa dan mencari ketenangan spiritual di kompleks masjid ini.
Menurut kepercayaan populer, Masjid Jamkaran didirikan pada 393 Hijriah atau 1002 Masehi setelah Imam Kedua Belas, Imam Mahdi, menampakkan diri kepada seorang pria saleh bernama Hasan ibn Muthlih Jamkarani.
Dalam riwayat tersebut, Imam Mahdi memerintahkan pembangunan masjid di lokasi itu sebagai tempat berkumpul dan berdoa bagi umat yang menantikan kemunculannya kembali.
Keyakinan tersebut menjadikan Jamkaran bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan pusat harapan eskatologis dalam ajaran Syiah.
Baca juga: Ribuan Jemaah Umrah Tertahan di Bandara, Serangan AS-Israel ke Iran Picu Pembatalan Penerbangan
Arsitektur Masjid Jamkaran mencerminkan kemegahan seni Islam Persia dengan hiasan ubin berwarna cerah, kaligrafi ayat-ayat Al Quran, kubah besar berlapis keramik pirus, serta halaman luas yang mampu menampung ribuan jemaah.
Ruang sholat utama memiliki iwan, yaitu aula beratap sangat tinggi yang terbuka pada satu sisi dan dihiasi ornamen Islami.
Struktur iwan yang monumental itu menjadi pusat kegiatan ibadah dan perenungan sekaligus menghadirkan kesan sakral dan megah bagi para jemaah.
Salah satu bagian penting di kompleks ini adalah Halaman Sahib al-Zaman yang didedikasikan untuk Imam Mahdi.
Di halaman tersebut terdapat “Sumur Permohonan”, tempat para peziarah memasukkan doa-doa tertulis dengan harapan dikabulkan.
Praktik spiritual di Jamkaran sangat kental, terutama pembacaan Doa Tawassul dan Doa Nudba yang rutin dilantunkan oleh para jemaah.
Selasa malam memiliki makna khusus karena ribuan orang berkumpul untuk berdoa, membaca Alquran, dan mengekspresikan kerinduan atas kemunculan kembali Imam Mahdi.
Suasana pada malam itu dipenuhi lantunan doa dan refleksi mendalam yang menghadirkan pengalaman religius kolektif.
Baca juga: Profil Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Tewas dalam Serangan AS-Israel
Selain menjadi pusat ibadah, Masjid Jamkaran juga berfungsi sebagai ruang pendidikan dan kegiatan sosial keagamaan.
Berbagai ceramah, seminar, serta program komunitas diselenggarakan untuk memperkuat pemahaman ajaran Islam dan prinsip Ahlul Bait.
Dalam konteks pengibaran bendera merah, simbol tersebut menambah dimensi historis dan religius pada peristiwa yang sedang berlangsung.
Secara historis, panji merah dalam tradisi Syiah diasosiasikan dengan tragedi Karbala dan perjuangan Imam Husain, sehingga menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.
Pengibaran di atas Masjid Jamkaran bukan hanya pernyataan politik, melainkan juga peristiwa yang sarat makna teologis bagi para penganutnya.
Masjid Jamkaran dengan demikian berdiri sebagai simbol iman, harapan, dan identitas religius yang kuat di tengah dinamika politik regional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang