KOMPAS.com – Setiap Ramadan tiba, suasana sore hari di berbagai sudut kota berubah drastis. Trotoar, halaman masjid, hingga lapangan kecil di perumahan mendadak dipenuhi lapak makanan.
Di tengah keramaian itu, muncul satu istilah yang belakangan akrab di telinga generasi muda, war takjil.
Istilah ini terdengar dramatis, seolah menggambarkan pertempuran. Namun, benarkah demikian?
Baca juga: 30 Menu Buka Puasa Ramadhan 2026 Selama Sebulan Penuh, Lengkap dari Takjil hingga Menu Utama
Secara sederhana, war takjil adalah ungkapan populer untuk menggambarkan antusiasme masyarakat saat berburu makanan berbuka puasa menjelang Maghrib.
Kata “war” berasal dari bahasa Inggris yang berarti perang, sedangkan “takjil” merujuk pada hidangan pembuka puasa.
Dalam konteks budaya populer, istilah ini digunakan secara hiperbolik, bukan perang sesungguhnya, melainkan suasana saling adu cepat mendapatkan menu favorit sebelum kehabisan.
Fenomena ini berkembang pesat di media sosial, terutama melalui video singkat yang menampilkan antrean panjang dan lapak yang ludes dalam hitungan menit.
Secara etimologis, kata takjil berasal dari bahasa Arab ‘ajjala–yu‘ajjilu yang berarti menyegerakan.
Dalam khazanah fikih puasa, istilah ini berkaitan dengan anjuran menyegerakan berbuka. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk mempercepat berbuka ketika waktu Maghrib telah tiba.
Penjelasan mengenai tradisi berbuka dan anjuran menyegerakan puasa juga banyak dibahas dalam literatur klasik, salah satunya dalam kitab Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab al-Hanbali.
Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa waktu berbuka adalah momen penuh keberkahan yang dianjurkan untuk diisi dengan doa dan rasa syukur.
Dari sinilah istilah takjil berkembang dalam konteks Indonesia menjadi sebutan umum bagi makanan pembuka puasa.
Baca juga: BBPOM DKI Ungkap Ciri-ciri Takjil Mengandung Bahan Berbahaya, Simak Cara Mengenalinya
Tradisi berburu makanan menjelang berbuka sejatinya bukan hal baru. Dalam buku Tradisi-tradisi Islam Nusantara Perspektif Filsafat dan Ilmu Pengetahuan karya Puji Rahayu, dkk, dijelaskan bahwa Ramadan di Indonesia selalu diiringi dinamika sosial-ekonomi yang khas, termasuk maraknya pedagang musiman yang menjual hidangan berbuka.
Namun, yang membuatnya berbeda kini adalah pengaruh media sosial. Ungkapan war takjil menjadi simbol humor kolektif yang menyatukan pengalaman banyak orang.
Video antrean panjang, pembeli yang datang lebih awal, hingga menu yang habis dalam sekejap, menjadi konten yang mudah viral.
Menariknya, fenomena ini tak hanya melibatkan umat Islam. Banyak warga non-Muslim ikut berburu jajanan sore karena tertarik pada ragam kuliner khas Ramadan. Di sinilah war takjil sering disebut sebagai potret inklusivitas sosial yang unik di Indonesia.
Puncak war takjil biasanya berlangsung saat waktu ngabuburit, yakni selepas Ashar hingga menjelang azan Maghrib.
Berdasarkan pengamatan di berbagai kota besar, lonjakan pembeli mulai terlihat sekitar pukul 16.00 WIB.
Menjelang pukul 17.00–17.30 WIB, suasana semakin padat. Pada jam-jam inilah stok makanan favorit mulai menipis, sementara jumlah pembeli terus bertambah.
Lokasi favorit umumnya berada di:
Dalam kajian sosiologi perkotaan, keramaian musiman seperti ini disebut sebagai ruang sosial temporer, ruang interaksi yang terbentuk karena momentum tertentu. Ramadan menjadi katalisator terbentuknya ruang ekonomi dan budaya tersebut.
Baca juga: 5 Resep Takjil Populer Khas Nusantara untuk Buka Puasa Ramadhan Bersama Keluarga
Meski tiap daerah memiliki kekhasan, ada sejumlah menu yang hampir selalu menjadi primadona dan cepat habis.
Aneka gorengan di Bazar Takjil Ramadhan Benhil 2026 atau bazar takjil di Benhil, Jumat (20/2/2026).Rasanya yang gurih dan harga yang terjangkau menjadikannya pilihan aman untuk berbuka bersama keluarga.
Dalam buku Kuliner Tradisional Indonesia karya Bondan Winarno, disebutkan bahwa gorengan merupakan bagian penting dari budaya jajan masyarakat urban karena mudah diproduksi dan disukai lintas generasi.
Ilustrasi es buah. Beberapa minuman bahkan identik dengan Ramadan dan jarang ditemukan di luar bulan puasa, seperti es timun suri dan kolak.
Kolak pisang ubiSementara itu, menu kekinian seperti mango sago, alpukat kocok, atau dessert box sering memicu antrean panjang karena promosi digital yang masif.
Kombinasi antara tradisi dan tren inilah yang membuat variasi takjil semakin beragam dari tahun ke tahun.
Baca juga: 5 Resep Takjil Praktis Favorit Saat Ramadhan, Cocok untuk Anak Kos
Fenomena war takjil bukan sekadar soal antrean. Ada dampak ekonomi yang signifikan di baliknya.
Ramadan menjadi momentum peningkatan omzet bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Dalam laporan tahunan Kementerian Koperasi dan UKM, sektor kuliner selalu mengalami kenaikan permintaan selama Ramadan. Perputaran uang meningkat karena konsumsi rumah tangga juga bertambah.
Dengan kata lain, antusiasme berburu takjil ikut mendorong roda ekonomi lokal bergerak lebih cepat.
War takjil memperlihatkan bagaimana praktik keagamaan berkelindan dengan budaya populer. Ia lahir dari tradisi lama, namun dibingkai dengan bahasa kekinian. Ada unsur religius, ekonomi, sosial, sekaligus hiburan dalam satu momentum.
Di satu sisi, ia mengingatkan kembali pada anjuran menyegerakan berbuka. Di sisi lain, ia menjadi simbol kegembiraan kolektif masyarakat Indonesia dalam menyambut Maghrib.
Ramadan memang bulan ibadah. Namun, di antara kesederhanaan berbuka dengan air dan kurma, ada cerita tentang kebersamaan, antrean yang penuh canda, dan lapak kecil yang membawa harapan bagi pedagangnya.
Jadi, jika suatu sore Anda melihat kerumunan orang bergegas memilih gorengan atau es buah sebelum azan berkumandang, itulah yang disebut war takjil.
Bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan tentang bagaimana Ramadan selalu menghadirkan suasana yang hidup dan hangat di tengah masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang