KOMPAS.com - Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan, banyak umat Islam mulai mempersiapkan diri untuk melaksanakan iktikaf.
Ibadah ini identik dengan sepuluh malam terakhir Ramadan dan sering dilakukan untuk meningkatkan kualitas ibadah serta mencari malam yang penuh kemuliaan, yaitu Lailatul Qadar.
Lalu sebenarnya kapan iktikaf dimulai? Apakah harus tepat pada malam ke-21 Ramadan, dan bagaimana tata cara serta niat yang dianjurkan dalam ibadah ini?
Berikut penjelasan lengkap mengenai waktu pelaksanaan, bacaan niat, serta tata cara iktikaf menurut ulama dan literatur fikih.
Baca juga: Aturan Baru Itikaf Ramadan 2026: Arab Saudi Wajibkan Ekspatriat Kantongi Izin Sponsor
Secara bahasa, iktikaf berarti menetap atau berdiam diri di suatu tempat. Dalam konteks ibadah, iktikaf dimaknai sebagai berdiam diri di masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam kitab Fiqh al-Sunnah, Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa iktikaf adalah tinggal di masjid dalam jangka waktu tertentu dengan niat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
Ibadah ini telah dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad, yang secara rutin melakukan iktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadan.
Tujuan utama iktikaf adalah memperbanyak ibadah, menjauhkan diri dari kesibukan dunia, serta memusatkan hati untuk berzikir, berdoa, dan membaca Al-Qur'an.
Baca juga: Doa Lailatul Qadar yang Dianjurkan Rasulullah, Dibaca Saat 10 Malam Terakhir Ramadhan
Secara umum, iktikaf dapat dilakukan kapan saja sepanjang tahun. Namun, waktu yang paling utama adalah pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Rasulullah SAW selalu melakukan iktikaf selama sepuluh hari terakhir Ramadan.
Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari menjelaskan:
“Rasulullah SAW melakukan iktikaf pada setiap Ramadan selama sepuluh hari. Pada tahun wafatnya, beliau melakukan iktikaf selama dua puluh hari.”
Para ulama menjelaskan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan dimulai pada malam ke-21. Oleh karena itu, iktikaf biasanya dimulai setelah matahari terbenam pada hari ke-20 Ramadan, yakni ketika memasuki malam ke-21.
Dalam praktiknya, banyak umat Islam mulai memasuki masjid setelah salat Magrib atau setelah salat Isya pada malam tersebut.
Menurut penjelasan dalam buku Fikih Puasa karya Ali Musthafa Siregar, waktu tersebut dipilih karena pada malam-malam itulah kemungkinan terjadinya Lailatul Qadar lebih besar.
Seperti ibadah lainnya, iktikaf juga harus diawali dengan niat. Niat ini menjadi penanda bahwa seseorang berdiam diri di masjid bukan sekadar beristirahat, tetapi untuk beribadah.
Berikut bacaan niat iktikaf:
نَوَيْتُ الْاِعْتِكَافَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ مَا دُمْتُ فِيْهِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitul i'tikāfa fī hādzal masjidi mā dumtu fīhi sunnatan lillāhi ta‘ālā.
Artinya: “Saya niat iktikaf di masjid ini selama saya berada di dalamnya sebagai ibadah sunnah karena Allah Ta’ala.”
Dalam mazhab Syafi’i, niat ini cukup dibaca di dalam hati ketika seseorang memasuki masjid dengan tujuan melakukan iktikaf.
Baca juga: Dzikir di 10 Malam Terakhir Ramadhan, Kunci Mendapat Lailatul Qadar
Pelaksanaan iktikaf pada dasarnya cukup sederhana. Intinya adalah menetap di masjid dengan niat beribadah dan mengisi waktu dengan kegiatan yang mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam buku Panduan Muslim Kaffah Sehari-hari dari Kandungan hingga Kematian karya Muh Hambali, terdapat beberapa langkah atau praktik yang dianjurkan selama menjalankan iktikaf.
Langkah pertama tentu saja berniat iktikaf. Niat ini bisa dilakukan ketika memasuki masjid.
Dalam fikih, iktikaf dapat dilakukan sebagai ibadah sunnah maupun karena nazar. Namun, pada sepuluh malam terakhir Ramadan, iktikaf umumnya dilakukan sebagai ibadah sunnah untuk meneladani Rasulullah.
Iktikaf dilakukan dengan menetap di dalam masjid dalam jangka waktu tertentu.
Selama berada di masjid, seorang muslim dianjurkan memperbanyak:
Menurut penjelasan dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, iktikaf juga menjadi sarana untuk melatih hati agar lebih fokus pada ibadah dan menjauh dari kesibukan duniawi.
Salah satu doa yang sangat dianjurkan dibaca pada malam-malam terakhir Ramadan adalah doa memohon ampunan.
Doa tersebut berbunyi:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni.
Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Doa ini juga dianjurkan dibaca ketika berharap bertemu malam Lailatul Qadar.
Selama iktikaf, seseorang dianjurkan meninggalkan aktivitas yang tidak memberikan manfaat bagi ibadah.
Misalnya:
Fokus utama iktikaf adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak amal ibadah.
Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar 2026? Ini Perkiraan Tanggal dan Amalan untuk Meraih Malam Seribu Bulan
Dalam fikih Islam, ada beberapa hal yang dapat membatalkan iktikaf.
Beberapa di antaranya adalah:
Karena itu, seseorang yang sedang beriktikaf dianjurkan menjaga diri dan tetap berada di lingkungan masjid selama masa iktikaf berlangsung.
Selain tata cara dasar, terdapat beberapa amalan sunnah yang dianjurkan ketika melaksanakan iktikaf.
Sebagian ulama menganjurkan iktikaf dilakukan di masjid besar atau masjid jami’ yang digunakan untuk salat Jumat.
Tujuannya agar seseorang tidak perlu keluar masjid ketika ingin melaksanakan salat Jumat.
Menurut sebagian ulama, iktikaf lebih utama dilakukan ketika seseorang sedang berpuasa.
Hal ini karena Rasulullah SAW melakukan iktikaf pada bulan Ramadan yang identik dengan ibadah puasa.
Selama iktikaf dianjurkan memperbanyak berbagai ibadah seperti:
Semakin banyak amal yang dilakukan, semakin besar pula peluang meraih keberkahan malam Lailatul Qadar.
Iktikaf bukan hanya sekadar berdiam diri di masjid, tetapi juga merupakan bentuk refleksi spiritual bagi seorang muslim.
Ibadah ini memberi kesempatan untuk menenangkan hati, memperbaiki hubungan dengan Allah, serta mengevaluasi diri setelah menjalani ibadah puasa selama hampir sebulan penuh.
Karena itu, sepuluh malam terakhir Ramadan sering dianggap sebagai momen paling berharga bagi umat Islam.
Di waktu inilah banyak orang berusaha meningkatkan ibadah, berharap mendapatkan ampunan sekaligus keberkahan malam Lailatul Qadar.
Dengan memahami waktu, niat, dan tata cara iktikaf, umat Islam dapat menjalankan ibadah ini dengan lebih khusyuk dan sesuai dengan tuntunan syariat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang