Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Masjidil Haram Penuh di Malam ke-27 Ramadhan, Jemaah Padati Masjid

Kompas.com, 16 Maret 2026, 14:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Malam ke-27 Ramadhan selalu menjadi salah satu momen paling istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia.

Pada malam yang diyakini banyak Muslim sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar, jutaan jemaah memadati berbagai masjid untuk memperbanyak ibadah.

Pemandangan luar biasa juga terjadi di Masjidil Haram, Makkah. Pada malam ke-27 Ramadhan 1447 Hijriah yang bertepatan dengan Minggu malam, 15 Maret 2026 waktu Arab Saudi, masjid terbesar dan paling suci bagi umat Islam itu dilaporkan mencapai kapasitas maksimum.

Jemaah memenuhi hampir seluruh area masjid, mulai dari lantai utama, lorong-lorong, halaman terbuka, rooftop, hingga area Perluasan Saudi Ketiga.

Suasana khusyuk terlihat ketika jutaan Muslim berkumpul untuk melaksanakan salat malam dan memperbanyak doa di salah satu malam paling istimewa dalam bulan suci tersebut.

Baca juga: Zona “Safe Heart” Hadir di Masjidil Haram, Siap Selamatkan Jemaah Umrah dari Serangan Jantung

Malam ke-27 Ramadhan yang Dipadati Jemaah

Berdasarkan laporan sejumlah media di Arab Saudi, arus jemaah menuju Masjidil Haram sudah terlihat sejak dini hari.

Koridor, lantai utama, rooftop, hingga halaman masjid dipenuhi oleh jemaah yang datang untuk mengikuti rangkaian ibadah malam.

Akun pemantau aktivitas dua masjid suci, Inside the Haramain, bahkan menyebut kapasitas masjid telah mencapai batas maksimal.

“Masjidil Haram mencapai kapasitas penuh malam ini, pihak berwenang memprioritaskan akses bagi para jemaah umrah,” tulis akun tersebut di platform X pada Minggu (15/3/2026).

Kondisi ini membuat pihak berwenang melakukan pengaturan akses masuk agar ibadah tetap berlangsung tertib dan aman bagi seluruh jemaah.

Salat Malam Dipimpin Imam Besar Masjidil Haram

Pada malam yang diyakini banyak umat Islam sebagai salah satu malam Lailatul Qadar tersebut, jemaah mengikuti rangkaian ibadah mulai dari salat Isya, Tarawih, hingga Tahajud.

Imam Besar Masjidil Haram, Abdurrahman bin Abdulaziz Al-Sudais, memimpin salat pada rakaat terakhir Tahajud.

Dalam momen tersebut, beliau juga membacakan doa qunut yang panjang, diikuti jutaan jemaah yang memenuhi masjid.

Suasana spiritual yang mendalam terlihat ketika jemaah mengangkat tangan berdoa bersama, berharap mendapatkan keberkahan malam yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Persiapan Besar Menyambut Lonjakan Jemaah

Lonjakan jemaah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya oleh pemerintah Arab Saudi.

Melalui General Authority for the Affairs of the Two Holy Mosques, berbagai persiapan besar telah dilakukan untuk memastikan kenyamanan jemaah.

Langkah-langkah tersebut antara lain:

  • pembersihan dan pengharum karpet masjid
  • penambahan area salat tambahan
  • peningkatan sanitasi dan kebersihan halaman
  • penyediaan air zamzam dalam jumlah besar
  • optimalisasi sistem pendingin udara dan penerangan

Selain itu, ribuan petugas keamanan dan layanan juga ditempatkan di berbagai titik untuk membantu mengatur arus jemaah.

Baca juga: 24.022 Jemaah Umrah Indonesia Sudah Pulang ke Tanah Air, Kemenhaj Awasi Kepulangan dari Jeddah dan Madinah

Teknologi Digunakan untuk Mengelola Keramaian

Untuk mengatasi kepadatan jemaah yang sangat besar, pemerintah Arab Saudi juga memanfaatkan teknologi modern.

Salah satu inovasi yang digunakan adalah sistem berbasis Internet of Things (IoT) yang membantu memantau dan mengelola arus pengunjung di berbagai fasilitas umum, termasuk area toilet dan tempat wudhu.

Teknologi tersebut membantu mengarahkan jemaah menuju area yang lebih lengang sehingga kepadatan dapat diatur dengan lebih baik.

Langkah ini menjadi bagian dari transformasi digital yang dilakukan Arab Saudi dalam pengelolaan dua masjid suci, yaitu Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Masjidil Haram Jadi Tujuan Iktikaf

Selain salat malam, Masjidil Haram juga menjadi tempat utama bagi umat Islam yang ingin menjalankan iktikaf, yaitu berdiam diri di masjid untuk memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Untuk mendukung kegiatan ini, pihak pengelola menyediakan berbagai fasilitas tambahan seperti:

  • mushaf Al-Qur’an dalam berbagai bahasa
  • Al-Qur’an Braille bagi jemaah tunanetra
  • panduan ibadah berbasis digital
  • area khusus bagi jemaah yang beriktikaf

Fasilitas tersebut membantu jemaah menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk dan nyaman selama berada di masjid.

Sejarah Perluasan Masjidil Haram

Masjidil Haram telah mengalami berbagai proyek perluasan sepanjang sejarah Islam.

Pada masa Muhammad, luas masjid ini masih sangat kecil dibandingkan dengan kondisi saat ini.

Seiring bertambahnya jumlah umat Islam di dunia, berbagai proyek pembangunan dilakukan untuk memperluas kapasitas masjid.

Salah satu proyek terbesar terjadi pada masa pemerintahan Salman bin Abdulaziz Al Saud, yang dikenal sebagai Perluasan Ketiga Masjidil Haram.

Proyek ini disebut sebagai salah satu pembangunan masjid terbesar dalam sejarah dunia.

Saat ini, luas kompleks Masjidil Haram mencapai sekitar 1,5 juta meter persegi, atau sekitar 750 kali lebih luas dibandingkan pada masa Nabi Muhammad SAW.

Baca juga: Kapan Waktu Terbaik untuk Umrah? Ini Bulan, Musim, dan Jam yang Paling Nyaman

Fasilitas Besar untuk Jutaan Jemaah

Dengan berbagai proyek perluasan yang dilakukan, Masjidil Haram kini memiliki fasilitas yang sangat besar untuk mendukung aktivitas jutaan jemaah.

Beberapa fasilitas yang tersedia antara lain:

  • lebih dari 25.000 karpet salat
  • sekitar 17.000 dispenser air zamzam
  • lebih dari 11.400 toilet dan tempat wudhu
  • sekitar 1.300 pengeras suara
  • ratusan eskalator dan puluhan lift
  • puluhan pintu masuk utama

Selain itu, terdapat pula ratusan air mancur minum serta area salat tambahan yang tersebar di berbagai bagian kompleks masjid.

Ramadhan, Puncak Musim Umrah

Bulan Ramadhan dikenal sebagai puncak musim umrah. Banyak umat Islam dari berbagai negara memilih datang ke Makkah pada bulan ini karena pahala ibadah diyakini lebih besar.

Dalam buku Hajj and the Umrah: From A to Z karya A. H. Al-Habshi, dijelaskan bahwa perjalanan ibadah ke Masjidil Haram pada bulan Ramadhan memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi bagi umat Islam.

Hal inilah yang membuat lonjakan jemaah hampir selalu terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Data dari otoritas Arab Saudi menunjukkan bahwa pada 20 hari pertama Ramadhan tahun ini, lebih dari 96 juta jemaah telah mengunjungi Masjidil Haram untuk beribadah.

Angka tersebut menunjukkan betapa besar antusiasme umat Islam dari seluruh dunia untuk merasakan pengalaman spiritual di tempat paling suci dalam agama Islam tersebut.

Pada akhirnya, kepadatan luar biasa di Masjidil Haram pada malam ke-27 Ramadhan menjadi gambaran kuatnya semangat ibadah umat Islam.

Jutaan orang dari berbagai negara berkumpul di satu tempat yang sama untuk berdoa, memohon ampunan, dan berharap mendapatkan keberkahan malam yang diyakini lebih baik dari seribu bulan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com