MAGETAN, KOMPAS.com – Suasana malam di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Magetan, Jawa Timur terasa berbeda selama bulan Ramadhan.
Setelah shalat tarawih selesai, sebagian warga binaan kembali ke blok masing-masing. Namun di sudut masjid kecil di dalam rutan, beberapa orang masih bertahan membaca Al-Qur’an dengan suara lirih.
Di balik tembok tinggi dan jeruji besi, lantunan ayat suci itu mengalir perlahan. Ramadhan bagi mereka bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi perjalanan spiritual untuk memperbaiki diri.
Puluhan warga binaan mengikuti pengajian dan tadarus Al-Qur’an yang rutin dilaksanakan setiap malam setelah shalat tarawih. Bahkan, ada enam warga binaan yang menunjukkan ketekunan luar biasa dengan mampu mengkhatamkan Al-Qur’an hingga lebih dari sepuluh kali selama Ramadhan tahun ini.
Baca juga: 10 Malam Terakhir Ramadhan, Ribuan Peziarah Padati Makam Sunan Ampel Surabaya
Kepala Rutan Magetan, Jawa Timur Ari Rahmanto, mengatakan suasana Ramadhan di dalam rutan memang selalu diisi dengan kegiatan ibadah yang lebih intens.
“Setiap malam warga binaan melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Setelah itu dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an,” ujarnya ditemui diruang kerjanya Minggu malam. (15/3/2026)
Masjid rutan yang terbatas membuat hanya sekitar 80 hingga 90 warga binaan yang bisa mengikuti tarawih dalam satu waktu. Padahal total penghuni rutan saat ini mencapai sekitar 180 orang.
Karena itu, pelaksanaan ibadah dilakukan secara bergiliran antar blok hunian.
“Blok Timur dan blok barat bergantian. Kalau blok wanita tetap ikut setiap hari karena jumlahnya hanya delapan orang,” imbuh Ari.
Warga binaan yang tidak mendapat giliran di masjid tetap menjalankan ibadah di sel masing-masing. Namun bagi sebagian orang, masjid rutan menjadi tempat penting untuk menemukan ketenangan batin.
Di antara ratusan warga binaan tersebut, ada enam orang yang hampir tidak pernah absen mengikuti tadarus Al-Qur’an setelah tarawih.
Mereka membaca Al-Qur’an sekitar satu jam setiap malam. Bahkan di luar waktu tersebut, mereka masih menyempatkan diri mengaji di waktu senggang.
“Ada yang pagi ngaji, sore juga ngaji lagi setelah Asar,” ujar Ari.
Ketekunan mereka membuahkan hasil yang luar biasa. Dalam satu minggu, kelompok kecil itu mampu mengkhatamkan Al-Qur’an hingga tiga kali.
“Seminggu sudah khatam 3 kali. Kalau lancar selama Bulan Ramdhan mereka khatam 12 kali,” kata Ari.
Sebagian dari enam warga binaan itu memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Namun ada juga yang baru belajar membaca Al-Qur’an sejak berada di dalam rutan.
“Di sini ada juga yang belajar dari Iqra,” kata Ari.
Program pembinaan keagamaan memang memberikan kesempatan bagi warga binaan untuk belajar membaca Al-Qur’an. Mereka yang sudah mahir bahkan membantu mengajarkan teman-temannya.
“ Kita memang ada waktu nagji setelah sholat Ashar. Ada juga yang belajar ngaji di sela waktu senggang mereka. Ada yang belajar megnaji dari rekan mereka sendiri ada juga dari anak anak magang disini,” jelas Ari.
Kegiatan Ramadhan di Rutan Magetan tidak hanya berisi ibadah rutin. Pihak rutan juga menyelenggarakan berbagai program pembinaan, termasuk Pondok Ramadhan selama tiga hari yang diisi dengan pengajian, ceramah agama, hingga peringatan Nuzulul Qur’an.
Petugas rutan juga ikut terlibat dalam kegiatan keagamaan bersama warga binaan.
“Setiap Jumat pagi kami mengadakan pengajian bersama antara petugas dan beberapa perwakilan warga binaan,” ujar Ari.
Bahkan, pihak rutan juga memutar film bertema keagamaan untuk memperkuat nilai spiritual warga binaan.
“Kita juga adakan nonton film tentang keagamaan untuk menguatkan rasa keimanan warga binaan sekaligus sebagai hiburan,” jelas Ari.
Tetap Produktif Selama Ramadhan
Selain kegiatan ibadah, warga binaan tetap menjalani program pembinaan keterampilan. Salah satunya kegiatan pertanian yang menghasilkan sekitar 60 kilogram terong dan kangkung dari lahan di dalam rutan.
Rutan juga mengembangkan budidaya ayam kampung yang mulai menghasilkan telur.
“Kemarin juga sudah mulai panen telur ayam kampung kita jual hasilnya untuk menu nernuka puasa,” kata Ari.
Tak hanya itu, warga binaan juga memproduksi pupuk cair organik dari limbah makanan serta mengelola sampah dengan budidaya magot.
“Kita berikan ketrampilan memanfaatkan apa yang ada di sekitar rutan, sehingga warga binaan memiliki ketrampilam yang bisa digunakan setelah mereka bebas,” ujarnya.
Pada momentum Idulfitri 2026, pihak Rutan Magetan juga mengusulkan sekitar 90 warga binaan untuk mendapatkan remisi atau pengurangan masa pidana.
Remisi diberikan kepada warga binaan yang telah memenuhi berbagai persyaratan, seperti telah menjalani masa pidana minimal enam bulan serta menunjukkan perilaku baik selama menjalani pembinaan.
“Selain itu, warga binaan juga harus menunjukkan perilaku yang baik selama menjalani masa pembinaan di dalam rutan,” katanya.
Baca juga: PCNU Banyuwangi Gelar Silaturahmi Akbar Ramadhan, 1.300 Warga NU Siap “Tandang Bareng”
Keaktifan mengikuti pembinaan keagamaan dan program keterampilan juga menjadi pertimbangan penting.
“Yang penting mereka aktif mengikuti pembinaan dan tidak pernah melakukan pelanggaran selama di dalam rutan,” jelas Ari.
Bagi warga binaan, Ramadhan menjadi momen penting untuk memperbaiki diri. Di balik jeruji besi, lantunan ayat Al-Qur’an yang terus dibaca setiap malam menjadi pengingat bahwa selalu ada kesempatan untuk memulai kehidupan yang baru.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang