BALIKPAPAN, KOMPAS.com – Di bawah naungan tenda pelataran Pelabuhan Semayang, Balikpapan, Edi (33) dan istrinya, Anita Sari (30), duduk bersandar di antara tumpukan barang bawaan. Pasangan suami istri ini telah mengantre sejak pukul 10.00 WITA pada Rabu (18/3/2026), menanti jadwal keberangkatan KM Sinabung menuju Tanjung Perak, Surabaya.
Bagi mereka, perjalanan tahun ini adalah sebuah pengalaman baru yang cukup mengagetkan. Biasanya, mereka memilih jalur udara untuk pulang ke kampung halaman. Namun, tingginya permintaan membuat mereka harus memutar otak lantaran kehabisan tiket.
"Tiket pesawat baru tersedia tanggal 21 Maret, itu sudah lewat Idulfitri. Harganya pun sampai Rp 2,3 juta," ujar Edi sembari tersenyum kecut.
Enggan melewatkan momen sholat Ied dan silaturahmi pada 1 Syawal 1447 H, yang mungkin jatuh pada Jumat (20/3/2026), pilihan pun jatuh pada jalur laut.
Keputusan beralih ke kapal laut diambil agar mereka tidak merayakan hari kemenangan di tengah perjalanan.
"Masa Lebaran di jalan, Mas?" selorohnya diikuti tawa ringan. Dengan tiket seharga Rp575 ribu per orang yang dibeli secara daring, mereka diprediksi tiba di Surabaya pada Kamis malam, tepat waktu untuk menyambut Lebaran.
Perjuangan Edi dan Anita tidak dimulai di dermaga. Sehari sebelumnya, mereka harus menempuh perjalanan darat yang melelahkan dari Kecamatan Busang, Kutai Timur. Pasangan yang telah merantau di perkebunan sawit sejak 2011 ini berangkat pukul 11.00 siang menuju Samarinda, menginap semalam, sebelum melanjutkan perjalanan ke Balikpapan pagi harinya.
Mengaku rindu dengan kedua anak mereka yang sedang menimba ilmu di pondok pesantren, Edi dan Anita mengakui bahwa perjalanan kali ini jauh lebih menantang secara fisik.
"Sebenarnya memang lebih ringkas naik pesawat, tapi ya sudah, dinikmati saja. Memang agak ribet, harus berdesak-desakan dan duduk di tenda seperti ini menunggu," ungkap Anita.
Baca juga: Kisah Hangat Mudik di Kendal: Pemudik Nikmati Pijat Gratis hingga Servis Motor di Posko NU Peduli
Sebagai pemudik yang baru pertama kali merasakan suasana padatnya Pelabuhan Semayang, Anita berharap ada peningkatan fasilitas di masa mendatang. Baginya, kenyamanan tempat menunggu sangat krusial, terutama bagi pemudik yang membawa anak kecil atau orang tua.
"Kami berharap ke depan tempat bagi pemudik ini lebih enak ya, tendanya lebih luas," harapnya.
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Balikpapan mencatat Rabu (18/3/2026) sebagai puncak arus mudik Lebaran 2026 di Pelabuhan Semayang. Sebanyak 7.000 penumpang dijadwalkan bertolak dari Balikpapan menuju berbagai kota tujuan pada hari ini.
Kepala Bagian Tata Usaha KSOP Kelas I Balikpapan, Capt. Dedy Kurniadi, mengungkapkan bahwa kepadatan ini meningkat signifikan dibandingkan hari sebelumnya. Sebagai pembanding, pada 16 Maret lalu, total penumpang yang berangkat melalui pelabuhan ini tercatat sebanyak 2.900 orang.
"Hari ini merupakan puncak mudik di Pelabuhan Semayang. Setidaknya ada enam armada kapal yang dijadwalkan bertolak," ujar Capt. Dedy, Rabu.
Baca juga: Shalat di Mobil, Bus, atau Pesawat Saat Mudik? Ini Tata Caranya
Adapun enam kapal yang melayani pemudik hari ini meliputi KM Sinabung, KM Bukit Siguntang, KM Lambelu, serta dua armada dari Dharma Lautan Utama, yakni KM Dharma Ferry VII, KM Dharma Kencana IX, serta satu armada dari Damai Lautan Nusantara.
Kota Surabaya dan Parepare (Sulawesi Selatan) masih menjadi destinasi favorit bagi para pemudik tahun ini.
Berbeda dengan angka keberangkatan yang melonjak tajam, jumlah penumpang yang tiba di Pelabuhan Semayang terpantau jauh lebih rendah.
Capt. Dedy menyebutkan, untuk kapal milik PT Pelni, jumlah penumpang yang turun hanya berkisar di angka 400 orang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang