Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Khutbah Idul Fitri 1447 H: Pesan Damai, Kepedulian Sosial, dan Persatuan Umat

Kompas.com, 19 Maret 2026, 17:28 WIB
Khairina

Editor

Sumber MUI

KOMPAS.com-Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk kembali kepada fitrah setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di Ramadan. Pada momen ini, khutbah Idulfitri tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian ibadah, tetapi juga sarana refleksi spiritual dan sosial bagi umat.

Ketua Dewan Pertimbangan MUI Kota Tangerang, Dr KH Sofyan Rosyada, MBA, dalam khutbahnya menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai puasa sebagai dasar membangun kehidupan yang lebih damai dan berkeadaban. Khutbah ini juga mengajak umat Islam untuk merespons konflik global, memperkuat kepedulian sosial, serta menjaga persatuan di tengah berbagai tantangan kemanusiaan.

Khutbah 1

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللّٰهِ وَبَرَكَاتُه

(اَللّٰهُ أَكْبَرُ ×3) (اللّٰهُ أَكْبَرُ ×3) (اللّٰهُ أَكْبَرُ ×3) اللّٰهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَاإِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْعِيْدَ مِنْ أَعْظَمِ الْأَيَّامِ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْأَنَامِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ إِلٰى يَوْمِ الزِّحَامِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَاعِبَادَ اللّٰهِ، اِتَّقُوْا اللّٰهَ وَرَاقِبُوْا مُرَاقَبَةَ مَنْ يَعْلَمُ أَنَّهُ يَرَاهُ، وَاعْلَمُوْا أَنَّهُ لَا يَضُرُّ وَلَا يَنْفَعُ وَلَا يُعْطِيْ وَلَا يَمْنَعُ سِوَاهُ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ: (اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ)

صدق الله العظيم

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kita kesempatan untuk menyempurnakan ibadah di bulan Ramadhan dan mengantarkan kita pada hari kemenangan, Idul Fitri yang penuh berkah.

Shalawat serta salam senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan pengikut beliau hingga akhir zaman.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

Baca juga: Khutbah Idul Fitri: 9 Pelajaran dari “Madrasah Ramadan” agar Tetap Istiqamah Setelah Lebaran

Kaum Muslimin Rahimakumullah,

Pagi ini adalah pagi yang penuh dengan kebahagiaan. Takbir berkumandang di mana-mana mengumandangkan keagungan asma Allah sebagai pengakuan kelemahan kita sebagai hamba yang fakir di hadapan Allah SWT, Sang Pencipta alam semesta.

Masjid dan lapangan dipenuhi kaum muslimin. Wajah-wajah berseri, pakaian terbaik dikenakan, dan hati dipenuhi rasa syukur kepada Allah.

Hari ini kita merayakan Idul Fitri, yaitu hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan. Namun, kemenangan itu tidak bermakna kecuali jika puasa kita mencapai derajat maqbul, yaitu puasa yang bukan hanya tampak secara fisik, tetapi juga menginspirasi perilaku hidup yang lebih baik dalam kehidupan berbangsa dan berperadaban.

Puasa yang maqbul adalah puasa yang mengonstruksi jiwa kita untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan, persaudaraan, kejujuran, dan perdamaian.

Pada hakikatnya, puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga secara lahir, tetapi juga menahan kemarahan, kebencian, prasangka buruk, dan tindakan merusak kehidupan sosial.

Kaum Muslimin Rahimakumullah,

Hari ini kita berada dalam momentum kebersamaan. Namun, di belahan dunia lain, banyak saudara kita sedang mengalami bencana peperangan dan konflik yang menghancurkan kehidupan mereka, khususnya di kawasan Timur Tengah, di mana ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah meningkat dan menimbulkan korban jiwa serta ketidakstabilan wilayah yang semakin meluas.

Konflik ini bermula dari eskalasi militer sejak akhir Februari 2026, ketika gabungan serangan militer oleh Israel dan Amerika Serikat menyasar fasilitas strategis dan struktur pemerintahan Iran, yang kemudian dibalas oleh serangan balasan dari Iran ke berbagai target, termasuk Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Teluk.

Akibatnya, bukan hanya penderitaan bagi mereka yang hidup dalam zona konflik, tetapi juga berimplikasi secara global, mulai dari penutupan jalur energi strategis hingga kenaikan harga-harga kebutuhan pokok.

Baca juga: 5 Khutbah Idul Fitri tentang Orang Tua, Penuh Doa dan Kerinduan

Jamaah yang dirahmati Allah,

Lalu timbullah di sini satu pertanyaan yang patut direnungkan bersama: Bagaimana seharusnya umat Islam merespons konflik dan kebencian yang melanda dunia ini?

Tidak lain jawabannya adalah: dengan nilai-nilai ke-maqbul-an puasa, yaitu satu konsep yang membawa kedamaian, saling menghormati, dan menebarkan kasih sayang.

Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Artinya: “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Nilai ini mutlak diperlukan pada masa seperti sekarang, di mana konflik global mengakibatkan ketidakamanan dan penderitaan. Terutama sekali bagi saudara-saudara kita yang berada di Gaza yang masih mengalami penderitaan akibat konflik yang berkepanjangan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

Kaum Muslimin Rahimakumullah,

Ketahuilah bahwa akhlakul karimah bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bahkan dalam hubungan antarnegara. Ketika dunia dipenuhi permusuhan, konflik, dan peperangan, umat Islam harus menjadi pelopor kedamaian, diplomasi, dan kesejahteraan bersama.

Kita hidup di sebuah bangsa yang besar, bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika. Sebagaimana kita belajar menahan nafsu dan emosi saat berpuasa, kita juga diajarkan untuk menahan diri dari kekerasan, prasangka buruk, dan tindakan yang memecah belah masyarakat.

Dalam konteks konflik global saat ini, kita tidak bersimpati kepada kebencian dan permusuhan, tetapi kepada prinsip kemanusiaan universal yang menolak penindasan dan peperangan yang mengorbankan jiwa manusia tak berdosa.

Umat Islam adalah umat yang dipenuhi prinsip rahmatan lil ‘alamin, karena pada hakikatnya Islam itu sendiri adalah rahmat bagi seluruh alam.

Kiranya spirit puasa maqbul harus kita wujudkan dengan menjaga persatuan bangsa, menjunjung tinggi kedamaian, menghormati hak asasi manusia dan mendorong penyelesaian konflik dunia secara damai.

Sungguh situasi peperangan di kawasan lain mengingatkan kita bahwa ketidakadilan dan kebencian hanya akan melahirkan penderitaan, bukan kebahagiaan. Dan sebagai umat beriman, kita harus menunjukkan contoh kepada dunia, bahwa hanya kedamaian dan akhlakul karimah yang mampu menyelamatkan umat manusia dari kehancuran.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

Baca juga: Doa Khutbah Idul Fitri yang Menyentuh Hati: Bacaan Penutup yang Sering Membuat Jemaah Menangis

Kaum Muslimin Rahimakumullah,

Hari ini adalah hari kebahagiaan. Hari di mana takbir menggema di langit dan bumi. Hari di mana kita saling berjabat tangan dan saling memaafkan. Hari ini adalah Idul Fitri, hari kembali kepada fitrah.

Namun, jamaah yang dimuliakan Allah, di tengah kebahagiaan ini, marilah kita sejenak merenung. Tidak semua orang merayakan Idul Fitri dengan kebahagiaan yang sama. Di berbagai daerah di negeri kita, ada saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah banjir dan tanah longsor. Ada rumah yang hanyut terbawa arus, ada sawah yang rusak, ada harta benda yang hilang, bahkan ada keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai.

Jumlah mereka yang menjadi korban bencana ini mencapai 1.100 orang yang meninggal dunia, sementara saudara kita yang masih mengungsi akibat kehilangan tempat tinggal sebanyak lebih dari 496.000 jiwa. Jumlah yang luar biasa yang hampir menyamai korban perang di Timur Tengah.

Bayangkanlah, pada malam takbiran ketika kita berkumpul bersama keluarga, mungkin ada saudara kita yang justru mengungsi di tenda darurat.

Ketika anak-anak kita mengenakan pakaian baru, mungkin ada anak-anak lain yang kehilangan pakaian dan mainannya karena rumah mereka tersapu banjir.

Ketika kita menikmati hidangan hari raya, mungkin ada keluarga yang hanya bisa makan sekadarnya di tempat pengungsian.

Jamaah yang Dirahmati Allah,

Inilah sebabnya Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan seorang muslim tidak boleh egois dan hanya untuk dirinya sendiri.

Rasulullah SAW bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Artinya: “Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai, saling menyayangi dan bahu membahu, bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Muslim)

Jelas sekali Rasulullah SAW menyampaikan dalam hadis ini bahwa penderitaan saudara kita seharusnya juga kita rasakan.

Jika kita benar-benar merasakan itu, maka hati kita akan terdorong untuk membantu, menolong, dan meringankan beban mereka.

Allah SWT berfirman:

... وَتَعَاوَنُوْاعَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“… Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2)

Di sini kita harus benar-benar menyadari bahwa Idul Fitri bukan hanya hari untuk merayakan kemenangan pribadi, tetapi juga hari untuk menghidupkan kembali kepedulian sosial dalam kehidupan kita.

Jamaah Shalat Idul Fitri yang Berbahagia,

Syukur, Alhamdulillah, bangsa Indonesia telah membuktikan bahwa kita adalah bangsa yang perduli terhadap sesama. Begitu banyak bantuan yang diberikan kepada saudara-saudara kita yang terdampak bencana, baik secara langsung maupun melalui berbagai lembaga, ormas, dan terutama melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang menyalurkan bantuan berupa bahan makanan pokok, bantuan medis dan tenda, pemulihan jangka panjang, dan lain sebagainya.

Ini merupakan salah satu bukti bahwa sungguh zakat itu berperan vital dalam penanganan bencana di Indonesia melalui respons cepat (darurat) dan pemulihan jangka panjang. Hal ini juga didukung oleh fatwa MUI No. 66/2022 yang membolehkan alokasi dana untuk korban bencana.

Perlu diingatkan kembali bahwa ada banyak dampak positif dari zakat terhadap kemakmuran umat, di antaranya adalah:

1. Mengentaskan kemiskinan

Zakat yang dikumpulkan dan didistribusikan secara tepat dapat membantu fakir miskin memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ini menjadi langkah konkret dalam membangun kesejahteraan masyarakat.

2. Menjaga stabilitas sosial

Dengan adanya distribusi zakat yang merata, ketimpangan sosial dapat dikurangi sehingga tidak timbul kecemburuan sosial yang berpotensi menyebabkan konflik dalam masyarakat.

3. Mendorong pertumbuhan ekonomi

Zakat tidak hanya diberikan dalam bentuk konsumsi, tetapi juga bisa digunakan untuk modal usaha bagi mereka yang kurang mampu, sehingga menciptakan kemandirian ekonomi bagi umat.

4. Meningkatkan ukhuwah Islamiyah

Zakat menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial. Umat Islam menjadi lebih peka terhadap kondisi saudaranya yang membutuhkan dan bersama-sama membangun kehidupan yang lebih baik.

Jadi zakat yang telah kita tunaikan bukan sekadar kewajiban, tetapi juga sarana untuk membangun umat yang kuat, mandiri, dan sejahtera.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

Kaum Muslimin Rahimakumullah,

Ramadhan telah mengajarkan kita banyak hal. Ramadhan mengajarkan kesabaran dan pengendalian diri. Ramadhan juga mengajarkan kepedulian kepada orang yang membutuhkan. Kita menahan lapar agar kita merasakan penderitaan orang yang kelaparan. Kita mengeluarkan zakat fitrah agar orang miskin juga bisa merasakan kebahagiaan Idul Fitri.

Kini Ramadhan telah pergi. Namun, nilai-nilai Ramadhan tidak boleh ikut pergi bersama berlalunya bulan suci itu. Jadikanlah semangat Ramadhan sebagai kekuatan untuk menjadi manusia yang peduli kepada sesama, ringan tangan membantu orang lain, menyantuni fakir miskin, menyayangi anak yatim dan membantu korban bencana yang sedang membutuhkan uluran tangan serta menebarkan kasih sayang di tengah masyarakat.

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR Ahmad)

Jika kita mampu melakukan itu semua, maka puasa kita benar-benar melahirkan ke-maqbul-an yang membawa rahmat bagi sesama manusia.

Jamaah yang Dimuliakan Allah,

Ramadhan memang telah pergi. Namun,Tuhan Ramadhan tetap ada. Allah yang kita sembah di bulan Ramadhan adalah Allah yang sama yang harus kita sembah sepanjang masa. Karena itu kita perlu memaknai untuk menjadikan Idul Fitri ini sebagai awal kehidupan yang lebih baik. Bukan akhir dari ibadah kita.

Jangan sampai kita menjadi orang yang hanya rajin beribadah ketika Ramadhan datang. Jangan sampai masjid hanya ramai di bulan Ramadhan, lalu sepi kembali setelahnya, sebab tanda diterimanya amal Ramadhan adalah ketika seseorang tetap istiqamah dalam kebaikan setelah Ramadhan.

Jamaah yang Dimuliakan Allah,

Hari ini kita bertakbir mengagungkan Allah. Dan ingatlah, suatu hari nanti akan datang hari di mana kita tidak lagi bisa bertakbir di dunia ini. Suatu hari nanti kita akan dipanggil oleh Allah. Suatu hari nanti kita akan kembali kepada-Nya. Dan pada hari itu yang kita bawa bukanlah harta, bukan jabatan, bukan kemewahan dunia. Yang kita bawa hanyalah iman dan amal saleh.

Oleh karena itu, sekali lagi, marilah kita menjadikan Idul Fitri ini sebagai awal kehidupan yang baru. Awal untuk menjadi hamba yang lebih taat, awal untuk memperbaiki diri, awal untuk menjadi manusia yang lebih dekat kepada Allah SWT.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Idul Fitri bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga momen penyucian diri dan penyempurnaan ibadah kita. Fitrah yang kita raih setelah Ramadhan akan menjadi sempurna jika kita juga menyucikan hati dengan saling memaafkan dan memperbaiki hubungan yang mungkin telah rusak.

Kita semua tahu bahwa memaafkan adalah sifat yang mulia dan mendatangkan ampunan Allah. Apabila kita ingin mendapatkan ampunan dari Allah SWT, maka kita juga harus berlapang dada untuk memaafkan kesalahan orang lain. Maka dari itu, momen Idul Fitri ini harus menjadi ajang untuk mempererat hubungan persaudaraan, baik dengan keluarga, sahabat, maupun sesama Muslim secara umum.

Adakalanya, kesalahan yang kita lakukan atau yang dilakukan oleh orang lain membuat hubungan menjadi renggang. Namun, Islam mengajarkan kita untuk selalu membuka pintu maaf.

Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat: 10)

Begitu juga Rasulullah SAW pernah bersabda:

لَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللّٰهِ إِخْوَانًا وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ

Artinya: “Janganlah kamu sekalian saling putus memutuskan tali persaudaraan, janganlah kamu sekalian saling belakang membelakangi, jangan kamu sekalian saling benci membenci dan janganlah kamu saling hasud menghasud. Jadilah kamu sekalian sebagai hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim tidak halal mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR Imam Bukhari dan Muslim)

Maka dari itu, di hari yang fitri ini, marilah kita mengetuk pintu maaf satu sama lain, baik secara langsung maupun melalui doa, agar hati kita kembali bersih dan hubungan kita semakin kuat.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Sebagai penutup, marilah kita jadikan Idul Fitri ini sebagai kesempatan untuk kembali kepada hati yang suci, saling memaafkan, dan mempererat silaturahmi.

Semoga Allah SWT melimpahkan kedamaian di dunia ini, terutama bagi umat Islam seluruhnya, menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan dan menjadikan kita insan yang lebih baik setelahnya. Amin ya Rabbal’alamin.

تَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

(اَللّٰهُ اَكْبَرُ ۷×) اَللّٰهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً.

اَلْحَمْدُلِلّٰهِ اَعَادَالْاَعْيَادَ وَكَرَّرَ. اَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالٰى اَنْ خَلَقَ وَ صَوَّرَ. وَاَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً يَثْقَلُ بِهَا الْمِيْزَانُ فِى الْمَحْشَرِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ اِلٰى الْاَ سْوَدِ وَالْاَحْمَرِ.اَللّٰهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ الْفَائِزِيْنَ بِالشَّرَفِ الْاَفْخَرِ.

اَمَّابَعْدُ، فَيَا عِبَادَاللّٰهِ اِتَّقُوااللّٰهَ فِيْمَا اَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى اللّٰهُ عَنْهُ وَحَذَّرَ. وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللّٰهَ تَعَالٰى صَلّٰى عَلٰى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا، فَقَالَ تَعَالٰى : اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلٰى النَّبِيِّ يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِالْخَلْقِ صَاحِبِ الْوَجْهِ الْاَنْوَرِ. وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنْ كُلِّ الصَّحَابَةِ اَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانِ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهمَّ اَعِزَّالْاِسْلاَمَ وَالْمُسْلمِيْنَ، وَاَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ الْمُسْلمِيْنَ، وَاَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ اَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَاَعْلِ كَلِمَتَكَ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ. اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. رَبَّنَااٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ،اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَإِيْتَآءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِوَالْبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ.

اَللّٰهُ اَكْبَرُ ۳ × لاَاِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ وَاللّٰهُ اَكْبَرُ، اَللّٰهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Lokasi Shalat Idul Fitri 2026 Muhammadiyah di Bali 20 Maret 2026
Lokasi Shalat Idul Fitri 2026 Muhammadiyah di Bali 20 Maret 2026
Aktual
Pesan Idul Fitri 2026 Muhammadiyah: Haedar Nashir Ajak Umat Bangun Kepedulian dan Persaudaraan
Pesan Idul Fitri 2026 Muhammadiyah: Haedar Nashir Ajak Umat Bangun Kepedulian dan Persaudaraan
Aktual
Lokasi Shalat Idul Fitri 2026 Muhammadiyah di Tangsel 20 Maret 2026
Lokasi Shalat Idul Fitri 2026 Muhammadiyah di Tangsel 20 Maret 2026
Aktual
Lokasi Shalat Idul Fitri 2026 Muhammadiyah di Jaksel 20 Maret 2026
Lokasi Shalat Idul Fitri 2026 Muhammadiyah di Jaksel 20 Maret 2026
Aktual
Kapan Malam Takbiran Idul Fitri 2026? Ini Penjelasan dan Bacaan Lengkapnya
Kapan Malam Takbiran Idul Fitri 2026? Ini Penjelasan dan Bacaan Lengkapnya
Aktual
Kisah Mudik Lebaran: Istri Tertinggal di Rest Area Tol Cipali, Berakhir Diantar Polisi Naik Motor Susul Keluarga
Kisah Mudik Lebaran: Istri Tertinggal di Rest Area Tol Cipali, Berakhir Diantar Polisi Naik Motor Susul Keluarga
Aktual
Warga Afghanistan Sambut Idul Fitri di Tengah Sanksi AS dan Kemiskinan
Warga Afghanistan Sambut Idul Fitri di Tengah Sanksi AS dan Kemiskinan
Aktual
Hilal Tak Terlihat, Lebaran 2026 Diprediksi 21 Maret, Ramadan Berpotensi 30 Hari
Hilal Tak Terlihat, Lebaran 2026 Diprediksi 21 Maret, Ramadan Berpotensi 30 Hari
Aktual
Khutbah Idul Fitri 1447 H: Pesan MUI tentang Ketahanan Umat di Tengah Krisis Global
Khutbah Idul Fitri 1447 H: Pesan MUI tentang Ketahanan Umat di Tengah Krisis Global
Aktual
MUI Imbau Umat Rayakan Idul Fitri Sesuai Keyakinan, Hilal Belum Penuhi Kriteria
MUI Imbau Umat Rayakan Idul Fitri Sesuai Keyakinan, Hilal Belum Penuhi Kriteria
Aktual
Niat Zakat Fitrah untuk Keluarga 2026: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Besarannya
Niat Zakat Fitrah untuk Keluarga 2026: Bacaan Arab, Latin, Arti, dan Besarannya
Aktual
Khutbah Idul Fitri 1447 H: Pesan Damai, Kepedulian Sosial, dan Persatuan Umat
Khutbah Idul Fitri 1447 H: Pesan Damai, Kepedulian Sosial, dan Persatuan Umat
Aktual
Jadwal Buka Puasa Kota Tangerang Selatan Hari Ini, Kamis 19 Maret 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Tangerang Selatan Hari Ini, Kamis 19 Maret 2026
Aktual
 Jadwal Buka Puasa Kota Bekasi Hari Ini, Kamis 19 Maret 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Bekasi Hari Ini, Kamis 19 Maret 2026
Aktual
Jadwal Buka Puasa Kota Batam Hari Ini, Kamis 19 Maret 2026
Jadwal Buka Puasa Kota Batam Hari Ini, Kamis 19 Maret 2026
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com