Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Doa Khutbah Idul Fitri yang Menyentuh Hati: Bacaan Penutup yang Sering Membuat Jemaah Menangis

Kompas.com, 14 Maret 2026, 15:22 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Hari Raya Idul Fitri bukan hanya momentum kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa, tetapi juga saat paling haru bagi banyak umat Islam.

Setelah menunaikan shalat Id, khatib biasanya menutup khutbah dengan doa yang penuh harapan, penyesalan, dan permohonan ampun kepada Allah SWT.

Tak jarang, suasana lapangan atau masjid menjadi hening. Banyak jemaah yang menundukkan kepala, bahkan meneteskan air mata ketika doa dibacakan. Kata-kata yang mengingatkan tentang dosa, kematian, orang tua, dan harapan menjadi hamba yang lebih baik sering kali membuat hati tersentuh.

Doa penutup khutbah Idul Fitri biasanya memohon agar amal ibadah Ramadhan diterima, dosa diampuni, serta kehidupan ke depan dipenuhi keberkahan.

Baca juga: Khutbah Idul Fitri Singkat, Padat, dan Mengharukan

Berikut contoh doa khutbah Idul Fitri yang sering dibacakan para khatib dan mampu menggugah hati para jemaah.

Doa Khutbah Idul Fitri yang Menyentuh Hati

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوعَنَا وَسُجُودَنَا وَتِلَاوَتَنَا لِكِتَابِكَ الْكَرِيمِ

Allahumma taqabbal minna shiyamana wa qiyamana wa ruku'ana wa sujudana wa tilawatana likitabikal karim.

Artinya:

“Ya Allah, terimalah dari kami puasa kami, shalat kami, rukuk dan sujud kami, serta bacaan Al-Qur’an kami.”

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ

Allahummaj‘alna minal ‘aidina wal faizin.

Artinya:

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah dan meraih kemenangan.”

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا كُلَّهَا، دِقَّهَا وَجِلَّهَا، أَوَّلَهَا وَآخِرَهَا

Allahummaghfir lana dzunubana kullaha, diqqaha wa jillaha, awwalaha wa akhiraha.

Artinya:

“Ya Allah, ampunilah seluruh dosa kami, yang kecil maupun yang besar, yang terdahulu maupun yang kemudian.”

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

Allahummaghfir liwalidayna warhamhuma kama rabbayana shighara.

Artinya:

“Ya Allah, ampunilah kedua orang tua kami dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami sejak kecil.”

Doa Haru untuk Penutup Khutbah

Ya Allah…
Jika Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir kami, maka jadikanlah ia sebagai Ramadhan terbaik dalam hidup kami.

Jika Engkau masih memberi kami umur, pertemukanlah kami kembali dengan Ramadhan yang akan datang dalam keadaan lebih taat kepada-Mu.

Ya Allah…
Ampuni dosa-dosa kami yang sering kami ulangi.
Ampuni kelalaian kami dalam beribadah.
Ampuni hati kami yang masih keras dan jauh dari mengingat-Mu.

Ya Allah…
Bagi orang tua kami yang masih hidup, panjangkan umur mereka dalam kebaikan.
Bagi yang telah Engkau panggil, lapangkan kuburnya dan tempatkan mereka di surga-Mu.

Ya Allah…
Jangan Engkau jadikan hari raya ini hanya sebagai perayaan, tetapi jadikan ia sebagai hari pengampunan bagi kami.

Ya Allah…
Jangan biarkan kami kembali kepada dosa setelah Ramadhan berlalu.

Rabbana taqabbal minna innaka antas sami‘ul ‘alim.
Wa tub ‘alaina innaka antat tawwabur rahim.

Artinya:
“Wahai Tuhan kami, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Mengapa Doa Khutbah Idul Fitri Sering Membuat Jemaah Menangis?

Doa penutup khutbah Idul Fitri sering menghadirkan suasana haru karena mengingatkan umat tentang perjalanan spiritual selama Ramadhan.

Baca juga: 5 Contoh Khutbah Idul Fitri Menyentuh Hati: Syukur, Silaturahmi & Maaf

Di momen itu, banyak orang menyadari betapa singkatnya waktu, betapa banyak dosa yang telah dilakukan, dan betapa besar harapan agar Allah menerima semua amal yang telah dikerjakan selama bulan suci.

Karena itulah, tidak sedikit jemaah yang meneteskan air mata ketika khatib memanjatkan doa.

Idul Fitri akhirnya bukan sekadar hari kemenangan, tetapi juga saat yang paling tepat untuk kembali kepada Allah SWT dengan hati yang bersih dan penuh harapan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Daftar Nama 15 Anggota Majelis Masyayikh 2026–2031, Siap Fokus Tingkatkan Mutu Pesantren
Daftar Nama 15 Anggota Majelis Masyayikh 2026–2031, Siap Fokus Tingkatkan Mutu Pesantren
Aktual
Wamenag Ajak Santri Tolak Empat Ancaman, dari Terorisme hingga Pengaruh Digital
Wamenag Ajak Santri Tolak Empat Ancaman, dari Terorisme hingga Pengaruh Digital
Aktual
Imbas Penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran, Polri Mutasi Kapolres Sukoharjo
Imbas Penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran, Polri Mutasi Kapolres Sukoharjo
Aktual
Arti Sakinah Mawaddah Warahmah dalam Pernikahan dan Cara Mewujudkannya
Arti Sakinah Mawaddah Warahmah dalam Pernikahan dan Cara Mewujudkannya
Aktual
Surah Al-Hasyr Ayat 18, Perintah Muhasabah Sebelum Hari Perhitungan
Surah Al-Hasyr Ayat 18, Perintah Muhasabah Sebelum Hari Perhitungan
Aktual
Fenomena Budaya Flexing dan Pamer Kekayaan dalam Perspektif Islam
Fenomena Budaya Flexing dan Pamer Kekayaan dalam Perspektif Islam
Aktual
Ketum GP Ansor Dorong Perguruan Tinggi Bukan Sekadar Cetak Sarjana
Ketum GP Ansor Dorong Perguruan Tinggi Bukan Sekadar Cetak Sarjana
Aktual
Peserta dari 6 Negara Pelajari Peran Ulama Perempuan Indonesia
Peserta dari 6 Negara Pelajari Peran Ulama Perempuan Indonesia
Aktual
 Menjadi Tetangga yang Baik, Ini Hak dan Kewajiban dalam Islam
Menjadi Tetangga yang Baik, Ini Hak dan Kewajiban dalam Islam
Aktual
Mengenal Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Sosok Paling Dipercaya Rasulullah
Mengenal Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Sosok Paling Dipercaya Rasulullah
Aktual
Soal Pesantren di Sukoharjo, GP Ansor: Masyarakat Tak Main Hakim Sendiri, Polisi Jangan Gegabah
Soal Pesantren di Sukoharjo, GP Ansor: Masyarakat Tak Main Hakim Sendiri, Polisi Jangan Gegabah
Aktual
Jangan Sibuk Mengejar Dunia hingga Lupa Bekal Akhirat
Jangan Sibuk Mengejar Dunia hingga Lupa Bekal Akhirat
Aktual
Ketua PP Muhammadiyah: Bila Hukum Tak Dihormati, Hukum Rimba Akan Terjadi
Ketua PP Muhammadiyah: Bila Hukum Tak Dihormati, Hukum Rimba Akan Terjadi
Aktual
Kisah Nabi Sulaiman dalam Surah An-Naml, Teladan Melindungi Hewan
Kisah Nabi Sulaiman dalam Surah An-Naml, Teladan Melindungi Hewan
Aktual
PK-Tren Kecam Penggeledahan Pesantren di Sukoharjo, Desak Kapolri dan Komnas HAM Turun Tangan
PK-Tren Kecam Penggeledahan Pesantren di Sukoharjo, Desak Kapolri dan Komnas HAM Turun Tangan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar