Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Profil Mojtaba Khamenei? Pemimpin Tertinggi Iran Pengganti Ayatollah Ali Khamenei

Kompas.com, 14 Maret 2026, 14:18 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Mojtaba Khamenei, putra Ayatollah Ali Khamenei, akhirnya dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran setelah kematian ayahnya dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel beberapa waktu lalu.

Penunjukan tersebut menempatkannya sebagai pemimpin ketiga Republik Islam Iran sejak revolusi 1979.

Ulama berusia 56 tahun itu selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh namun jarang terlihat dalam struktur politik Iran.

Dilansir dari Anadolu Ajansi, Mojtaba Khamenei dipilih oleh Majelis Ahli Iran, lembaga beranggotakan 88 ulama yang secara konstitusional bertugas menunjuk pemimpin tertinggi negara.

Baca juga: Profil Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Tewas dalam Serangan AS-Israel

Penunjukan Mojtaba mengikuti prosedur konstitusional yang berlaku, bukan melalui sistem pewarisan kekuasaan.

Meski demikian, kedekatannya dengan mendiang Ayatollah Ali Khamenei selama ini membuat namanya sering disebut dalam spekulasi mengenai suksesi kepemimpinan Iran.

Dengan terpilihnya Mojtaba, ia menjadi pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak Revolusi Islam 1979, mengambil alih kepemimpinan di tengah situasi konflik regional yang memanas dan ketidakpastian domestik.

Berikut adalah profil Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran setelah Ayatollah Ali Khamenei seperti dilansir Kompas.com dari BBC.

Baca juga: Mojtaba Khamenei Tak Tampil di Pidato Pertama, Ini 5 Poin Ucapannya

Profil Mojtaba Khamenei

Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, kota di timur laut Iran. Ia merupakan anak kedua dari enam bersaudara dalam keluarga Ali Khamenei.

Ia menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri dari Gholam-Ali Haddad-Adel, seorang politisi konservatif terkemuka sekaligus mantan ketua parlemen Iran yang kini memimpin salah satu lembaga kebudayaan utama di negara tersebut.

Zahra termasuk di antara korban tewas dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan kompleks tempat tinggal keluarga Khamenei di Teheran.

Mojtaba selamat dari serangan tersebut, namun kehilangan ibu, saudara perempuan, ipar, serta keponakan dalam insiden yang sama.

Latar Belakang Pendidikan Mojtaba Khamenei

Mojtaba menempuh pendidikan menengah di Sekolah Alavi di Teheran, sebuah sekolah berbasis pendidikan agama.

Menurut laporan media Iran, Mojtaba sempat menjalani dinas militer singkat pada usia 17 tahun selama Perang Iran-Irak.

Konflik berdarah yang berlangsung selama delapan tahun itu memperkuat sikap kecurigaan rezim Iran terhadap Amerika Serikat dan negara-negara Barat yang mendukung Irak.

Pada 1999, Mojtaba melanjutkan studi keagamaan di kota suci Qom, yang dikenal sebagai salah satu pusat teologi Syiah paling penting di dunia.

Ia tidak mengenakan pakaian ulama hingga masa tersebut, dan tidak diketahui secara pasti alasan ia memutuskan masuk seminari pada usia sekitar 30 tahun, yang relatif lebih terlambat dibandingkan kebiasaan umum.

Mojtaba Khamenei Menyandang Gelar Ulama

Saat ini Mojtaba masih dianggap sebagai ulama tingkat menengah, yang bagi sebagian pihak dapat menjadi tantangan dalam penerimaan dirinya sebagai pemimpin tertinggi Iran.

Sebelum penunjukannya, sejumlah media dan pejabat yang dekat dengan pusat kekuasaan di Iran mulai menyebut Mojtaba sebagai “Ayatollah”, gelar ulama senior.

Perubahan sebutan tersebut dinilai oleh sebagian pengamat sebagai upaya meningkatkan legitimasi keagamaannya sebagai pemimpin.

Dalam sistem pendidikan seminari Syiah, gelar Ayatollah serta kemampuan mengajar tingkat lanjut dianggap sebagai indikator tingkat keilmuan seseorang dan menjadi salah satu syarat penting bagi calon pemimpin tertinggi.

Namun, hal serupa pernah terjadi sebelumnya. Ayahnya, Ali Khamenei, juga mendapatkan gelar Ayatollah tidak lama setelah diangkat sebagai pemimpin tertinggi Iran pada 1989.

Seorang pria menyaksikan tayangan televisi yang menampilkan pidato pertama Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada Kamis (12/3/2026).AFP Seorang pria menyaksikan tayangan televisi yang menampilkan pidato pertama Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada Kamis (12/3/2026).

Mojtaba Khamenei Disebut Figur Misterius

Media internasional sering menggambarkan Mojtaba Khamenei sebagai figur misterius yang diduga memiliki pengaruh besar di balik layar kekuasaan Iran.

Minimnya penampilan publik memperkuat citra tersebut, karena hampir tidak ada pidato publik, wawancara, atau manifesto politik yang menjelaskan pandangannya.

Nama Mojtaba beberapa kali muncul dalam perbincangan politik di Iran, terutama terkait pemilihan presiden atau spekulasi mengenai kandidat yang didukungnya.

Namun Mojtaba sendiri jarang terlibat langsung dalam perdebatan politik terbuka. Penampilannya di ruang publik umumnya terbatas pada acara kenegaraan, peringatan nasional, atau kegiatan keagamaan yang diliput media pemerintah Iran.

Penampilan publik terakhirnya terjadi dalam aksi unjuk rasa pro-pemerintah setelah gelombang protes besar yang terjadi awal tahun ini.

Menurut laporan Iran, Mojtaba juga pernah terlibat dalam Perang Iran-Irak pada akhir 1980-an ketika ayahnya menjabat sebagai presiden.

Ia disebut bergabung dengan unit sukarelawan saat masih muda, yang menjadi pengalaman awalnya dalam bidang militer.

Beberapa media Barat juga mengaitkan namanya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), salah satu institusi paling berpengaruh di Iran, meskipun ia tidak memegang jabatan resmi di organisasi tersebut.

Nama Mojtaba Khamenei Jadi Sorotan Sejak Pemilu 2005

Nama Mojtaba mulai mendapat sorotan publik pada pemilihan presiden Iran 2005 yang dimenangkan oleh Mahmoud Ahmadinejad, seorang tokoh garis keras.

Dalam surat terbuka kepada Ali Khamenei, kandidat reformis Mehdi Karroubi menuduh Mojtaba ikut campur dalam proses pemilu melalui jaringan Garda Revolusi Iran (IRGC) dan milisi Basij yang membagikan uang kepada kelompok keagamaan untuk membantu kemenangan Ahmadinejad.

Empat tahun kemudian, tuduhan serupa kembali muncul. Pemilihan ulang Ahmadinejad memicu gelombang demonstrasi besar yang dikenal sebagai Gerakan Hijau.

Sebagian demonstran bahkan meneriakkan slogan yang menolak kemungkinan Mojtaba menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi Iran.

Mostafa Tajzadeh, yang saat itu menjabat wakil menteri dalam negeri, menyebut hasil pemilu tersebut sebagai “kudeta elektoral”.

Ia kemudian dipenjara selama tujuh tahun dan menyatakan hukuman tersebut merupakan “keinginan langsung Mojtaba Khamenei”.

Dua kandidat reformis, Mir-Hossein Mousavi dan Mehdi Karoubi, kemudian ditempatkan dalam tahanan rumah setelah pemilu 2009.

Pada Februari 2012, Mojtaba dilaporkan bertemu Mousavi dan mendesaknya menghentikan protes, menurut sumber Iran yang dikutip BBC Persian.

Mojtaba Khamenei (tengah), putra dari mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, saat berjalan di Teheran pada 31 Mei 2019.ISNA/HAMID FOROUTAN via AFP Mojtaba Khamenei (tengah), putra dari mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, saat berjalan di Teheran pada 31 Mei 2019.

Tantangan untuk Memimpin Iran

Sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru, banyak pihak memperkirakan Mojtaba akan melanjutkan kebijakan garis keras yang selama ini diterapkan ayahnya.

Sebagian pengamat juga menilai seseorang yang kehilangan ayah, ibu, dan istrinya dalam serangan Amerika Serikat dan Israel kemungkinan tidak akan mudah tunduk pada tekanan Barat.

Namun Mojtaba juga menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas Republik Islam Iran serta meyakinkan publik bahwa ia mampu memimpin negara keluar dari krisis politik dan ekonomi.

Rekam jejak kepemimpinannya yang masih terbatas serta persepsi bahwa sistem republik berubah menjadi dinasti keluarga dapat memperdalam ketidakpuasan masyarakat.

Selain itu, Menteri Pertahanan Israel pekan lalu menyatakan bahwa siapa pun yang dipilih sebagai penerus Ali Khamenei akan menjadi “target eliminasi yang jelas”.

Berbeda dengan ayahnya, Mojtaba selama ini cenderung menjaga profil rendah. Ia tidak pernah memegang jabatan pemerintahan, jarang memberikan pidato publik, dan hanya sedikit foto atau video dirinya yang beredar.

Meski demikian, selama bertahun-tahun beredar rumor bahwa ia memiliki pengaruh besar di balik layar politik Iran.

Laporan diplomatik Amerika Serikat yang dipublikasikan WikiLeaks pada akhir 2000-an menyebut Mojtaba sebagai “kekuatan di balik jubah ulama” yang dianggap sebagai figur “mampu dan tegas” dalam struktur kekuasaan Iran, menurut laporan kantor berita AP.

Namun penunjukannya tetap berpotensi menimbulkan kontroversi. Republik Islam Iran didirikan setelah monarki digulingkan pada 1979, dengan prinsip bahwa pemimpin tertinggi dipilih berdasarkan kapasitas keagamaan dan kepemimpinan, bukan melalui garis keturunan.

Selama masa kepemimpinannya, Ali Khamenei hanya berbicara secara umum mengenai masa depan kepemimpinan Republik Islam Iran.

Salah satu anggota Majelis Ahli Iran bahkan pernah menyatakan dua tahun lalu bahwa Ali Khamenei menolak gagasan pencalonan putranya sebagai pemimpin di masa depan, meskipun spekulasi tersebut tidak pernah secara langsung ditanggapi oleh dirinya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com