Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Masih Ada yang Tak Mampu Beli Kafan, Dedi Mulyadi Tahan Tangis, Minta Maaf di Hari Lebaran

Kompas.com, 22 Maret 2026, 07:25 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Momen Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang seharusnya penuh sukacita justru diwarnai suasana haru.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tampil dengan suara bergetar, menahan tangis saat menyampaikan pidato di hadapan ribuan warga usai shalat Id di halaman Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (21/3/2026).

Dalam momen penuh refleksi itu, pria yang akrab disapa KDM tersebut secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas satu tahun kepemimpinannya yang diakuinya belum mampu memenuhi seluruh harapan masyarakat Jawa Barat.

Ia mengungkapkan, keterbatasan alokasi keuangan pemerintah masih menjadi hambatan besar dalam menghadirkan kesejahteraan yang merata, terutama bagi masyarakat di pelosok desa.

Baca juga: Cerita Warga Banten Rela ke Medan demi Shalat Id di Masjid Bersejarah

Realita yang dihadapi pun tak ia tutupi—mulai dari jalan rusak, irigasi yang belum memadai, hingga persoalan layanan kesehatan dan pendidikan yang belum optimal.

"Saya sampaikan permohonan maaf pada seluruh warga Jabar apabila ada yang meninggal tak mampu membeli kain kafan, apabila ada anak yang sekolah tak mampu beli baju dan sepatu, atau apabila masih ada rumah yang tidak bisa makan karena kehabisan beras," ujar Dedi dengan penuh penyesalan, dilansir dari YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.

Pidato tersebut menjadi potret jujur tentang kondisi yang masih dihadapi sebagian masyarakat. Dedi mengaku merasa malu karena hingga kini masih ada warga yang kesulitan berobat akibat persoalan BPJS, serta anak-anak yang belum sepenuhnya mendapatkan akses pendidikan yang layak.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan filosofi kepemimpinannya melalui konsep “Kurung Cil” dan “Kentel Guru Cil”. Menurutnya, pemimpin sejati adalah mereka yang rela “mengurangi tidur” karena pikiran dan hatinya terus memikirkan rakyat yang sedang lapar dan kesulitan.

Tak hanya itu, Dedi turut menyoroti persoalan pajak dan iuran yang dinilai masih membebani masyarakat. Ia menilai, beban tersebut belum sepenuhnya sebanding dengan kesejahteraan yang diterima rakyat.

Karena itu, ia berkomitmen untuk mendorong efisiensi anggaran hingga mencapai 15 persen agar lebih banyak dana dapat dialokasikan bagi kepentingan rakyat kecil atau kaum *mustadhafin*.

Di tengah keterbatasan tersebut, Dedi juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada masyarakat Jawa Barat.

Ia mengaku kagum atas kesetiaan warga yang tetap taat membayar pajak, bahkan mampu mendorong peningkatan pendapatan daerah hingga tiga kali lipat selama Ramadan.

Menutup pidatonya, Dedi berjanji akan terus berbenah, melakukan evaluasi, serta menggerakkan birokrasi dan keuangan daerah agar pelayanan publik semakin baik.

Baca juga: Cerita di Tengah Takbir, Warga Rayakan Lebaran dengan Cara Sederhana namun Bermakna

Ia berharap ke depan tidak ada lagi warga yang merasa negara absen di saat mereka membutuhkan.

Dengan doa yang lirih namun penuh harap, ia menutup pidato tersebut dengan harapan agar Indonesia senantiasa damai, dan Jawa Barat mampu mewujudkan cita-cita sebagai provinsi yang “Gemah Ripah Repet Rapi”—alamnya terjaga, rakyatnya sejahtera, serta terhindar dari berbagai bencana.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar