Editor
KOMPAS.com – Malam takbiran di Danau Maninjau turun perlahan, seperti tirai yang menutup langit. Riak air memantulkan cahaya, gema takbir bersahutan dari masjid, sementara angin malam membawa suasana yang syahdu sekaligus magis.
Di tepian Nagari Maninjau, puluhan warga mulai berkumpul. Dari kejauhan, cahaya-cahaya kecil berpendar di atas permukaan danau—menjadi tanda dimulainya tradisi yang telah lama mengakar: Festival Rakik-Rakik.
Sekitar tiga puluh pemuda terlihat sigap mengusung miniatur Rumah Gadang berbahan kertas plastik menuju rakit yang telah disiapkan.
Baca juga: 5 Momen Halalbihalal yang Selalu Dirindukan Saat Lebaran
Miniatur itu, yang dikenal sebagai telong-telong, menjadi pusat perhatian dalam perhelatan malam takbiran.
“Awas aia angek (air panas),” seru seorang pemuda, memecah kesunyian yang sempat menyelimuti suasana.
Rakit tradisional sepanjang sekitar 10 meter itu berdiri kokoh di atas drum dan papan kayu. Dihiasi kerangka bambu dan dedaunan kering, rakit tampak sederhana namun sarat makna.
Di atasnya, miniatur Rumah Gadang berdampingan dengan Rangkiang—lumbung padi khas Minangkabau yang melambangkan kesejahteraan.
Seiring waktu, cahaya lampu LED mulai menyala, berpadu dengan obor-obor yang melingkari bagian depan rakit. Pendar hangat itu memantul di air gelap, menciptakan panorama yang memukau.
Suasana semakin hidup ketika dentuman batuang atau meriam bambu mulai terdengar. Ledakan yang dihasilkan dari reaksi kalium karbida memecah malam, berpadu dengan tabuhan gendang tambua tansa yang menggema dari tepian danau.
Warga yang semula duduk santai pun serentak berdiri. Ponsel diangkat, momen diabadikan. Malam takbiran bukan lagi sekadar ritual, melainkan perayaan budaya yang menghidupkan kebersamaan.
Festival Rakik-Rakik sendiri bukan tradisi yang muncul tiba-tiba. Sehari sebelum acara, para pemuda telah berkumpul di Kubu Baru Panyinggahan untuk menyiapkan rakit secara gotong royong. Tali-temali diikat dengan ketelitian, mencerminkan warisan budaya yang terus dijaga lintas generasi.
Baca juga: Lebaran Penuh Makna di Jambi: Ritual “Injak Bumi” untuk Bayi Jadi Tradisi Turun-temurun
Namun, tahun ini suasana terasa sedikit berbeda. Semangat kompetisi belum sepenuhnya menyala, seolah masih diselimuti bayang-bayang bencana hidrometeorologi yang melanda kawasan tersebut pada akhir November 2025.
Meski begitu, tradisi tetap berjalan. Di tengah duka dan tantangan, Festival Rakik-Rakik menjadi simbol ketahanan masyarakat—bahwa budaya, harapan, dan kebersamaan tetap hidup, mengapung di atas riak Danau Maninjau yang tak pernah benar-benar sunyi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang