Editor
KOMPAS.com - Hari kedua Lebaran selalu punya suasana yang berbeda. Setelah gema takbir mereda, momen Halalbihalal justru menjadi ruang paling hangat untuk kembali menyambung hubungan yang mungkin sempat renggang.
Di balik obrolan ringan dan hidangan khas Lebaran, ada banyak momen sederhana yang justru paling dirindukan. Berikut lima di antaranya yang sering membuat hati hangat—bahkan tak jarang meneteskan air mata.
Momen paling ikonik dari Halalbihalal tentu saja adalah saling memaafkan.
Kalimat sederhana seperti “mohon maaf lahir dan batin” sering kali diucapkan dengan penuh ketulusan. Bahkan, tak jarang menjadi awal dari mencairnya hubungan yang lama membeku.
Tidak setiap hari semua anggota keluarga bisa berkumpul.
Halalbihalal menjadi momen langka ketika yang jauh pulang, yang sibuk meluangkan waktu. Tawa, cerita lama, hingga candaan khas keluarga membuat suasana terasa begitu hidup.
Di tengah kebahagiaan, ada ruang hening yang tak bisa dihindari.
Banyak keluarga menyempatkan diri untuk ziarah kubur, mengenang mereka yang sudah lebih dulu pergi. Momen ini sering menjadi paling menyentuh—karena rindu yang tak lagi bisa terobati selain lewat doa.
Ketupat, opor ayam, rendang—bukan sekadar makanan, tapi bagian dari kenangan.
Makan bersama di satu meja, saling menyuapi, hingga berbagi cerita ringan menjadi momen sederhana yang selalu dirindukan setiap tahun.
Terkadang, yang paling berkesan bukan acara besar, melainkan percakapan kecil.
Mulai dari cerita masa kecil, kabar pekerjaan, hingga candaan yang hanya dipahami keluarga—semuanya membentuk kehangatan yang sulit digantikan.
Halalbihalal bukan sekadar tradisi, tetapi momen untuk kembali menjadi manusia yang lebih utuh—yang mau memaafkan, yang mau mengingat, dan yang mau menghargai kebersamaan.
Di antara lima momen tadi, mana yang paling Anda rindukan tahun ini?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang