KOMPAS.com – Menjelang Idul Adha, umat Islam tidak hanya mempersiapkan hewan kurban, tetapi juga dituntut memahami tata cara penyembelihan yang benar sesuai syariat.
Ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan rangkaian ibadah yang sarat makna, mulai dari niat, adab terhadap hewan, hingga pembagian daging kepada yang berhak.
Kesalahan dalam prosesnya bukan hanya berdampak pada aspek teknis, tetapi juga bisa memengaruhi keabsahan ibadah itu sendiri.
Lalu, bagaimana sebenarnya tata cara penyembelihan hewan kurban yang benar menurut ajaran Islam?
Dalam Islam, kurban atau udhiyah adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah melalui penyembelihan hewan ternak pada tanggal 10–13 Dzulhijjah.
Perintah ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Kautsar ayat 2, yang memadukan antara shalat dan kurban sebagai bentuk ibadah yang utuh.
Dalam buku Fiqh al-Ibadat karya Yusuf al-Qaradawi, dijelaskan bahwa kurban adalah simbol pengorbanan total seorang hamba kepada Tuhannya, meneladani kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Baca juga: Daftar Harga Hewan Kurban di Jambi Jelang Idul Adha 2026: Sapi Tembus Rp 20 Juta, Kerbau Rp 22 juta
Para ulama memiliki perbedaan pandangan terkait hukum kurban:
Dalam kitab Al-Majmu’, Imam Nawawi menegaskan bahwa meninggalkan kurban bagi yang mampu termasuk perbuatan yang tidak terpuji.
Tidak semua hewan dapat dijadikan kurban. Dalam kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd dijelaskan beberapa ketentuan utama:
Hewan tidak boleh:
Kriteria ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad yang melarang kurban dari hewan cacat.
Tahapan awal sering kali dianggap sepele, padahal sangat menentukan kualitas ibadah.
Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, dijelaskan bahwa adab terhadap hewan adalah bagian dari kesempurnaan ibadah.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Tujuan utamanya adalah meminimalkan rasa sakit dan stres pada hewan, karena Islam melarang segala bentuk penyiksaan.
Baca juga: Pembagian Daging Kurban Berapa Kg? Ini Ketentuan Pembagian Termasuk untuk Sahibul Kurban
Niat menjadi inti dari setiap ibadah, termasuk kurban. Niat cukup dalam hati, namun boleh dilafalkan.
Saat penyembelihan, disunnahkan membaca:
نَوَيْتُ أَنْ أُضَحِّيَ عَنْ نَفْسِيْ سُنَّةً للهِ تَعَالَى
Nawaitu an udhahhiya ‘an nafsii sunnatan lillaahi ta’aala.
“Saya niat berkurban untuk diri sendiri sunnah karena Allah Ta’ala”.
Kemudian baca Basmallah dan takbir saat akan menyembelih:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Bismillahirrahmanirrahim
Lanjut membaca sholawat
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Allāhumma shalli ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli sayyidinā Muḥammad
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat (shalawat) kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan kepada keluarga junjungan kami Nabi Muhammad.”
Kemudian
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar, wa lillāhil-ḥamd
Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji hanya milik Allah.”
Dari Anas bin Malik ra., Nabi Muhammad menyembelih dengan tangan sendiri sambil mengucapkan Bismillah dan bertakbir. (HR. Bukhari no. 5565 dan Muslim no. 1966)
Terakhir membaca doa menyembelih
اَللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ يَا كَرِيْمُ
Dalam hadis riwayat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, disebutkan bahwa Nabi Muhammad menyembelih hewan kurbannya sambil menyebut nama Allah dan bertakbir.
Tahapan ini harus dilakukan dengan benar agar sah secara agama dan tetap menjaga etika terhadap hewan.
Hewan direbahkan di sisi kiri agar lebih mudah dikendalikan dan tidak menyakiti dirinya sendiri saat proses berlangsung.
Menghadapkan hewan ke kiblat adalah bentuk penghormatan terhadap arah ibadah umat Islam, sekaligus mengikuti sunnah.
Penyembelihan dilakukan dengan satu gerakan cepat agar tidak menyiksa hewan. Gerakan yang ragu-ragu justru memperpanjang penderitaan.
Tiga bagian utama harus terputus: tenggorokan, kerongkongan, dan dua urat leher. Ini penting agar darah keluar sempurna dan hewan cepat mati.
Setelah disembelih, hewan tidak boleh langsung dipotong atau dikuliti. Harus menunggu hingga benar-benar mati untuk menghindari penyiksaan.
Penting dipahami, Islam melarang menyiksa hewan. Karena itu:
Dalam literatur fikih klasik, tindakan ini dapat mengurangi kesempurnaan ibadah, bahkan dalam kondisi tertentu bisa membatalkan keabsahan sembelihan.
Baca juga: Harga Sapi Kurban di Sleman Mulai Merangkak Naik Jelang Idul Adha
Setelah proses selesai, disunnahkan membaca doa sebagai bentuk pengharapan agar ibadah diterima.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنِّي كَمَا تَقَبَّلْتَ مِنْ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِكَ
Allahumma taqabbal minni kamaa taqabbalta min Ibraahiima khaliilik
Artinya: “Ya Allah, terimalah (kurban) dariku sebagaimana Engkau menerima dari Ibrahim, kekasih-Mu.”
Ini menjadi refleksi bahwa kurban bukan hanya ritual fisik, tetapi juga ibadah hati.
Al-Qur’an dalam Surah Al-Hajj ayat 28 menegaskan pentingnya distribusi daging kepada yang membutuhkan.
Para ulama menganjurkan pembagian sebagai berikut:
Dalam buku Fadhail al-A’mal karya Zakariyya Al-Kandhlawi, disebutkan bahwa nilai sosial kurban terletak pada kebahagiaan yang dirasakan oleh banyak orang.
Beberapa hal yang perlu dihindari:
Namun, boleh diberikan sebagai hadiah atau sedekah.
Kurban tidak berhenti pada penyembelihan. Ia mengandung pesan mendalam tentang keikhlasan dan pengorbanan.
Meneladani Nabi Ibrahim, kurban mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah berada di atas segalanya.
Di sisi lain, pembagian daging menjadi simbol keadilan sosial bahwa dalam setiap rezeki, ada hak orang lain yang harus ditunaikan.
Tata cara penyembelihan hewan kurban bukan sekadar prosedur teknis, tetapi bagian dari ibadah yang menyatukan dimensi spiritual dan kemanusiaan.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kurban mengingatkan bahwa ada nilai yang tidak bisa diukur dengan materi, yaitu keikhlasan, kepedulian, dan ketundukan kepada Allah.
Karena itu, memastikan setiap proses dilakukan sesuai syariat bukan hanya soal sah atau tidak, tetapi tentang bagaimana ibadah itu benar-benar bermakna.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang