KOMPAS.com - Di pelataran Ka'bah yang tak pernah sepi dari jutaan langkah manusia, ada satu elemen yang kerap memikat pandangan sekaligus menyimpan kisah panjang penuh makna, yaitu kiswah.
Kain hitam yang menyelimuti bangunan suci ini bukan sekadar penutup, melainkan hasil perpaduan antara tradisi, seni tinggi, dan spiritualitas yang diwariskan lintas zaman.
Baca juga: Kiswah Ka’bah Diangkat, Isyarat Dimulainya Perjalanan Haji 2026
Tradisi menutup Ka'bah dengan kain sudah berlangsung jauh sebelum Islam datang. Dalam berbagai literatur klasik, disebutkan bahwa praktik ini telah dikenal sejak masa Nabi Ismail AS, meskipun ada pula riwayat lain yang menyebut tokoh penguasa Yaman, As’ad Al-Humairi, sebagai pelopornya.
Dalam buku The Power of Kabah karya Zainurrofieq Lc, dijelaskan bahwa tradisi tersebut kemudian dilestarikan dan dimuliakan pada masa Nabi Muhammad SAW.
Setelah Islam berkembang, para khalifah dari berbagai dinasti termasuk Umayyah dan Abbasiyah turut menyempurnakan kualitas kiswah, baik dari segi bahan maupun estetika.
Perubahan signifikan terjadi ketika penggunaan sutra mulai diperkenalkan, disertai hiasan kaligrafi ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Pada periode berikutnya, pusat produksi kiswah sempat berpindah ke Mesir, terutama pada masa pemerintahan Sultan Al-Malik Ash-Shalih dari Dinasti Mamluk.
Baru pada abad ke-20, tepatnya sejak 1924, produksi kiswah dipusatkan kembali di Makkah oleh pemerintah Arab Saudi melalui pabrik khusus yang hingga kini dikenal sebagai King Abdulaziz Complex for the Holy Kaaba Kiswah.
Proses pembuatan kiswah dimulai dari bahan dasar yang tidak sembarangan: sutra alami berkualitas tinggi.
Dalam buku The Lost Story of Kabah karya Irfan L. Sarhindi, dijelaskan bahwa sutra mentah terlebih dahulu diolah menjadi benang-benang halus melalui tahapan pemintalan yang presisi.
Benang tersebut kemudian ditenun menjadi lembaran kain besar. Proses ini membutuhkan ketelitian tinggi karena setiap kesalahan kecil dapat memengaruhi kualitas akhir kain.
Tidak hanya kuat, kain juga harus tetap halus karena akan menjadi simbol kemuliaan Ka'bah.
Setelah penenunan, tahap berikutnya adalah pewarnaan.
Warna hitam yang menjadi ciri khas kiswah dipilih bukan tanpa alasan. Dalam perspektif simbolik, warna ini melambangkan keagungan, keteguhan, dan kesederhanaan dalam penghambaan kepada Allah SWT.
Pewarnaan dilakukan berulang kali hingga menghasilkan warna hitam pekat yang tahan terhadap panas ekstrem di kota Mekkah.
Baca juga: Kiswah Penutup Kabah: Sejarah, Makna, Proses Penggantian dan Pembuatannya
Keindahan kiswah mencapai puncaknya pada tahap penulisan kaligrafi. Ayat-ayat Al-Qur’an, kalimat tauhid, serta Asmaul Husna diaplikasikan dengan komposisi yang telah diatur secara khusus.
Sabuk kiswah yang terletak di bagian atas memuat ayat-ayat penting, seperti:
Setiap tulisan dirancang menggunakan khat tsuluts, salah satu gaya kaligrafi Arab paling elegan dan kompleks.
Tahap yang paling menyita perhatian sekaligus menjadi inti dari kemewahan kiswah adalah proses penyulaman. Di sinilah seni bertemu ketekunan.
Para pengrajin menyulam kaligrafi menggunakan benang emas dan perak asli. Proses ini tidak hanya membutuhkan keahlian teknis, tetapi juga kesabaran tingkat tinggi. Untuk satu bagian kecil saja, waktu pengerjaan bisa mencapai berminggu-minggu.
Secara keseluruhan, pembuatan satu set kiswah melibatkan ratusan tenaga ahli dan berlangsung sekitar delapan hingga sembilan bulan.
Data dari literatur modern menyebutkan bahwa proses ini menggunakan ratusan kilogram sutra dan puluhan kilogram benang emas.
Menurut sejumlah laporan dari otoritas Saudi, kiswah terdiri dari 47 potongan kain yang kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan utuh. Bahkan disiapkan pula satu set cadangan sebagai antisipasi.
Kilauan benang emas yang menghiasi kaligrafi menciptakan kontras yang begitu kuat dengan latar hitam pekat.
Inilah yang membuat kiswah tidak hanya terlihat megah, tetapi juga memancarkan aura sakral yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Baca juga: 5 Fungsi Kiswah Penutup Kabah, Menjaga Kesucian hingga Simbol Persatuan Umat Muslim
Setelah seluruh bagian selesai disulam, tahap akhir adalah perakitan. Setiap panel dijahit dengan presisi tinggi hingga membentuk penutup sempurna bagi Ka'bah.
Kiswah memiliki tinggi sekitar 14 meter dan panjang yang cukup untuk mengelilingi seluruh bangunan Ka'bah.
Pemasangannya biasanya dilakukan setiap tahun pada 9 Dzulhijjah, bertepatan dengan momentum ibadah haji.
Tradisi penggantian kiswah ini bukan sekadar ritual, melainkan simbol pembaruan dan penghormatan yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Kiswah bukan hanya karya seni tekstil. Ia adalah simbol peradaban Islam yang menggabungkan iman, sejarah, dan teknologi dalam satu wujud nyata.
Dalam perspektif yang lebih luas, kiswah mencerminkan bagaimana umat Islam memuliakan tempat paling suci dalam ajarannya.
Setiap helai benang, setiap ayat yang terukir, hingga setiap jahitan yang menyatukannya, semuanya mengandung makna penghambaan yang mendalam.
Tak heran, bagi jutaan umat Islam yang datang ke Makkah setiap tahun, melihat kiswah bukan hanya pengalaman visual, tetapi juga pengalaman spiritual yang membekas seumur hidup.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang