Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Disulam Benang Emas, Ini Proses Pembuatan Kiswah Ka'bah

Kompas.com, 6 Mei 2026, 10:18 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di pelataran Ka'bah yang tak pernah sepi dari jutaan langkah manusia, ada satu elemen yang kerap memikat pandangan sekaligus menyimpan kisah panjang penuh makna, yaitu kiswah.

Kain hitam yang menyelimuti bangunan suci ini bukan sekadar penutup, melainkan hasil perpaduan antara tradisi, seni tinggi, dan spiritualitas yang diwariskan lintas zaman.

Baca juga: Kiswah Ka’bah Diangkat, Isyarat Dimulainya Perjalanan Haji 2026

Jejak Panjang Sejarah Kiswah

Tradisi menutup Ka'bah dengan kain sudah berlangsung jauh sebelum Islam datang. Dalam berbagai literatur klasik, disebutkan bahwa praktik ini telah dikenal sejak masa Nabi Ismail AS, meskipun ada pula riwayat lain yang menyebut tokoh penguasa Yaman, As’ad Al-Humairi, sebagai pelopornya.

Dalam buku The Power of Kabah karya Zainurrofieq Lc, dijelaskan bahwa tradisi tersebut kemudian dilestarikan dan dimuliakan pada masa Nabi Muhammad SAW.

Setelah Islam berkembang, para khalifah dari berbagai dinasti termasuk Umayyah dan Abbasiyah turut menyempurnakan kualitas kiswah, baik dari segi bahan maupun estetika.

Perubahan signifikan terjadi ketika penggunaan sutra mulai diperkenalkan, disertai hiasan kaligrafi ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Pada periode berikutnya, pusat produksi kiswah sempat berpindah ke Mesir, terutama pada masa pemerintahan Sultan Al-Malik Ash-Shalih dari Dinasti Mamluk.

Baru pada abad ke-20, tepatnya sejak 1924, produksi kiswah dipusatkan kembali di Makkah oleh pemerintah Arab Saudi melalui pabrik khusus yang hingga kini dikenal sebagai King Abdulaziz Complex for the Holy Kaaba Kiswah.

Dari Sutra Mentah Menjadi Kain Suci

Proses pembuatan kiswah dimulai dari bahan dasar yang tidak sembarangan: sutra alami berkualitas tinggi.

Dalam buku The Lost Story of Kabah karya Irfan L. Sarhindi, dijelaskan bahwa sutra mentah terlebih dahulu diolah menjadi benang-benang halus melalui tahapan pemintalan yang presisi.

Benang tersebut kemudian ditenun menjadi lembaran kain besar. Proses ini membutuhkan ketelitian tinggi karena setiap kesalahan kecil dapat memengaruhi kualitas akhir kain.

Tidak hanya kuat, kain juga harus tetap halus karena akan menjadi simbol kemuliaan Ka'bah.
Setelah penenunan, tahap berikutnya adalah pewarnaan.

Warna hitam yang menjadi ciri khas kiswah dipilih bukan tanpa alasan. Dalam perspektif simbolik, warna ini melambangkan keagungan, keteguhan, dan kesederhanaan dalam penghambaan kepada Allah SWT.

Pewarnaan dilakukan berulang kali hingga menghasilkan warna hitam pekat yang tahan terhadap panas ekstrem di kota Mekkah.

Baca juga: Kiswah Penutup Kabah: Sejarah, Makna, Proses Penggantian dan Pembuatannya

Kaligrafi: Ayat Suci yang Mengitari Ka'bah

Keindahan kiswah mencapai puncaknya pada tahap penulisan kaligrafi. Ayat-ayat Al-Qur’an, kalimat tauhid, serta Asmaul Husna diaplikasikan dengan komposisi yang telah diatur secara khusus.

Sabuk kiswah yang terletak di bagian atas memuat ayat-ayat penting, seperti:

  • QS Al-Baqarah ayat 125–128 di sisi Multazam
  • QS Al-Baqarah ayat 197–199 di sisi Hijr Ismail
  • QS Al-Hajj ayat 26–29 di belakang pintu Ka'bah
  • QS Ali Imran ayat 95–97 di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad

Setiap tulisan dirancang menggunakan khat tsuluts, salah satu gaya kaligrafi Arab paling elegan dan kompleks.

Disulam dengan Benang Emas: Puncak Keindahan Kiswah

Tahap yang paling menyita perhatian sekaligus menjadi inti dari kemewahan kiswah adalah proses penyulaman. Di sinilah seni bertemu ketekunan.

Para pengrajin menyulam kaligrafi menggunakan benang emas dan perak asli. Proses ini tidak hanya membutuhkan keahlian teknis, tetapi juga kesabaran tingkat tinggi. Untuk satu bagian kecil saja, waktu pengerjaan bisa mencapai berminggu-minggu.

Secara keseluruhan, pembuatan satu set kiswah melibatkan ratusan tenaga ahli dan berlangsung sekitar delapan hingga sembilan bulan.

Data dari literatur modern menyebutkan bahwa proses ini menggunakan ratusan kilogram sutra dan puluhan kilogram benang emas.

Menurut sejumlah laporan dari otoritas Saudi, kiswah terdiri dari 47 potongan kain yang kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan utuh. Bahkan disiapkan pula satu set cadangan sebagai antisipasi.

Kilauan benang emas yang menghiasi kaligrafi menciptakan kontras yang begitu kuat dengan latar hitam pekat.

Inilah yang membuat kiswah tidak hanya terlihat megah, tetapi juga memancarkan aura sakral yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Baca juga: 5 Fungsi Kiswah Penutup Kabah, Menjaga Kesucian hingga Simbol Persatuan Umat Muslim

Dari Potongan Kain Menjadi Selimut Ka'bah

Setelah seluruh bagian selesai disulam, tahap akhir adalah perakitan. Setiap panel dijahit dengan presisi tinggi hingga membentuk penutup sempurna bagi Ka'bah.

Kiswah memiliki tinggi sekitar 14 meter dan panjang yang cukup untuk mengelilingi seluruh bangunan Ka'bah.

Pemasangannya biasanya dilakukan setiap tahun pada 9 Dzulhijjah, bertepatan dengan momentum ibadah haji.

Tradisi penggantian kiswah ini bukan sekadar ritual, melainkan simbol pembaruan dan penghormatan yang terus hidup dari generasi ke generasi.

Lebih dari Sekadar Kain

Kiswah bukan hanya karya seni tekstil. Ia adalah simbol peradaban Islam yang menggabungkan iman, sejarah, dan teknologi dalam satu wujud nyata.

Dalam perspektif yang lebih luas, kiswah mencerminkan bagaimana umat Islam memuliakan tempat paling suci dalam ajarannya.

Setiap helai benang, setiap ayat yang terukir, hingga setiap jahitan yang menyatukannya, semuanya mengandung makna penghambaan yang mendalam.

Tak heran, bagi jutaan umat Islam yang datang ke Makkah setiap tahun, melihat kiswah bukan hanya pengalaman visual, tetapi juga pengalaman spiritual yang membekas seumur hidup.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Miyos Gangsa Dimulai, Tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta Menyambut Maulid Nabi 2026
Miyos Gangsa Dimulai, Tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta Menyambut Maulid Nabi 2026
Aktual
Biaya Haji 2027 Diusulkan Rp 107,34 Juta, BPKH Ingatkan Risiko Rp 6,87 Triliun
Biaya Haji 2027 Diusulkan Rp 107,34 Juta, BPKH Ingatkan Risiko Rp 6,87 Triliun
Aktual
Kirab Merah Putih, Ribuan Pemuda Serukan Persatuan di Tengah Keberagaman
Kirab Merah Putih, Ribuan Pemuda Serukan Persatuan di Tengah Keberagaman
Aktual
Hukum Memelihara Anjing dalam Islam, Benarkah Membuat Malaikat Tidak Masuk Rumah?
Hukum Memelihara Anjing dalam Islam, Benarkah Membuat Malaikat Tidak Masuk Rumah?
Aktual
Masjid Tua Wapauwe, Jejak Sejarah Islam di Maluku yang Bertahan Sejak 1414
Masjid Tua Wapauwe, Jejak Sejarah Islam di Maluku yang Bertahan Sejak 1414
Aktual
Thaharah Sebelum Shalat: Cara Bersuci, Najis yang Dibersihkan, Jenis Air, hingga Aturan Tayamum
Thaharah Sebelum Shalat: Cara Bersuci, Najis yang Dibersihkan, Jenis Air, hingga Aturan Tayamum
Aktual
Kapan Libur Maulid Nabi 2026? Cek Tanggal dan Status Liburnya
Kapan Libur Maulid Nabi 2026? Cek Tanggal dan Status Liburnya
Aktual
Menag: Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral Simbol Toleransi Indonesia Perlu Dikenalkan ke Dunia
Menag: Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral Simbol Toleransi Indonesia Perlu Dikenalkan ke Dunia
Aktual
Baznas-BKKBN Sinergikan Zakat untuk Perkuat Ekonomi 37.000 Kelompok Usaha
Baznas-BKKBN Sinergikan Zakat untuk Perkuat Ekonomi 37.000 Kelompok Usaha
Aktual
Persiapan Muktamar Ke-35 NU Capai 80 Persen, 1.300 Stan UMKM Disiapkan
Persiapan Muktamar Ke-35 NU Capai 80 Persen, 1.300 Stan UMKM Disiapkan
Aktual
Yenny Wahid: Rekonsiliasi Wajib Dilakukan Usai Muktamar Ke-35 NU
Yenny Wahid: Rekonsiliasi Wajib Dilakukan Usai Muktamar Ke-35 NU
Aktual
Benarkah Makan Kurma Harus Ganjil? Ini Penjelasan Sunnah Sesuai Kebiasaan Rasulullah SAW
Benarkah Makan Kurma Harus Ganjil? Ini Penjelasan Sunnah Sesuai Kebiasaan Rasulullah SAW
Aktual
Lukman Hakim Minta NU Tinggalkan Pengelolaan Tambang yang Timbulkan Fitnah dan Mafsadah
Lukman Hakim Minta NU Tinggalkan Pengelolaan Tambang yang Timbulkan Fitnah dan Mafsadah
Aktual
Menag Dukung Guru PPPK Jadi Penuh Waktu dan PNS di 2027: Ini Detailnya
Menag Dukung Guru PPPK Jadi Penuh Waktu dan PNS di 2027: Ini Detailnya
Aktual
Mengenal Huruf Hijaiyah: Jumlah, Urutan, dan Cara Membacanya
Mengenal Huruf Hijaiyah: Jumlah, Urutan, dan Cara Membacanya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar