KOMPAS.com - Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap berhadapan dengan situasi yang menegangkan, mulai dari urusan pekerjaan, pertemuan dengan orang yang berpengaruh, hingga kondisi yang membuat rasa takut dan tidak percaya diri muncul begitu saja.
Dalam konteks inilah sebagian umat Islam mengenal sebuah penggalan ayat Al-Qur’an yang sering dibaca sebagai ikhtiar batin, yaitu summum bukmun ‘umyun fahum la yarji‘un.
Penggalan ini berasal dari Al-Qur’an Al-Baqarah ayat 18, yang secara tekstual bukanlah doa, melainkan gambaran kondisi orang yang menolak kebenaran.
Namun dalam praktik masyarakat, ayat ini juga dikenal luas sebagai bentuk pengingat diri sekaligus bacaan yang diyakini memberi ketenangan dalam situasi tertentu.
Baca juga: Surat Ar Rahman Ayat 1–78 Lengkap: Arab, Latin, Arti, Tafsir dan Keutamaannya
صُمٌّ ۢ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُوْنَ
Summum bukmun ‘umyun fahum la yarji‘un
Artinya: “Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.”
Dalam tafsir Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama RI, frasa ini menjelaskan kondisi orang yang menutup diri dari kebenaran, tidak mau mendengar nasihat, enggan bertanya, dan tidak menggunakan akal untuk melihat petunjuk Allah.
Baca juga: Surat Yasin Lengkap 83 Ayat: Arab, Latin dan Artinya
Dalam perspektif tafsir klasik seperti yang juga dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir karya Ibnu Katsir, istilah “tuli, bisu, dan buta” bukan bermakna fisik, tetapi menggambarkan kondisi spiritual.
Dalam buku Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab, kondisi ini disebut sebagai bentuk “penutupan kesadaran” yang membuat manusia sulit kembali ke jalan kebenaran karena tertutup oleh ego dan penolakan.
Menariknya, di tengah masyarakat, penggalan ayat ini berkembang menjadi bacaan yang sering diamalkan dalam situasi tertentu.
Sebagian orang menyebutnya sebagai “doa penenang diri” atau “ikhtiar batin saat menghadapi tekanan”.
Dalam praktiknya, bacaan ini biasanya diulang beberapa kali sebelum menghadapi situasi yang dirasa berat, seperti bertemu orang yang keras, menghadapi konflik, atau situasi yang memicu kecemasan.
Namun penting dipahami, sebagaimana dijelaskan dalam Adab Berdoa dalam Islam karya Imam Al-Ghazali, bahwa kekuatan utama seorang muslim bukan terletak pada lafaz tertentu, melainkan pada ketergantungan penuh kepada Allah SWT.
Baca juga: Surat Al-Baqarah Ayat 285-286: Doa Mustajab dan Pelindung Malam
Sebagian masyarakat mengamalkan bacaan ini dengan cara sederhana, yaitu membaca penggalan ayat tersebut beberapa kali sebelum menghadapi situasi yang menegangkan.
Namun para ulama menekankan bahwa niat utamanya bukan “menguasai orang lain”, melainkan menenangkan diri sendiri.
Dalam buku Hisyam Al-Talib, Spiritual Intelligence, dijelaskan bahwa praktik spiritual seperti dzikir dan pengulangan ayat tertentu dapat membantu menstabilkan emosi dan meningkatkan rasa percaya diri.
Dengan demikian, jika diamalkan, sebaiknya diposisikan sebagai:
Dalam kehidupan modern, banyak orang mengalami tekanan sosial maupun psikologis. Dalam kondisi ini, bacaan seperti summum bukmun ‘umyun sering dipahami sebagai simbol perlawanan terhadap rasa takut.
Dalam buku Psikologi Qur’ani karya Malik Badri, dijelaskan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an dapat menjadi terapi psikologis ketika dipahami dengan benar, karena membantu seseorang mengalihkan fokus dari kecemasan menuju ketenangan spiritual.
Namun demikian, penting dicatat bahwa ayat ini bukan jimat atau alat untuk “menundukkan orang lain”, melainkan pengingat agar manusia tidak terjebak dalam sikap keras hati dan penolakan kebenaran.
Baca juga: Rahasia Rezeki Lancar dari Surat Al Waqiah: Amalan Pesantren yang Banyak Diamalkan
Banyak orang hanya mengenal bacaan ini dari sisi praktik, tanpa memahami pesan utamanya. Padahal inti dari ayat ini justru sangat dalam berupa peringatan agar manusia tidak menutup diri dari kebenaran.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, hal ini bisa dimaknai sebagai ajakan untuk:
Dengan kata lain, ayat ini lebih merupakan cermin introspeksi daripada sekadar bacaan situasional.
Bacaan summum bukmun ‘umyun fahum la yarji‘un pada akhirnya mengajarkan dua hal sekaligus, yaitu peringatan bagi manusia yang menolak kebenaran, sekaligus pengingat bagi kita untuk selalu membuka hati.
Dalam situasi penuh tekanan, sebagian orang memang menjadikannya sebagai bagian dari ikhtiar batin.
Namun dalam kerangka yang lebih luas, kekuatan sejati tetap bersumber dari tawakal kepada Allah SWT.
Seperti ditegaskan dalam banyak literatur keislaman, doa dan dzikir bukan sekadar rangkaian kata, melainkan perjalanan kesadaran dari rasa takut menuju ketenangan, dari keraguan menuju keyakinan, dan dari diri menuju Sang Pencipta.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang