Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Benarkah Summum Bukmun Umyun Doa Penunduk Hati? Ini Faktanya

Kompas.com, 6 Mei 2026, 11:01 WIB
Add on Google
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap berhadapan dengan situasi yang menegangkan, mulai dari urusan pekerjaan, pertemuan dengan orang yang berpengaruh, hingga kondisi yang membuat rasa takut dan tidak percaya diri muncul begitu saja.

Dalam konteks inilah sebagian umat Islam mengenal sebuah penggalan ayat Al-Qur’an yang sering dibaca sebagai ikhtiar batin, yaitu summum bukmun ‘umyun fahum la yarji‘un.

Penggalan ini berasal dari Al-Qur’an Al-Baqarah ayat 18, yang secara tekstual bukanlah doa, melainkan gambaran kondisi orang yang menolak kebenaran.

Namun dalam praktik masyarakat, ayat ini juga dikenal luas sebagai bentuk pengingat diri sekaligus bacaan yang diyakini memberi ketenangan dalam situasi tertentu.

Baca juga: Surat Ar Rahman Ayat 1–78 Lengkap: Arab, Latin, Arti, Tafsir dan Keutamaannya

Arab, Latin, dan Arti Surat Al-Baqarah ayat 18

صُمٌّ ۢ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُوْنَ

Summum bukmun ‘umyun fahum la yarji‘un

Artinya: “Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.”

Dalam tafsir Tafsir Al-Qur’an Kementerian Agama RI, frasa ini menjelaskan kondisi orang yang menutup diri dari kebenaran, tidak mau mendengar nasihat, enggan bertanya, dan tidak menggunakan akal untuk melihat petunjuk Allah.

Baca juga: Surat Yasin Lengkap 83 Ayat: Arab, Latin dan Artinya

Makna yang Lebih Dalam dalam Tafsir

Dalam perspektif tafsir klasik seperti yang juga dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir karya Ibnu Katsir, istilah “tuli, bisu, dan buta” bukan bermakna fisik, tetapi menggambarkan kondisi spiritual.

  • Tuli: tidak mau menerima nasihat
  • Bisu: tidak mau bertanya atau mencari kebenaran
  • Buta: tidak menggunakan hati untuk memahami petunjuk

Dalam buku Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab, kondisi ini disebut sebagai bentuk “penutupan kesadaran” yang membuat manusia sulit kembali ke jalan kebenaran karena tertutup oleh ego dan penolakan.

Dari Ayat Tafsir ke Amalan Masyarakat

Menariknya, di tengah masyarakat, penggalan ayat ini berkembang menjadi bacaan yang sering diamalkan dalam situasi tertentu.

Sebagian orang menyebutnya sebagai “doa penenang diri” atau “ikhtiar batin saat menghadapi tekanan”.

Dalam praktiknya, bacaan ini biasanya diulang beberapa kali sebelum menghadapi situasi yang dirasa berat, seperti bertemu orang yang keras, menghadapi konflik, atau situasi yang memicu kecemasan.

Namun penting dipahami, sebagaimana dijelaskan dalam Adab Berdoa dalam Islam karya Imam Al-Ghazali, bahwa kekuatan utama seorang muslim bukan terletak pada lafaz tertentu, melainkan pada ketergantungan penuh kepada Allah SWT.

Baca juga: Surat Al-Baqarah Ayat 285-286: Doa Mustajab dan Pelindung Malam

Cara Mengamalkan dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebagian masyarakat mengamalkan bacaan ini dengan cara sederhana, yaitu membaca penggalan ayat tersebut beberapa kali sebelum menghadapi situasi yang menegangkan.

Namun para ulama menekankan bahwa niat utamanya bukan “menguasai orang lain”, melainkan menenangkan diri sendiri.

Dalam buku Hisyam Al-Talib, Spiritual Intelligence, dijelaskan bahwa praktik spiritual seperti dzikir dan pengulangan ayat tertentu dapat membantu menstabilkan emosi dan meningkatkan rasa percaya diri.

Dengan demikian, jika diamalkan, sebaiknya diposisikan sebagai:

  • Pengingat diri agar tetap tenang
  • Sarana menata emosi sebelum bertindak
  • Bentuk doa perlindungan kepada Allah

Fungsi Spiritual: Dari Ketakutan ke Ketenangan

Dalam kehidupan modern, banyak orang mengalami tekanan sosial maupun psikologis. Dalam kondisi ini, bacaan seperti summum bukmun ‘umyun sering dipahami sebagai simbol perlawanan terhadap rasa takut.

Dalam buku Psikologi Qur’ani karya Malik Badri, dijelaskan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an dapat menjadi terapi psikologis ketika dipahami dengan benar, karena membantu seseorang mengalihkan fokus dari kecemasan menuju ketenangan spiritual.

Namun demikian, penting dicatat bahwa ayat ini bukan jimat atau alat untuk “menundukkan orang lain”, melainkan pengingat agar manusia tidak terjebak dalam sikap keras hati dan penolakan kebenaran.

Baca juga: Rahasia Rezeki Lancar dari Surat Al Waqiah: Amalan Pesantren yang Banyak Diamalkan

Hikmah yang Sering Terlupakan

Banyak orang hanya mengenal bacaan ini dari sisi praktik, tanpa memahami pesan utamanya. Padahal inti dari ayat ini justru sangat dalam berupa peringatan agar manusia tidak menutup diri dari kebenaran.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, hal ini bisa dimaknai sebagai ajakan untuk:

  • Mau mendengar pendapat orang lain
  • Tidak keras kepala dalam kebenaran
  • Menggunakan akal dan hati secara seimbang

Dengan kata lain, ayat ini lebih merupakan cermin introspeksi daripada sekadar bacaan situasional.

Antara Ikhtiar Batin dan Kesadaran Iman

Bacaan summum bukmun ‘umyun fahum la yarji‘un pada akhirnya mengajarkan dua hal sekaligus, yaitu peringatan bagi manusia yang menolak kebenaran, sekaligus pengingat bagi kita untuk selalu membuka hati.

Dalam situasi penuh tekanan, sebagian orang memang menjadikannya sebagai bagian dari ikhtiar batin.

Namun dalam kerangka yang lebih luas, kekuatan sejati tetap bersumber dari tawakal kepada Allah SWT.

Seperti ditegaskan dalam banyak literatur keislaman, doa dan dzikir bukan sekadar rangkaian kata, melainkan perjalanan kesadaran dari rasa takut menuju ketenangan, dari keraguan menuju keyakinan, dan dari diri menuju Sang Pencipta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Menatap Abad Kedua NU: Catatan dari PMKNU, Pabrik Pemimpin NU
Menatap Abad Kedua NU: Catatan dari PMKNU, Pabrik Pemimpin NU
Aktual
Pembayaran Dam Harus Aman, Resmi, dan Sesuai Keyakinan Fikih Jemaah
Pembayaran Dam Harus Aman, Resmi, dan Sesuai Keyakinan Fikih Jemaah
Aktual
Jadwal Ibadah Sunnah Idul Adha 2026: Puasa, Larangan Potong Kuku dan Rambut, serta Hari Tasyrik
Jadwal Ibadah Sunnah Idul Adha 2026: Puasa, Larangan Potong Kuku dan Rambut, serta Hari Tasyrik
Aktual
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 2026 Jatuh pada 27 Mei, Sama dengan Muhammadiyah
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 2026 Jatuh pada 27 Mei, Sama dengan Muhammadiyah
Aktual
Arab Saudi Bangun RS Darurat Raksasa di Mina untuk Haji 2026
Arab Saudi Bangun RS Darurat Raksasa di Mina untuk Haji 2026
Aktual
Layanan Makkah Route Dinilai Bantu Jemaah Haji Bisa Langsung Fokus Ibadah Saat Tiba di Arab Saudi
Layanan Makkah Route Dinilai Bantu Jemaah Haji Bisa Langsung Fokus Ibadah Saat Tiba di Arab Saudi
Aktual
Arab Saudi Umumkan Jadwal Musim Umrah 2026-2027, Visa Mulai Dibuka 31 Mei
Arab Saudi Umumkan Jadwal Musim Umrah 2026-2027, Visa Mulai Dibuka 31 Mei
Aktual
Manajemen Struktur Kloter Jadi Kunci Pelayaan Jemaah Haji Mandiri
Manajemen Struktur Kloter Jadi Kunci Pelayaan Jemaah Haji Mandiri
Aktual
Layanan Makkah Route Percepat Pemeriksaan Imigrasi Jemaah Haji Indonesia di Arab Saudi
Layanan Makkah Route Percepat Pemeriksaan Imigrasi Jemaah Haji Indonesia di Arab Saudi
Aktual
Batas Waktu Potong Kuku dan Rambut Sebelum dan Sesudah Idul Adha 2026, Shohibul Qurban Wajib Tahu
Batas Waktu Potong Kuku dan Rambut Sebelum dan Sesudah Idul Adha 2026, Shohibul Qurban Wajib Tahu
Aktual
3 Puasa Sunnah Sebelum Idul Adha: Waktu, Niat, dan Tata Caranya
3 Puasa Sunnah Sebelum Idul Adha: Waktu, Niat, dan Tata Caranya
Doa dan Niat
Niat Puasa Zulhijah, Tarwiyah, serta Arafah 2026 Lengkap dengan Tata Cara dan Jadwalnya
Niat Puasa Zulhijah, Tarwiyah, serta Arafah 2026 Lengkap dengan Tata Cara dan Jadwalnya
Aktual
Hukum Lantai Basah yang Terkena Percikan Najis, Apakah Menjadi Mutanajjis? Ini Penjelasan MUI
Hukum Lantai Basah yang Terkena Percikan Najis, Apakah Menjadi Mutanajjis? Ini Penjelasan MUI
Aktual
Doa Shalat Sunnah Dua Rakaat Setelah Tawaf: Arab, Latin, dan Artinya
Doa Shalat Sunnah Dua Rakaat Setelah Tawaf: Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Arab Saudi Pakai Drone Kirim Obat saat Haji 2026, Cuma Butuh 6 Menit
Arab Saudi Pakai Drone Kirim Obat saat Haji 2026, Cuma Butuh 6 Menit
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com