KOMPAS.com – Di tengah lantunan ayat suci Al-Qur’an, terdapat momen istimewa yang mengajak setiap Muslim untuk berhenti sejenak dan merendahkan diri sepenuhnya di hadapan Allah SWT.
Momen itu hadir ketika membaca atau mendengar ayat-ayat sajdah, yang disyariatkan untuk ditutup dengan sujud tilawah.
Bagi sebagian orang, sujud tilawah mungkin hanya dipahami sebagai gerakan tambahan. Padahal, di baliknya tersimpan makna spiritual yang dalam, bentuk kepatuhan spontan seorang hamba saat mendengar perintah langsung dari Tuhannya.
Lantas, bagaimana bacaan, tata cara, serta keutamaan sujud tilawah? Berikut penjelasan lengkapnya.
Baca juga: Memahami Doa di Antara Dua Sujud: Permohonan Lengkap dalam Shalat
Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan ketika seorang Muslim membaca atau mendengar ayat sajdah dalam Al-Qur’an. Ayat-ayat ini mengandung perintah atau isyarat untuk bersujud kepada Allah.
Dalam buku Serba-Serbi Sujud Tilawah karya Maharati Marfuah, dijelaskan bahwa sujud tilawah merupakan bentuk respons spiritual atas ayat yang menyeru ketundukan. Ia bukan sekadar gerakan fisik, melainkan simbol kepasrahan total seorang hamba.
Mayoritas ulama sepakat bahwa hukum sujud tilawah adalah sunnah, bahkan dalam mazhab Syafi’i termasuk sunnah muakkad, sangat dianjurkan untuk dikerjakan.
Baca juga: Doa Shalat Dhuha Pembuka Rezeki, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Keutamaan sujud tilawah tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga berdampak pada dimensi batin seorang Muslim.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Jika anak Adam membaca ayat sajdah lalu ia bersujud, maka setan menjauh sambil menangis…”
Hadis ini menunjukkan bahwa sujud tilawah menjadi bentuk kemenangan spiritual manusia atas godaan setan.
Dalam perspektif yang lebih luas, sujud adalah posisi paling dekat antara hamba dan Tuhannya.
Hal ini juga ditegaskan dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, yang menyebutkan bahwa sujud merupakan puncak ketundukan dan kerendahan hati manusia di hadapan Allah.
Tidak ada bacaan wajib yang secara khusus ditetapkan dalam sujud tilawah. Namun, para ulama menganjurkan beberapa doa yang dapat dibaca.
Dalam kitab Raudlatut Thalibin karya Imam Nawawi, disebutkan bacaan yang dianjurkan sebagai berikut:
سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ
Sajada wajhiya lilladzi khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu bi haulihi wa quwwatihi.
Artinya: “Wajahku bersujud kepada Zat yang menciptakannya, yang membentuknya, yang membuka pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya.”
Selain itu, boleh juga membaca bacaan sujud dalam shalat seperti:
“Subhaana rabbiyal a’la”
Dalam buku Al-Adzkar karya Imam Nawawi, ditegaskan bahwa fleksibilitas bacaan ini menunjukkan kemudahan dalam syariat Islam.
Baca juga: Shalat Tahajud: Tata Cara, Niat, dan Doa Lengkap Sesuai Sunnah
Tata cara sujud tilawah berbeda tergantung apakah dilakukan di dalam atau di luar shalat.
Berdasarkan penjelasan dalam Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah karya Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi, langkah-langkahnya adalah:
Jika dilakukan saat shalat, caranya lebih sederhana:
Dalam shalat berjamaah, makmum wajib mengikuti imam. Jika imam tidak sujud, maka makmum tidak boleh melakukannya sendiri.
Ayat sajdah tersebar di beberapa surah dalam Al-Qur’an dan biasanya ditandai dengan simbol khusus pada mushaf.
Dalam hadis riwayat Ibnu Majah, disebutkan terdapat sekitar 15 ayat sajdah. Hal ini juga dijelaskan dalam buku Ilmu Tajwid Komprehensif.
Beberapa di antaranya terdapat dalam surah:
Sebagian ulama berbeda pendapat terkait beberapa ayat, seperti dalam Surah Sad ayat 24, namun perbedaan ini tidak mengurangi esensi praktik sujud tilawah itu sendiri.
Baca juga: 8 Doa Pendek yang Bisa Dibaca Saat Mudik agar Perjalanan Aman dan Berkah
Sujud tilawah bukan sekadar respons terhadap teks, tetapi juga refleksi dari hubungan antara manusia dan wahyu.
Dalam buku Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim karya Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ayat-ayat sajdah sering kali muncul dalam konteks pengagungan Allah atau peringatan bagi manusia. Maka sujud menjadi bentuk pengakuan atas kebesaran tersebut.
Lebih dari itu, sujud tilawah melatih kepekaan spiritual. Ia mengajarkan bahwa setiap ayat Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga diresapi dan diamalkan.
Di tengah kesibukan membaca Al-Qur’an, sujud tilawah menjadi jeda yang sarat makna. Ia mengingatkan bahwa hubungan dengan Allah tidak hanya terletak pada bacaan, tetapi juga pada ketundukan hati.
Meski hukumnya sunnah, sujud tilawah memiliki nilai yang besar dalam membentuk kesadaran spiritual.
Ia mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: ketika Allah memerintahkan untuk bersujud, maka seorang hamba tidak menunda.
Pada akhirnya, sujud tilawah bukan hanya tentang satu gerakan, tetapi tentang kesiapan hati untuk selalu tunduk, kapan pun dan di mana pun.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang