KOMPAS.com – Setelah gema takbir Idul Adha mereda, umat Islam masih berada dalam rangkaian hari-hari istimewa yang dikenal sebagai Hari Tasyrik.
Meski kerap luput dari perhatian, fase ini memiliki makna spiritual yang kuat sekaligus aturan syariat yang tegas, termasuk larangan berpuasa.
Hari Tasyrik bukan sekadar perpanjangan hari raya, tetapi momentum untuk merayakan nikmat Allah SWT dengan cara yang khas dalam ajaran Islam, seperti makan, berbagi, dan memperbanyak dzikir. Lantas, apa sebenarnya Hari Tasyrik, kapan waktunya, dan bagaimana hukum puasa di dalamnya?
Baca juga: Kapan Lebaran Haji 2026? Ini Jadwal Idul Adha Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Secara etimologis, kata “tasyrik” berasal dari bahasa Arab syarraqa–yusyarriku yang berarti “menjemur sesuatu di bawah sinar matahari”.
Pada masa Rasulullah SAW, istilah ini merujuk pada kebiasaan menjemur daging kurban agar lebih awet.
Namun dalam perspektif syariat, Hari Tasyrik memiliki makna yang lebih luas. Dalam buku Rahasia Dahsyat Energi Sapu Jagat karya M. Ghofur Khalil, dijelaskan bahwa Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha yang diperuntukkan bagi umat Islam untuk menikmati rezeki dari Allah sekaligus memperbanyak dzikir sebagai bentuk syukur.
Penjelasan ini sejalan dengan praktik para sahabat Nabi yang menjadikan Hari Tasyrik sebagai waktu untuk memperkuat dimensi sosial (berbagi makanan) dan spiritual (mengingat Allah).
Hari Tasyrik berlangsung selama tiga hari berturut-turut setelah Idul Adha, tepatnya pada:
Ketiga hari ini menjadi bagian dari rangkaian ibadah haji, khususnya bagi jamaah yang melaksanakan lempar jumrah di Mina.
Namun bagi umat Islam secara umum, Hari Tasyrik tetap memiliki nilai ibadah yang dianjurkan untuk dihidupkan.
Dalam kitab Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Wahbah az-Zuhaili, disebutkan bahwa Hari Tasyrik termasuk hari yang dimuliakan (ayyam ma’dudat) sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 203), yang dianjurkan untuk diisi dengan dzikir.
Baca juga: Lebaran Haji 2026 Bulan Apa? Ini Jadwal Lengkap Idul Adha, Libur, dan Tanggal Pentingnya
Salah satu ketentuan paling penting terkait Hari Tasyrik adalah larangan berpuasa. Hal ini ditegaskan dalam sejumlah hadis sahih.
Rasulullah SAW bersabda:
“Hari-hari Tasyrik adalah hari makan dan minum.” (HR Muslim)
Dalam riwayat lain dari sahabat Nubaisyah Al-Hudzali disebutkan:
“Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” (HR Muslim)
Larangan ini bersifat umum bagi seluruh umat Islam, kecuali dalam kondisi tertentu seperti bagi jamaah haji yang tidak mendapatkan hewan kurban (hadyu), sebagaimana dijelaskan dalam literatur fikih klasik.
Dalam buku Puasa Wajib dan Sunah karya Zainul Arifin, dijelaskan bahwa hikmah larangan puasa di Hari Tasyrik adalah untuk menegaskan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan pengendalian diri, tetapi juga keseimbangan dalam menikmati nikmat Allah secara wajar.
Larangan berpuasa pada Hari Tasyrik bukan tanpa alasan. Ada dimensi filosofis dan spiritual yang melatarbelakanginya:
Hari Tasyrik masih termasuk suasana Idul Adha, sehingga umat Islam dianjurkan untuk merayakan dengan makan dan minum, bukan menahan diri.
Mengonsumsi daging kurban bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga simbol penerimaan terhadap rezeki yang diberikan Allah.
Dalam Islam, ibadah tidak selalu identik dengan menahan diri. Ada saatnya umat diperintahkan untuk menikmati nikmat sebagai bagian dari ibadah itu sendiri.
Pemikiran ini juga sejalan dengan pandangan Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, yang menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek spiritual dan jasmani dalam beragama.
Baca juga: Kapan Puasa 2026 Tiba? Jadwal Lengkap Ramadhan hingga Idul Adha
Meski tidak diperbolehkan berpuasa, Hari Tasyrik tetap dipenuhi dengan berbagai amalan yang bernilai ibadah tinggi.
Umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil, terutama setelah salat fardhu. Tradisi ini dikenal sebagai takbir tasyriq.
Hari Tasyrik menjadi waktu terakhir penyembelihan hewan kurban. Distribusi daging kepada yang membutuhkan menjadi bagian penting dari ibadah sosial.
Momentum ini juga dimanfaatkan untuk berbagi makanan dan memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Dalam kitab Lathaif al-Ma’arif, Ibn Rajab al-Hanbali menyebut Hari Tasyrik sebagai hari makan yang disertai dzikir, bukan sekadar perayaan tanpa makna, melainkan bentuk ibadah yang menyatu antara jasmani dan ruhani.
Hari Tasyrik mengajarkan satu hal penting: bahwa ibadah tidak selalu identik dengan menahan, tetapi juga dengan menikmati secara sadar dan penuh syukur.
Di tengah kehidupan yang sering menuntut pengorbanan, Islam menghadirkan momen di mana makan, minum, dan berbagi justru menjadi bagian dari ketaatan.
Memahami Hari Tasyrik secara utuh membantu umat Islam menjalankan ajaran agama dengan lebih seimbang, tidak hanya fokus pada ritual, tetapi juga pada makna di baliknya.
Karena pada akhirnya, setiap momen dalam Islam, termasuk Hari Tasyrik adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara yang paling manusiawi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang