Editor
KOMPAS.com-Ramadhan boleh berlalu, tetapi peluang pahala tidak ikut berakhir.
Puasa Syawal menjadi amalan yang dianjurkan untuk menjaga semangat ibadah setelah bulan suci.
Ibadah ini bahkan disebut memiliki pahala setara dengan puasa setahun penuh.
Baca juga: Kapan Puasa Syawal Dimulai? Ini Waktu Terbaik, Hukum, dan Tips Maksimalkan Pahala
Keutamaan puasa Syawal ini menjadikannya sebagai kesempatan besar yang sayang untuk dilewatkan.
Semangat ibadah yang terbentuk selama Ramadhan tidak seharusnya berhenti saat Idul Fitri tiba.
Kenikmatan beribadah di bulan suci merupakan anugerah besar dari Allah SWT, terutama puasa yang memiliki kedudukan istimewa.
Salah satu cara menjaga momentum tersebut adalah dengan melanjutkan puasa enam hari di bulan Syawal.
Dilansir dari laman Kemenag, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya, “Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun” (HR Muslim).
Keutamaan puasa Syawal ini kemudian dijelaskan lebih rinci oleh para ulama.
Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain menerangkan bahwa puasa enam hari di bulan Syawal memiliki nilai pahala yang sangat besar, bahkan setara dengan puasa setahun penuh.
( و ) الرابع صوم ( ستة من شوال ) لحديث من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر ولقوله أيضا صيام رمضان بعشرة أشهر وصيام ستة أيام بشهرين فذلك صيام السنة أي كصيامها فرضا وتحصل السنة بصومها متفرقة منفصلة عن يوم العيد لكن تتابعها واتصالها بيوم العيد أفضل وتفوت بفوات شوال ويسن قضاؤها
Artinya, “Keempat adalah (puasa sunah enam hari di bulan Syawal) berdasarkan hadits, ‘Siapa yang berpuasa Ramadhan, lalu mengiringinya dengan enam hari puasa di bulan Syawal, ia seakan puasa setahun penuh.’ Hadits lain mengatakan, puasa sebulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Semua itu seakan setara dengan puasa (wajib) setahun penuh. Keutamaan sunnah puasa Syawal sudah diraih dengan memuasakannya secara terpisah dari hari Idul Fitri. Hanya saja memuasakannya secara berturut-turut lebih utama. Keutamaan sunnah puasa Syawal luput seiring berakhirnya bulan Syawal. Tetapi dianjurkan mengqadhanya.”
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa waktu puasa Syawal sebenarnya cukup fleksibel.
Baca juga: Niat Puasa Syawal Digabung Senin Kamis, Bolehkah? Ini Hukum dan Caranya
Waktu yang paling utama adalah enam hari berturut-turut setelah Idul Fitri, yakni mulai 2 hingga 7 Syawal.
Puasa Syawal tidak harus dilakukan secara berurutan.
Puasa ini tetap sah dan mendapatkan keutamaan meskipun dilakukan secara terpisah selama masih berada di bulan Syawal.
Keluasan ini menunjukkan kemudahan dalam ajaran Islam yang tidak memberatkan umatnya.
Keutamaan puasa Syawal juga dapat diraih oleh mereka yang menjalankan puasa qadha atau puasa nadzar di bulan Syawal.
Hal ini dijelaskan oleh Syekh Ibrahim Al-Baijuri:
وإن لم يصم رمضان كما نبه عليه بعض المتأخرين والظاهر كما قاله بعضهم حصول السنة بصومها عن قضاء أو نذر
Artinya, “Puasa Syawal tetap dianjurkan meskipun seseorang tidak berpuasa Ramadhan-seperti diingatkan sebagian ulama muta’akhirin-. Tetapi yang jelas-seperti dikatakan sebagian ulama-seseorang mendapat keutamaan sunah puasa Syawal dengan cara melakukan puasa qadha atau puasa nadzar (di bulan Syawal).”
Sejumlah ulama bahkan menjelaskan bahwa keutamaan ini juga bisa diperoleh melalui puasa sunnah lain yang dilakukan di bulan Syawal.
Puasa Senin-Kamis, puasa Ayyamul Bidh, atau puasa Nabi Daud tetap dapat menghadirkan keutamaan puasa Syawal.
ومما يتكرر بتكرر السنة (ستة من شوال) وإن لم يعلم بها أو نفاها أو صامها عن نذر أو نفل آخر أو قضاء عن رمضان أو غيره. نعم لو صام شوالا قضاء عن رمضان وقصد تأخيرها عنه لم يحصل معه فيصومها من القعدة
Artinya, “Salah satu puasa tahunan adalah (puasa enam hari di bulan Syawal) sekalipun orang itu tidak mengetahuinya, menapikannya, atau melakukan puasa nadzar, puasa sunah lainnya, puasa qadha Ramadhan atau lainnya (di bulan Syawal). Tetapi, kalau ia melakukan puasa Ramadhan di bulan Syawal dan ia sengaja menunda enam hari puasa hingga Syawal berlalu, maka ia tidak mendapat keutamaan sunah Syawal sehingga ia berpuasa sunah Syawal pada Dzul Qa‘dah.”
Penjelasan ini menegaskan bahwa puasa Syawal bukan hanya soal waktu, tetapi juga soal menjaga kesinambungan ibadah.
Puasa ini menjadi jembatan antara Ramadan dan kehidupan setelahnya.
Adapun tata cara puasa Syawal sama seperti puasa pada umumnya.
Seorang Muslim menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Niat puasa Syawal dibaca pada malam hari sebelum fajar:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ
Artinya, “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah ta’ala.”
Karena termasuk puasa sunnah, seseorang yang lupa berniat pada malam hari masih diperbolehkan berniat pada siang hari:
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatisy Syawwâli lillâhi ta‘âlâ
Artinya, “Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah ta’ala.”
Puasa Syawal pada akhirnya bukan sekadar tambahan ibadah.
Puasa ini menjadi tanda bahwa seorang Muslim mampu menjaga semangat Ramadan dalam kehidupan sehari-hari.
Momentum Syawal menjadi kesempatan untuk terus melangkah lebih dekat kepada Allah SWT dengan ibadah yang konsisten.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang