KOMPAS.com – Dalam ajaran Islam, mengenal Allah SWT tidak hanya melalui sifat-sifat kesempurnaan (sifat wajib), tetapi juga dengan memahami apa yang mustahil bagi-Nya.
Dua konsep ini tidak bisa dipisahkan, karena saling melengkapi dalam membangun pemahaman tauhid yang utuh.
Jika Allah memiliki 20 sifat wajib, maka para ulama tauhid juga menetapkan adanya 20 sifat mustahil bagi Allah SWT.
Sifat-sifat ini merupakan kebalikan dari sifat wajib, yang secara logika dan akidah tidak mungkin ada pada Dzat Allah Yang Maha Sempurna.
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan sifat mustahil bagi Allah? Mengapa penting untuk memahaminya?
Dalam disiplin ilmu tauhid, sifat mustahil adalah sifat yang secara akal dan syariat tidak mungkin dimiliki oleh Allah SWT.
Dalam kitab Tijan Ad-Darari, istilah “muhal” dijelaskan sebagai sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Artinya, sifat ini bukan sekadar tidak ada, tetapi memang mustahil ada pada Allah.
Sementara itu, dalam kitab Syarah al-Aqidah at-Tahawiyah, para ulama menegaskan bahwa memahami sifat mustahil merupakan bagian dari menjaga kemurnian akidah agar tidak menyerupakan Allah dengan makhluk.
Dengan memahami sifat mustahil, seorang Muslim tidak hanya mengetahui siapa Allah, tetapi juga memahami apa yang tidak mungkin bagi-Nya.
Baca juga: 4 Cara Menghilangkan Sifat Riya Menurut Imam Al-Ghazali agar Ibadah Tetap Ikhlas
Sifat mustahil pada dasarnya adalah kebalikan dari sifat wajib.
Misalnya:
Dalam buku Aqidah Islam karya Hasan Al-Banna, dijelaskan bahwa memahami pasangan sifat ini membantu manusia berpikir secara logis dalam mengenal Tuhan, sekaligus menghindari kesalahan dalam berkeyakinan.
Berikut 20 sifat mustahil bagi Allah beserta arti dan maknanya:
Mustahil Allah tidak ada. Keberadaan alam semesta menjadi bukti adanya Sang Pencipta.
Mustahil Allah bersifat baru atau diciptakan, karena Ia Maha Dahulu.
Mustahil Allah akan rusak atau binasa. Allah bersifat kekal.
Allah tidak menyerupai makhluk dalam bentuk maupun sifat.
Mustahil Allah membutuhkan tempat atau bergantung pada sesuatu.
Mustahil Allah lebih dari satu. Ia Maha Esa.
Allah tidak mungkin lemah, karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Mustahil Allah bertindak karena terpaksa. Semua terjadi atas kehendak-Nya.
Allah Maha Mengetahui, sehingga mustahil bersifat tidak tahu.
Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.
Baca juga: Hasad dalam Islam: Penyebab, Dampak, dan Cara Menghindari Sifat Dengki
Mustahil Allah tidak mendengar. Ia Maha Mendengar.
Allah Maha Melihat, tidak mungkin buta.
Allah berfirman melalui wahyu, maka mustahil bisu.
Selain itu, terdapat sifat mustahil yang merupakan penegasan dari sifat sebelumnya:
Mustahil Allah dalam keadaan lemah.
Mustahil Allah berada dalam kondisi terpaksa.
Mustahil Allah dalam keadaan tidak mengetahui.
Mustahil Allah dalam keadaan mati.
Mustahil Allah dalam keadaan tidak mendengar.
Mustahil Allah dalam keadaan tidak melihat.
Mustahil Allah dalam keadaan tidak berfirman.
Para ulama tidak hanya menjelaskan sifat mustahil secara tekstual, tetapi juga dengan pendekatan rasional.
Dalam buku Ilmu Tauhid karya Muhammad Abduh, dijelaskan bahwa akal manusia dapat memahami keberadaan Tuhan melalui keteraturan alam.
Jika Allah memiliki sifat lemah, tidak tahu atau mati, maka alam semesta tidak akan berjalan dengan sempurna.
Al-Qur’an juga menegaskan:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Ayat ini menjadi dasar bahwa segala kekurangan mustahil bagi Allah.
Baca juga: 4 Sifat Wajib Bagi Nabi dan Rasul yang Wajib Diteladani Umat Islam
Memahami sifat mustahil bukan sekadar pelajaran teori, tetapi memiliki dampak besar dalam kehidupan spiritual.
Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa mengenal Allah dengan benar akan melahirkan rasa takut, harap, dan cinta yang seimbang kepada-Nya.
Sering kali, sifat wajib dan mustahil hanya dihafal tanpa dipahami maknanya. Padahal, setiap sifat mengandung pesan mendalam.
Misalnya, memahami bahwa Allah tidak mungkin lupa atau tidak tahu, akan membuat seseorang lebih berhati-hati dalam bertindak.
Menyadari bahwa Allah tidak pernah lemah akan menumbuhkan rasa tawakal yang kuat. Di sinilah tauhid tidak lagi menjadi konsep, tetapi menjadi cara hidup.
Di era modern yang penuh distraksi, pemahaman tentang sifat Allah menjadi sangat penting. Banyak persoalan hidup yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan logika dan materi.
Dengan memahami sifat wajib dan mustahil, seorang Muslim memiliki pegangan yang kokoh. Ia tahu kepada siapa harus berharap dan kepada siapa harus kembali.
Karena pada akhirnya, mengenal Allah bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi tentang hubungan yang menghadirkan ketenangan dalam setiap langkah kehidupan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang