KOMPAS.com – Sejarah Islam di Indonesia sering kali ditulis dengan menonjolkan peran tokoh laki-laki.
Namun di balik itu, ada jejak panjang perempuan-perempuan tangguh yang turut membentuk arah pendidikan, dakwah, hingga perjuangan kemerdekaan bangsa.
Mereka hadir bukan sekadar sebagai pelengkap sejarah, tetapi sebagai aktor utama yang menggerakkan perubahan.
Dari medan perang hingga ruang kelas, dari istana hingga pesantren, kiprah mereka menjadi bukti bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam peradaban Islam Nusantara.
Berikut ini sejumlah tokoh perempuan Muslim Indonesia yang tidak hanya inspiratif, tetapi juga relevan untuk diteladani hingga hari ini dikutip dari berbagai sumber.
Baca juga: Jarang Disorot, 5 Ilmuwan Perempuan Muslim Pionir Sains Dunia
Dalam kajian sejarah Islam, peran perempuan tidak dapat dipisahkan dari perkembangan sosial dan keagamaan.
Dalam buku Women in Indonesian Islam karya Nina Nurmila, dijelaskan bahwa perempuan Muslim di Indonesia sejak lama terlibat aktif dalam pendidikan, gerakan sosial, hingga politik.
Hal ini menunjukkan bahwa ruang kontribusi perempuan dalam Islam tidak pernah benar-benar tertutup, melainkan sering kali kurang terdokumentasikan secara luas.
Nama ini tak bisa dilepaskan dari perlawanan rakyat Aceh terhadap kolonialisme. Setelah suaminya gugur, ia melanjutkan perjuangan dengan memimpin perang gerilya melawan Belanda.
Dalam buku Pahlawan Nasional dari Aceh karya M. Hasan Basry, disebutkan bahwa Cut Nyak Dhien bukan hanya simbol keberanian, tetapi juga keteguhan iman. Ia tetap berjuang meski dalam kondisi fisik yang melemah.
Perjuangan Cut Nyak Meutia dikenal melalui taktik gerilya yang efektif. Bersama suaminya, ia memimpin perlawanan dari hutan-hutan Aceh.
Dalam literatur sejarah lokal Aceh, ia digambarkan sebagai sosok yang tidak hanya berani, tetapi juga memiliki kecerdasan strategi militer yang mumpuni.
Sebagai orator ulung, Rasuna Said dikenal lantang menyuarakan hak perempuan, terutama dalam pendidikan.
Dalam buku Perempuan dan Politik di Indonesia karya Siti Musdah Mulia, Rasuna Said disebut sebagai pelopor perempuan Muslim yang berani masuk ke ranah politik di masa kolonial.
Nama Laksamana Malahayati menjadi bukti bahwa perempuan juga memiliki peran dalam dunia militer.
Ia memimpin pasukan Inong Balee dan tercatat dalam sejarah sebagai panglima angkatan laut perempuan pertama di dunia.
Dalam catatan sejarah Kesultanan Aceh, keberhasilannya mengalahkan armada Belanda menjadi tonggak penting.
Sebagai pendiri Diniyah Putri, Rahmah El Yunusiyah membuka akses pendidikan Islam bagi perempuan.
Dalam buku Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia karya Haidar Putra Daulay, disebutkan bahwa konsep pendidikan yang ia bangun bahkan menginspirasi Universitas Al-Azhar di Mesir.
Baca juga: 5 Muslimah Hebat Zaman Nabi: Kisah Inspiratif dan Perannya
Tokoh ini mungkin tidak sepopuler lainnya, tetapi perannya signifikan. Opu Daeng Risaju aktif dalam Sarekat Islam dan menjadi penggerak perlawanan terhadap penjajah di Sulawesi Selatan.
Dalam buku Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia karya Sartono Kartodirdjo, peran tokoh lokal seperti Opu Daeng Risaju menjadi bagian penting dari gerakan nasional.
Sebagai putri Hasyim Asy'ari, Nyai Khairiyah Hasyim melanjutkan tradisi keilmuan pesantren.
Ia tidak hanya memimpin pesantren, tetapi juga mendirikan lembaga pendidikan perempuan. Dalam buku Tradisi Pesantren karya Zamakhsyari Dhofier, peran perempuan dalam pesantren disebut sebagai pilar penting pendidikan Islam.
Dikenal juga sebagai Nyai Ahmad Dahlan, Siti Walidah adalah pendiri organisasi perempuan Muhammadiyah, Aisyiyah.
Dalam buku Muhammadiyah: Gerakan Pembaruan Islam karya Ahmad Syafii Maarif, Aisyiyah disebut sebagai salah satu gerakan perempuan terbesar yang mendorong pendidikan dan kesehatan perempuan.
Sebagai penguasa Kesultanan Aceh, Sultanah Safiatuddin memimpin dengan stabilitas yang kuat.
Dalam buku Islamic Kingdoms in Southeast Asia karya Nicholas Tarling, masa pemerintahannya dianggap sebagai periode penting dalam perkembangan ilmu dan budaya Islam di Aceh.
Baca juga: 7 Keistimewaan Khadijah, Istri Pertama Nabi Muhammad SAW yang Berjuluk Ummul Mukminin
Kisah para tokoh ini memperlihatkan satu benang merah: perempuan dalam Islam bukan hanya objek sejarah, tetapi subjek yang aktif membentuk peradaban.
Dalam perspektif yang lebih luas, seperti dijelaskan dalam Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh ketakwaan dan kontribusinya.
Di tengah tantangan modern, keteladanan para tokoh ini menjadi relevan. Mereka menunjukkan bahwa pendidikan, keberanian, dan keimanan dapat berjalan beriringan.
Lebih dari sekadar kisah masa lalu, perjalanan mereka adalah cermin bagi generasi hari ini: bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari keberanian untuk melangkah, bahkan ketika jalan terasa sunyi.
Dan mungkin, di situlah letak inspirasi terbesarnya bahwa peran perempuan dalam Islam tidak pernah kecil, hanya kadang belum cukup diceritakan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang