Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Iran: Dari Kejayaan Persia hingga Ditaklukkan Islam di Nahavand

Kompas.com, 8 April 2026, 14:04 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Sejarah bangsa Iran tidak bisa dilepaskan dari jejak panjang peradaban Persia kuno yang pernah menjadi salah satu kekuatan besar dunia.

Dari dataran tinggi yang luas di Asia Barat, bangsa ini membangun identitasnya melalui bahasa, budaya, dan sistem kekuasaan yang kuat, jauh sebelum kedatangan Islam.

Namun perjalanan sejarah itu mencapai titik balik dramatis pada abad ke-7 Masehi, ketika kekuasaan Persia runtuh dalam sebuah pertempuran besar yang dikenal sebagai Perang Nahavand.

Dari sinilah, wajah Iran mulai berubah, tidak hanya secara politik, tetapi juga spiritual dan peradaban.

Baca juga: Profil Pulau Kharg: Lokasi, Sejarah, dan Alasan AS Mengincar Pusat Minyak Vital Iran

Jejak Awal: Persia Kuno dan Identitas Bangsa Iran

Wilayah yang kini dikenal sebagai Iran pada masa lampau disebut Persia, sebuah kawasan yang dihuni oleh berbagai kelompok etnis Indo-Iran.

Dalam kajian sejarah klasik, bangsa ini sering dikaitkan dengan migrasi suku Arya yang datang dari wilayah utara sekitar Laut Kaspia.

Menurut sejarawan Yunani kuno Herodotus, kelompok ini dikenal sebagai Ariya, yang kemudian menjadi akar dari istilah “Iran” itu sendiri, yang berarti “tanah bangsa Arya”.

Dalam buku Sejarah Majusi hingga Menjadi Negara Iran karya Nor Kandir, dijelaskan bahwa dalam tradisi historiografi Islam, seperti yang ditulis oleh Imam al-Tabari dalam Tarikh al-Rusul wal Muluk, bangsa Persia bahkan dikaitkan dengan garis keturunan Nabi Nuh AS melalui putranya, Yafits.

Meski bersifat genealogi religius, narasi ini menunjukkan bagaimana identitas bangsa Iran tidak hanya dibentuk oleh faktor geografis, tetapi juga oleh konstruksi sejarah dan kepercayaan.

Baca juga: Harta Rampasan Perang Khalid vs Hormuz: Fakta yang Jarang Dibahas

Dari Kekaisaran Besar ke Pusat Peradaban

Bangsa Persia mencapai puncak kejayaannya pada masa Dinasti Akhemeniyah yang dipimpin oleh tokoh besar seperti Darius I.

Pada masa ini, Persia menjadi salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia, membentang dari Asia Barat hingga sebagian Eropa dan Afrika.

Dalam berbagai prasasti kuno, Darius menyebut dirinya sebagai “Arya dari keturunan Arya”, yang menunjukkan kebanggaan identitas etnis sekaligus legitimasi politik.

Setelah runtuhnya Akhemeniyah akibat ekspansi Alexander the Great, wilayah Persia mengalami berbagai perubahan kekuasaan, mulai dari Seleukia hingga Parthia, sebelum akhirnya bangkit kembali di bawah Kekaisaran Sassanid.

Pada masa Sassanid, Persia kembali menjadi kekuatan besar yang menyaingi Romawi Timur. Sistem administrasi, militer, dan kebudayaan berkembang pesat, menjadikan Persia sebagai pusat peradaban yang berpengaruh di kawasan Asia Barat.

Struktur Sosial dan Budaya Pra-Islam

Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Persia memiliki struktur sosial yang kompleks. Dalam buku Tarikh al-Muslimin wa Hadharatuhum fi Asia Wustha wa Bilad Qawqaz karya Muhammad Abdul Azhim Abu An-Nashr, disebutkan bahwa wilayah Asia Tengah didominasi oleh berbagai kelompok etnis, termasuk Persia, Turki, dan Mongol.

Kota-kota seperti Bukhara menjadi pusat penting yang mencerminkan interaksi budaya dan perdagangan lintas wilayah. Bahkan sebelum Islam, kawasan ini sudah menjadi simpul peradaban yang dinamis.

Dalam aspek keagamaan, masyarakat Persia banyak menganut ajaran Zoroastrianisme, sebuah kepercayaan kuno yang menekankan dualisme antara kebaikan dan kejahatan.

Hal ini turut membentuk karakter spiritual masyarakat Persia sebelum transformasi besar yang datang kemudian.

Baca juga: Bertemu Dubes Iran, MUI Ungkap Iran Akan Permudah Kapal RI Lewati Selat Hormuz

Titik Balik Sejarah: Runtuhnya Sassanid

Perubahan besar dalam sejarah Iran terjadi pada abad ke-7 M, ketika pasukan Muslim Arab mulai melakukan ekspansi ke wilayah Persia.

Puncaknya terjadi dalam Perang Nahavand sekitar tahun 642 M. Dalam buku Sejarah Penaklukan-Penaklukan Muslim yang Mengubah Wajah Dunia karya Yulian Harsono, dijelaskan bahwa pertempuran ini menjadi titik penentu runtuhnya Kekaisaran Sassanid.

Pasukan Muslim yang dipimpin oleh Nu'man bin Muqarrin menghadapi pasukan Persia yang dipimpin oleh Firuzan.

Meski jumlah pasukan Persia jauh lebih besar, strategi militer yang cermat berhasil membalikkan keadaan.

Taktik mundur semu yang digunakan pasukan Muslim memancing pasukan Persia keluar dari pertahanan mereka, sebelum akhirnya disergap di medan yang tidak menguntungkan.

Pertempuran ini berakhir dengan kekalahan telak Persia. Bahkan, peristiwa ini dijuluki sebagai “Kemenangan di Atas Kemenangan” karena dampaknya yang sangat besar.

Runtuhnya Kekaisaran dan Awal Islamisasi

Setelah kekalahan di Nahavand, kekuasaan Kekaisaran Sassanid praktis runtuh. Kaisar terakhir, Yazdegerd III, melarikan diri ke wilayah timur sebelum akhirnya terbunuh.

Runtuhnya kekaisaran ini membuka jalan bagi proses islamisasi di wilayah Persia. Namun proses ini tidak terjadi secara instan.

Dalam banyak kajian sejarah, islamisasi berlangsung secara bertahap melalui interaksi sosial, perdagangan, dan dakwah.

Dalam buku The Venture of Islam karya Marshall G.S. Hodgson, dijelaskan bahwa Persia justru memainkan peran penting dalam perkembangan peradaban Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, sastra, dan administrasi.

Baca juga: Asal Usul Hormuz hingga Duel Khalid bin Walid yang Mengubah Sejarah

Dari Persia ke Iran: Transformasi Peradaban

Masuknya Islam tidak menghapus identitas Persia, tetapi justru berbaur dan melahirkan peradaban baru yang unik. Bahasa Persia tetap berkembang, bahkan menjadi salah satu bahasa penting dalam dunia Islam.

Tokoh-tokoh besar seperti Al-Ghazali dan Omar Khayyam lahir dari tradisi intelektual yang kuat di wilayah ini.

Transformasi dari Persia kuno menjadi Iran modern menunjukkan bahwa sejarah bukan sekadar pergantian kekuasaan, tetapi juga proses panjang pembentukan identitas.

Warisan Sejarah yang Terus Hidup

Hari ini, Iran dikenal sebagai negara dengan warisan sejarah yang sangat kaya. Dari reruntuhan kota kuno hingga tradisi budaya yang masih hidup, jejak Persia tetap terasa kuat.

Namun di balik itu semua, terdapat satu pelajaran penting: bahwa peradaban besar tidak pernah berdiri diam. Ia terus bergerak, berubah, dan beradaptasi dengan zaman.

Dari suku Arya yang bermigrasi, kejayaan kekaisaran, hingga masuknya Islam, sejarah bangsa Iran adalah kisah panjang tentang identitas, kekuasaan, dan transformasi.

Dan dari medan Perang Nahavand, dunia menyaksikan bagaimana satu peradaban berakhir, sekaligus membuka babak baru dalam sejarah umat manusia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Tak Cukup Zikir, Ini Cara Islam Menjaga Kesehatan Mental
Aktual
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Rabu Wekasan 2026, Benarkah Hari Sial? Ini Penjelasan dan 4 Doa yang Bisa Dibaca
Doa dan Niat
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
MTQ Nasional 2026 Digelar September, Ini Daftar 162 Dewan Hakim dan Pengawas
Aktual
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
PUI: Jangan Jadikan Ayat Al-Qur’an Bahan Olok-olok untuk Promosi Miras
Aktual
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Polemik Istiqlal Masuk Bursa: Menguak Fakta Wakaf Saham Syariah
Aktual
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Bikin Lomba Agustusan Pakai Uang Pendaftaran? Begini Hukumnya
Aktual
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Legitimasi Historis Tokoh Partai di Pucuk Pimpinan PBNU
Aktual
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Cegah Kekerasan Seksual, Kemenag Wajibkan CCTV hingga Cabut Izin Pesantren Nakal
Aktual
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar