Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Khutbah Jumat 17 April 2026: Pentingnya Istiqamah Setelah Ramadhan, Jangan Hanya Rajin Sesaat

Kompas.com, 17 April 2026, 06:43 WIB
Add on Google
Khairina

Editor

Sumber MUI

KOMPAS.com-Teks khutbah Jumat dari Dr KH Ahmad Suja’i Mughni, MM, Ketua 2 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang ini membahas pentingnya menjaga istiqamah dalam beribadah setelah bulan Ramadhan.

Melalui dalil Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan ulama, khutbah ini mengajak umat Islam untuk terus mempertahankan kualitas iman dan amal dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Khutbah Jumat 17 April 2026: Mengawali Segala Sesuatu dengan Bismillah

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ, اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ:(فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, atas berkat rahmat-Nya, inayah-Nya, karunia-Nya, kita dikumpulkan bersama pada hari yang mulia ini, di rumah-Nya yang mulia ini untuk melaksanakan ibadah shalat Jumat.

Mudah-mudahan shalat Jumat kita dan apa pun ibadah yang kita lakukan selama ini terutama di bulan Ramadhan kemarin diterima oleh Allah SWT. Dan mudah-mudahan semua ibadah itu dapat meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Amin.

Baca juga: Khutbah Jumat 3 April 2026: Sering Dianggap Biasa, Ternyata April Mop Bisa Jadi Dosa dalam Islam

Hadirin Jamaah Shalat Jumat yang Berbahagia,

Ramadhan telah meninggalkan kita. Bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka telah berlalu. Namun, ada pertanyaan penting yang patut direnungkan bagi kita semua: Apakah ibadah Ramadhan selama ini hanya sebagai rutinitas tahunan, ataukah ia benar-benar melahirkan perubahan dalam diri kita?

Sesungguhnya ukuran keberhasilan Ramadhan bukan terletak pada berakhirnya puasa, tetapi pada istiqamahnya amal setelah Ramadhan. Orang yang sukses menjalani Ramadhan adalah mereka yang tetap menjaga nilai-nilai ketaatan meskipun bulan suci telah pergi.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Artinya: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99)

Ibadah tidak dibatasi oleh waktu, ibadah tidak hanya di bulan Ramadhan saja, tetapi tetapi berlangsung sepanjang hayat kita.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim)

Inilah prinsip amaliah terbaik pasca Ramadhan, yaitu amal yang istiqamah. Lebih baik sedikit namun terus dilakukan, daripada banyak tetapi terputus.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Di antara tanda diterimanya amal Ramadhan adalah tetap terjaganya ketaatan setelah bulan suci berlalu.

Para ulama menjelaskan, siapa yang bersungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan lalu kembali meninggalkan ketaatan setelahnya, maka ia termasuk orang yang merugi.

Sebaliknya, orang yang mampu menjaga amal walaupun Ramadhan telah pergi, dialah hamba yang mendapatkan keberuntungan.

Salah seorang ulama besar, Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, mengatakan bahwa sesungguhnya amal yang paling berat bagi jiwa adalah istiqamah.

Istiqamah memang tidak mudah. Ia menuntut kesabaran, keikhlasan, dan komitmen yang kuat. Namun, justru di situlah letak nilai ibadah seorang hamba. Allah tidak menilai besarnya amal semata, tetapi kesinambungan dan ketulusan di dalamnya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Beberapa amaliah utama yang perlu kita jaga setelah Ramadhan antara lain:

Pertama, menjaga shalat wajib dan sunnah. Menjaga shalat wajib dan sunnah adalah wujud kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Shalat wajib menjadi tiang utama yang tidak boleh ditinggalkan, sementara shalat sunnah menjadi pelengkap yang menyempurnakan dan memperindah ibadah. Dalam setiap rakaat, hati dilatih untuk tunduk, pikiran diarahkan pada kebaikan, dan jiwa dipenuhi ketenangan.

Baca juga: Khutbah Jumat Hari Ini: Manasik Haji dan Sederet Hikmahnya

Ketika shalat dijaga dengan konsisten, ia bukan hanya menjadi kewajiban, tetapi juga kebutuhan. Shalat menjadi tempat kembali, menguatkan iman, dan menenangkan hati di tengah kesibukan dunia.

Jika di bulan Ramadhan kita terbiasa shalat tepat waktu, shalat malam, dan memperbanyak sujud, maka jangan biarkan kebiasaan itu hilang. Shalat adalah tiang agama dan ukuran utama keimanan seseorang.

Kedua, melanjutkan interaksi dengan Alquran. Interaksi dengan Alquran bukan sekadar membaca teks suci, melainkan sebuah perjalanan batin yang menghubungkan manusia dengan petunjuk Ilahi.

Setiap ayat yang dilantunkan menghadirkan ketenangan, membuka ruang refleksi, dan mengarahkan hati untuk memahami makna kehidupan.

Melalui tilawah, tadabbur, dan pengamalan, Alquran menjadi sahabat yang menuntun langkah. Bukan hanya saat lapang, tetapi juga ketika menghadapi kesulitan.

Dalam interaksi yang konsisten, Alquran perlahan membentuk karakter, menumbuhkan keimanan, dan menghadirkan cahaya dalam setiap aspek kehidupan.

Ramadhan menjadikan kita dekat dengan Alquran. Maka setelah Ramadhan, jangan sampai Alquran hanya tersimpan di lemari. Bacalah, pahami, dan amalkan meski hanya beberapa ayat setiap hari.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Ketiga, puasa sunnah Syawal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan puasa enam hari di bulan Syawal sebagai tanda kesinambungan ibadah setelah Ramadhan.

Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian menyusulinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang masa.” (HR Muslim)

Melanjutkan ibadah Ramadhan dengan puasa sunnah di bulan Syawal merupakan bentuk kesungguhan dalam menjaga semangat ketaatan. Setelah sebulan penuh melatih kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri, puasa Syawal hadir sebagai penyempurna yang menguatkan nilai-nilai tersebut.

Ibadah ini bukan sekadar tambahan, melainkan wujud cinta kepada Allah dan upaya mempertahankan kedekatan spiritual yang telah dibangun selama Ramadhan.

Dengan melanjutkan puasa, seorang muslim menunjukkan bahwa kebaikan tidak berhenti pada satu bulan saja, tetapi terus hidup dan tumbuh dalam keseharian.

Keempat, istiqamah dalam ketaatan. Amaliah terbaik pasca Ramadhan adalah menjaga konsistensi atau istiqamah.

Allah SWT berfirman dalam surat Hud ayat 112:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersamamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Istiqamah dalam ketaatan adalah tentang menjaga langkah tetap lurus di jalan yang diridhai Allah, meski godaan dan rintangan silih berganti. Ia bukan tentang melakukan hal besar sesekali, tetapi tentang konsistensi dalam amal-amal kecil yang terus dijaga.

Dalam setiap doa, ibadah, dan perbuatan baik, istiqamah melatih hati untuk tetap teguh, tidak mudah goyah oleh keadaan. Dengan istiqamah, ketaatan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu perlahan membentuk pribadi yang kuat, sabar, serta penuh harap akan rahmat-Nya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kelima, menjaga shalat malam dan tilawah. Jika di malam Ramadhan kita terbiasa dengan shalat Tarawih dan tadarus, maka pasca Ramadhan, amaliah terbaik adalah menjaga shalat Tahajjud meski hanya dua rakaat, serta tetap menjadwalkan tilawah Alquran setiap hari.

Al-Imam Bisyr al-Hafi rahimahullah pernah ditanya tentang orang-orang yang hanya rajin beribadah di bulan Ramadhan saja. Lalu beliau memberikan nasihat yang sangat mendalam:

بِئْسَ الْقَوْمُ قَوْمٌ لَا يَعْرِفُونَ اللَّهَ إِلَّا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَيَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا

“Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang saleh itu adalah mereka yang beribadah dan bersungguh-sungguh di sepanjang tahun.”

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Oleh karena itu, marilah kita menjaga amaliah pasca Ramadhan dengan memperbanyak dzikir, melanggengkan sedekah, serta memperbaiki hubungan sosial di tengah masyarakat.

Ramadhan telah mendidik kita untuk menahan amarah, menumbuhkan empati, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Nilai-nilai luhur inilah yang harus terus kita hidupkan sepanjang tahun.

Jangan sampai masjid hanya ramai di bulan Ramadhan, namun kembali sepi setelahnya. Jangan pula Alquran hanya sering dibaca di bulan Ramadhan, lalu ditinggalkan pada bulan-bulan berikutnya.

Inilah ujian keimanan kita yang sesungguhnya: apakah ibadah kita bersifat musiman, atau menjadi karakter hidup seorang mukmin.

Semoga Allah Ta‘ala memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap istiqamah dalam ketaatan, menjaga amal-amal saleh meskipun Ramadhan telah berlalu, dan menjadikan bulan Ramadhan sebagai titik awal perubahan hidup menuju ridha Allah.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Terakhir, mari kita berkomitmen menasihati diri kita sendiri: jangan jadikan Ramadhan sebagai akhir ibadah, tetapi jadikan ia sebagai awal perubahan hidup menuju ketaatan yang berkelanjutan.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Hukum Mandi Keramas Sebelum Sholat Idul Adha, Wajib atau Sunnah?
Hukum Mandi Keramas Sebelum Sholat Idul Adha, Wajib atau Sunnah?
Aktual
Teks Khutbah Jumat 17 April 2026: 5 Golongan yang Harus Dijauhi Menjelang Akhir Zaman
Teks Khutbah Jumat 17 April 2026: 5 Golongan yang Harus Dijauhi Menjelang Akhir Zaman
Aktual
Doa Akhir Bulan Syawal dan Amalan Sunnah Penutup Penuh Berkah
Doa Akhir Bulan Syawal dan Amalan Sunnah Penutup Penuh Berkah
Doa dan Niat
Wamenhaj Dahnil Ingatkan Petugas Haji Tidak Pamer di Tanah Suci
Wamenhaj Dahnil Ingatkan Petugas Haji Tidak Pamer di Tanah Suci
Aktual
Wamenhaj: PPIH Ujung Tombak Haji 2026, Kesiapan Mental Jadi Kunci Sukses Layanan Jemaah
Wamenhaj: PPIH Ujung Tombak Haji 2026, Kesiapan Mental Jadi Kunci Sukses Layanan Jemaah
Aktual
Wamenhaj Ingatkan PPIH Jelang Haji 2026: Ini Bukan Sekadar Tugas, tapi Misi Suci
Wamenhaj Ingatkan PPIH Jelang Haji 2026: Ini Bukan Sekadar Tugas, tapi Misi Suci
Aktual
Tidak Mendengar Khutbah Jumat, Apakah Shalat Tetap Sah? Ini Kata Ulama
Tidak Mendengar Khutbah Jumat, Apakah Shalat Tetap Sah? Ini Kata Ulama
Aktual
Idul Adha 2026 Diprediksi 27 Mei, Ada Peluang Libur Panjang 5 Hari
Idul Adha 2026 Diprediksi 27 Mei, Ada Peluang Libur Panjang 5 Hari
Aktual
Benarkah Harus Puasa Sebelum Shalat Idul Adha? Ini Hukum dan Dalilnya
Benarkah Harus Puasa Sebelum Shalat Idul Adha? Ini Hukum dan Dalilnya
Aktual
Kapan Idul Adha 2026? Ini Prediksi, Hitung Mundur, dan Jadwal Liburnya
Kapan Idul Adha 2026? Ini Prediksi, Hitung Mundur, dan Jadwal Liburnya
Aktual
Dari Banyuwangi untuk Dunia: Puisi “Rubaiyat Hormuz” Suarakan Luka Kemanusiaan Timur Tengah
Dari Banyuwangi untuk Dunia: Puisi “Rubaiyat Hormuz” Suarakan Luka Kemanusiaan Timur Tengah
Aktual
Rincian Lengkap 525 Kloter Haji 2026: Ini Pembagian Wilayah Jemaah dari Seluruh Indonesia
Rincian Lengkap 525 Kloter Haji 2026: Ini Pembagian Wilayah Jemaah dari Seluruh Indonesia
Aktual
Bolehkah Shalat Sunnah Saat Khutbah Jumat Berlangsung? Ini Penjelasan dan Hukumnya
Bolehkah Shalat Sunnah Saat Khutbah Jumat Berlangsung? Ini Penjelasan dan Hukumnya
Doa dan Niat
Khutbah Jumat Hari Ini: Keutamaan Berbakti Kepada Ibu dalam Islam
Khutbah Jumat Hari Ini: Keutamaan Berbakti Kepada Ibu dalam Islam
Aktual
Khutbah Jumat Hari Ini: Mengenal Apa Itu Haji Mabrur dan Ciri-cirinya
Khutbah Jumat Hari Ini: Mengenal Apa Itu Haji Mabrur dan Ciri-cirinya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com